Di Pucuk Dieng 70 Ha Wasabi Terhampar

Puncak Dieng, Jawa Tengah, pada tengah hari cukup menggigilkan ketika suhu bertengger pada angka 15°C. Di antara wilayah yang pucat pasi karena berselimut kabut terdapat pemandangan menakjubkan: hamparan wasabi seluas 70 hektar. Sayuran khas Jepang yang dibudidayakan besar-besaran oleh PT Yuasa Agro itu dinaungi jaring hitam. Ke mana pun pandangan diarahkan yang tampak hanya wasabi.

Wasabi yang hijau segar itu tumbuh di kesenyapan Desa Sidareja, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, berketinggian 1.800 m dpl. Itulah spesies Wasabia japonica. Kerabatnya, Wasabia tenuis jarang dibudidayakan. Dari pucuk pegunungan itu PT Yuasa Agro rutin mengekspor 40 ton pasta wasabi per hari ke Jepang. Yuasa menyebutnya jahe jepang.

Boleh jadi lantaran keduanya antara jahe dan wasabi sama-sama memberi rasa hangat dan pedas Agar kontinuitas ekspor terjaga, perusahaan itu menanam 0,3 ha per hari. Malahan beberapa tahun lalu, Yuasa Agro mengelola 100 ha lahan wasabi di Banjarnegara. Kini lahan menyusut, hanya 70 ha. Penyusutan itu lantaran untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Lahan yang semula ditanami wasabi dikembalikan kepada masyarakat setempat untuk pembudidayaan beragam komoditas seperti kentang dan okra. Setelah kondisi kesuburan pulih, lahan itu ditanami wasabi kembali.

Wasabi Impor

Di negeri aslinya, Jepang, lahan penanaman wasabi hampir tak dapat ditemui. Itulah sebabnya negeri Matahari Terbit mengimpornya dari Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Indonesia. Hasil pelacakan Budidaya Tani, Dieng, satu-satunya sentra penanaman wasabi di Indonesia. Masyarakat setempat menyebutnya ginseng. Tak jelas asal-usul nama tanaman obat itu disematkan.

Yang jelas sosok wasabi dan ginseng amat berbeda. Bentuk daun wasabi membulat seperti daun talas, berdiameter 80 sampai 250 cm. Batang daun tegak sepanjang 30 sampai 50 cm. Sedangkan bentuk daun ginseng, menjari. Bahkan, sejumlah pekerja yang menggarap lahan PT Yuasa Agro tak mengetahui manfaat tanaman itu. Mereka hanya mafhum umbi dan daun tanaman setinggi 45 cm itu beraroma pedas menusuk.

Menurut mantan karyawan PT Yuasa Agro Indonesia, wasabi yang dibudidayakan di Indonesia mempunyai tingkat kemanisan tinggi. Sebab, musim kering lebih panjang. Di negara-negara 4 musim, wasabi tidak dapat tumbuh pada musim dingin. Kerabat kubis itu menghendaki suhu 6 sampai 17°C dan kelembapan 85 sampai 90%. Agar kondisi ideal itu tercapai, PT Yuasa Agro memasang jaring 50 sampai 60% di atas lahan wasabi.

Jaring juga berfungsi memecah tetesanairhujan. Wasabia japonica cocok dibudidayakan di tanah ber-pH 6 sampai 7. Sayuran itu pas ditanam di tanah grumusol, andosol, dan organosol. Di negara tropis seperti Indonesia jenis tanah itu terdapat di pegunungan atau dataran berketinggian 1.500 sampai 2.300 m di atas permukaan laut seperti Dieng.

Umbi Wasabi Yang Sempurna

Agar tumbuh sempurna, pupuk daun disemprotkan setiap 6 bulan Berikan pupuk mengandung belerang untuk meningkatkan rasa pedas. Panen perdana 6 bulan setelah tanam. Tentu saja yang dituai baru tangkai daun, daun, dan bunga. Panen berikutnya setiap 2 bulan. Umbi dipanen pada umur 9 bulan.Jumlah umbi pada setiap rumpun maksimal dua buah. Namun, kadang-kadang terdapat 3 umbi seukuran kelingking. Panjang umbi 5 sampai 12 cm dan berbobot 4 sampai 120 gram.

Pada saat tertentu bunga juga dipetik. Bunga berwarna cokelat dimanfaatkan sebagai benih. Wasabi juga diperbanyak dengan anakan dari batang utama. Saat panen terakhir, dilakukan seleksi anakan dari setiap rumpun untuk musim tanam berikutnya. Dari 1 ha lahan dituai 3 ton umbi, 1 ton batang, 0,5 ton daun, dan 0,1 ton umbi lateral. Itu dicapai saat penanaman pada musim hujan. Pada kemarau produksi umbi 2,1 ton segar, 60 kg umbi lateral, 350 kg daun, dan 6,3 ton batang.

Umbi hasil panen disimpan selama 30 hari agar rasanya konstan. Di tempat penyimpanan umbi dibungkus tisu dan dicuci seminggu sekali dengan air dingin. Setiap pekan bagian kedua ujung umbi yang menghitam dipotong. Sayang PT Yuasa Agro tak bersedia menginformasikan proses pengolahan.

Umbi paling sering digunakan sebagai bahan sambal khas Jepang. Dalam masakan tradisional, wasabi disajikan dalam bentuk parutan dengan arah memutar, lalu dipukul-pukul dengan punggung pisau. Tujuannya agar rasa lebih kuat. Parutan itu dibiarkan selama 5 sampai 10 menit dalam suhu ruangan agar cita rasa hangat muncul, kemudian dicampur kecap atau air acar. Batang segar wasabi digunakan sebagai lalapan pada menu sasimi, irisan ikan mentah yang ditemani semangkuk rebusan mi.

Tumbuhan Asing

Wasabi juga dimanfaatkan sebagai pencampur bubuk lobak eropa dan mustard. Faedah lain diolah sebagai pasta atau bubuk wasabi. Batang dan daun tanaman anggota famili Cruciferae itu diasamkan dalam sake atau kecap. Hasilnya pas sebagai teman menyantap nasi putih. Daun dan batang yang dikeringkan cocok sebagai bumbu keju, pasta salad, dan kerupuk.

Di Indonesia wasabi masih asing, meski dikembangkan sejak 10 tahun lampau. Olahan wasabi memang hanya populer di kalangan konsumen masakan jepang. Harganya tak pernah surut dari Rp 50.000 per 50 gram. Bagi kita, wasabi ibarat cabai yang memberi sensasi rasa dalam beragam masakan. Tanpa cabai pada umumnya masakan terasa hambar.

Dengan tambahan wasabi, tubuh jadi hangat. Sayang, senja itu perjalanan Budidaya Tani ke Puncak Dieng yang amat dingin tanpa menu wasabi. Itulah sebabnya ketika menuruni punggung pegunungan setinggi 1.800 m dpl yang berbalut kabut Budidaya Tani mendekap diri untuk mengusir dingin itu.

Wasabi Mempunyai Khasiat obat

Dieng, sentra wasabi

Wasabi digemari masyarakat Jepang bukan hanya karena rasa hangat isotiosianat sebagai antikanker dibuktikan oleh Fuke Y dan Ono H pada 1994. Mereka menguji beberapa tikus pengidap kanker. Setelah disuntikkan isotiosianat, penyebaran kanker seperti kanker paru, payudara, hati, ginjal,pankreas, usus, dan prostat dapat dicegah Kesimpulan mereka, wasabi sebagai makanan tambahan mampu melindungi tubuh dari zat karsinogen.

Itu sebabnya Organisasi Kanker Amerika Serikat menganjurkan untuk mengkonsumsi sambal wasabi secara teratur. Isotiosianat wasabi terbukti menghalau asma seperti hasil riset Dorsch. European Journal Pharmacology, melansir isotiosianat pada wasabi menghambat pembengkakan penyebab kelebihan produksi prostaglandins dan thromboxanes.

Wasabi juga penghambat sinus, hidung tersumbat, penyakit otot, dan radang sendi. Penelitian khasiat wasabi semakin berkembang. Masuda pada 2000 menemukan wasabi menjadi bahan pemberi senyuman lebar.

Sebab, tanaman itu mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi dan gusi di mulut.

Khasiat Wasabia japonica sebetulnya tersingkap sejak ratusan tahun lampau. Sukahito Fukae, sinse Jepang, pada 918 pertama kali menemukan wasabi sebagai obat. Hal itu termaktub dalam ensiklopedi kedokteran Honzo-wamyo yang berumur sama.

Lantas, pada 1596 sampai 1615 wasabi ditanam besar-besaran di Provinsi Shizuoka, Jepang. Tentu saja hanya dimakan oleh penguasa Shogun Lieyasu Tokugawa. Semenjak itu, hidangan wasabi berkembang di kalangan atas Jepang dan bertahan hingga kini.