Dicari Terung Jepang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Pasokan kurang
Pasokan kurang karena target produksi tak tercapai

T Handaru Inti Tulodo salah satu pemain baru yang terjun di bisnis terung jepang olahan. Perusahaan yang berlokasi di Semarang ini setiap bulan harus menanam 20 ha terung jepang untuk memenuhi kontraknya. Ini bukan pekerjaan mudah, sehingga tak jarang bahan baku olahan sulit didapat.

Bagi masyarakat Jepang, terung merupakan sayuran yang harus ada. Karena itu tak heran bila Bob Sadino mengatakan, pasar terung jepang berbatas langit.

Data Jetro menunjukkan, Indonesia hanya memasok 208.820 kg terung jepang olahan pada 1998. Sementara kebutuhan Jepang sendiri mencapai 9.222.585 kg. Pasar terbesar dikuasai Cina, hampir 97%, atau 8.930.910 kg. Selebihnya disumbang oleh Hongkong 14.040 kg dan Thailand 68.815 kg.

Jatah Indonesia tampak kecil. Namun, Bob Sadino tidak peduli dengan angka-angka global tersebut. Ia yakin, permintaan pasar bisa melonjak, lalu turun drastis.

Kalah bersaing

“Indonesia memang hanya second target,” ungkap Yansen Winata SE. dari Kasho, Perwakilan Dagang Jepang di Indonesia. Para pembeli di Jepang cenderung memilih Cina karena perbedaan harga. Dari Indonesia berkisar US$ 1,4 sampai US$ 1,6/kg; Cina lebih murah, US$30 sen/kg. Karena itu Indonesia hanya mendapat kesempatan memasok kala Cina tidak berproduksi. Lamanya sepanjang musim dingin, 4 bulan, Desember sampai Maret.

“Kita sepanjang tahun bisa mengirim minimal 10 kali. Waktunya April hingga November. Desember justru dihentikan karena mereka mempersiapkan tahun baru,” papar Ir Nursalim, marketing PT Mitratani Dua Tujuh. Perusahaan berlokasi di Jember, Jawa Timur ini sejak 1996 menjadi eksportir terung jepang olahan, selain edamame. Melalui pembeli yang ada di Indonesia, pada 1996 mereka mengirim 57,7 ton. Sayang pada 1997 hanya terkirim 10 ton.

“Permintaan kadang-kadang mendadak. Bulan itu minta, bulan itu pula harus dikirim. Padahal, bila ada tenggang waktu, satu bulan misalnya, kita bisa kejar,” tambah Nursalim. Penggudangan bukan jalan keluar. Sebab, ada biaya tambahan perawatan, sewa gudang, risiko rusak, dan lain-lain. Walau ketahanan terung jepang yang sudah diolah bisa sampai 3 bulan.

Mitratani Dua Tujuh biasanya mendapat order secara kontrak. Di akhir tahun, Oktober atau November ditandatangani kesepakatan pengiriman untuk tahun berikut. Kontrak berlaku 6 bulan hingga satu tahun. Dengan kontrak ini hampir tidak ada kendala fluktuasi harga. Tingkat harga tergantung kurs dolar terhadap rupiah. Selama 1998, dari 97 ton produk yang terkirim diperoleh nilai penjualan US$ 194, atau US$2/kg; untuk order 1999 sebanyak 127 ton, bernilai US$l,4-l,85/kg (CNF).

Persaingan pasar yang Ketat

pabrik pengolahan
Semakin banyak pabrik pengolahan, membuka kesempatan petani

Lantas, berupa total ekspor kita? Dua dari tiga perwakilan pembeli yang dihubungi Budidayatani menyebutkan, total ekspor paling tidak 1.200 ton per tahun. Ketiga buyer tersebut ialah Kasho, Itochu, dan Live Food. Kasho sebagaimana diinformasikan Yansen, setiap tahun bisa menyerap 700 ton terung olahan beku. Itochu lebih rendah, rata-rata 500 ton/tahun terung berbagai olahan.

“Hanya sebagian kecil yang bisa kita pasok ke Jepang. Negara-negara pemasok banyak. Tidak Cina semata yang menjadi pesaing, melainkan ada Thailand, Vietnam, dan Filipina,” kata Eddy Sitepu dari Itochu. “Bahkan di musim normal, pekebun di Jepang menanamnya,” lanjut Eddy. Walau begitu, Eddy yakin, Jepang akan lebih tertarik ke Indonesia bila pertanaman terung jepang memasyarakat.

Yansen dan Eddy tak menyanggah saat dikatakan volume ekspor terung jauh lebih besar daripada yang tercatat. Dari minimal 6 pabrik pengolahan, tidak semua diekspor melalui perwakilan pembeli di Indonesia. Ada yang mempunyai akses langsung, misal Kem Farms, Murakabi, Handaru Inti Tulodo, dan Tunas Prospekta. Volume ekspor Kem Farms diduga paling besar. Maklum dari PT Randhutatah Cemerlang saja, setiap bulan di-drop 2 sampai 3 kontainer isi 25 sampai 30 ton/kontainer.

Kasho hanya menangani beberapa pabrik, walau hampir semua menawarkan. “Mitratani lebih diutamakan,” Yansen terus terang. Pabrik pengolahannya dianggap memenuhi standar. Alat penggorengan sudah otomatis. Alat berharga US$54.000 atau kira-kira Rp432-juta/ unit itu satu-satunya di Indonesia. Pabrik pengolahan lain masih menggunakan penggorengan manual.

Penggorengan memang tahap paling riskan. Berkat alat tersebut, risiko kegagalan bisa ditekan. “Jepang orangnya rewel, gosong dikit aja tidak mau,” Asmat, Kepala Bagian Prosesing di Mitratani menandaskan. Masalah kebersihan dan kesehatan betul-betul harus dijaga. Ada semut atau selembar rambut dalam kemasan, pasti diprotes. Jika seperti itu, mau tidak mau semua harus dimusnahkan.

Jaringan pemasaran yang Tidak luas

Sebagai pembeli, Kasho dan Itochu jelas hanya membeli terung jepang dari pengolah. Namun, dengan munculnya pabrik-pabrik pengolahan, kesempatan mengusahakan terung jepang sangat terbuka. Perhitungan menunjukkan, bila ekspor terung olahan Indonesia 1.500 ton/tahun, diperlukan areal penanaman sekitar 100 ha. Dengan asumsi; penanaman 2 kali setahun dengan hasil produksi 40 ton/ha, afkir 10%, dan rendemen prosesing 21%.

Rendemen prosesing 21% dihitung dari kumulatif persentase terung terpakai setelah dirajang. Ditambah penyusutan sewaktu digoreng dan afkir finishing. Dari 100% terung segar lolos seleksi, dihasilkan 55% potongan siap goreng. Bobotnya berkurang 60% karena kehilangan air saat digoreng. Kemudian pengafkiran sebelum dibekukan, atau pascapenggorengan besarnya 5%.

Jika luas kebutuhan dikonversikan dengan lahan, areal penanamannya tampak tidak spektakuler. Kenyataannya, pabrik-pabrik pengolahan banyak yang menjerit. PT Tunas Prospekta meminta terung grade C Djati Eko Wibowo SE, pekebun di Balabak Magelang. Heru Prasetyo, pekebun di Citeureup Bogor yang memasok ke Kem Farm, dianjurkan memperluas areal tanamnya.

Yang juga tidak pernah kesulitan menjual hasilnya ialah Hans Hidayat. Pekebun 6 ha terung jepang di Sukabumi ini mendapat permintaan dari Kem Farm untuk memasok 15 ton/hari. Lelaki yang telah menggeluti terung selama 3 tahun itu hanya menyanggupi sekitar 5 ton/hari.

Kebutuhan Kem Farm cukup besar, “Kalau hanya 500 ton/ bulan sih ‘lewat’. Pekebun-pekebun di sekitar sini memasok ke Kem Farms juga,” jelas Hans. Kem Farms yang ada di Semarang juga kekurangan pasokan sekitar 15 ton/hari.

Kekurangan pasokan terjadi lantaran produksi relatif rendah. Heru Prasetyo hanya bisa memanen setengahnya dari target 40 ton/ha. Dari jumlah itu, kurang dari 50% yang lolos seleki untuk diolah. Serangan thrips dan layu bakteri penyebabnya.

Penyebab kegagalan lain ialah hujan. Karena hujan berkepanjangan Mitratani gagal menanam 60 ha pada 1999. Yang terealisir sekitar 35 ha. “Terung jepang tidak tahan air, sehingga tanaman banyak yang mati. Kita paling bisa petik 2 sampai 5 ton/hari,” ujar Yudi, penanggungjawab lapangan.

Tingkatan Kualitas

Pabrik-pabrik pengolahan sebagian besar mendapat pasokan dari petani binaan. Belum banyak petani lepas yang sanggup memasok karena alasan kualitas. “Tanpa dibina, pekebun sulit menghasilkan terung berkualitas baik. Benihnya aja kita suplai karena tak ada di pasaran,” lanjut Yudi ketika ditemui Budidayatani.

Pabrik menginginkan terung jepang jenis moneymaker dengan spesifikasi grade A sampai C. Kriteria grade A antara lain panjang 10-12, lurus, diameter 4,5 sampai 5 cm, dan bobot 90 sampai 150 g. Kulit buah harus hitam mengkilap, tanda masih muda, serta cacat kulit kurang dari 10%. Grade B sama seperti A,- hanya saja cacat kulit bisa sampai 25% dan bobot di atas 150 g atau di bawah 90 g. Sedangkan yang masuk grade C tingkat cacat kulit bisa di atas 25%, tapi tidak boleh lebih dari 50%.

Perbedaan kualitas berpengaruh terhadap nilai jual. Kem Farm bisa menerima kualitas A dengan harga Rp1.600,00, B Rp1.100,00, dan C Rp700,00 per kilogram. Ini harga di tempat penampungan. Harga dari pabrik pengolahan lain tidak terpaut jauh. Perbedaan harga biasanya karena kualitas atau fasilitas yang diberikan pihak inti. Seperti yang diterima Hans, harga untuk grade A Rp1.800,00, B Rp1.200,00, dan C Rp600,00/kg.

serapan pasar lokal masih Terbatas

Pasar ekspor terung jepang memang masih terbuka. Marginnya pun lumayan . Namun, serapan di pasar lokal sedikit.

Di sini pasarnya terbatas hotel berbintang, restoran, dan pasar swalayan. Volume penjualan sedikit. Misal, hotel Shangri-La hanya butuh 8 kg/hari. Jumlah ini jauh lebih kecil bila dibandingkan mentimun jepang yang mencapai 20 kg. Begitu juga pasar swalayan Hero, rata-rata setiap outlet kurang dari 10 kg/hari. Bahkan outlet yang ada di Bogor hanya butuh 3 kg terung jepang.

Lebih-lebih di pasar tradisional, orang belum mengenalnya. “Karena item, orang malah berdiri bulu kuduknya. Padahal jika dicoba, terung jepang lebih manis dan empuk.” papar Ny. Turangan. Ibu yang menanam di Citeureup, Bogor itu hasil produksinya dijual ke Kem Farms.

Sebenarnya sejak 1970-an pekebun di Cianjur sudah menanam terung jepang, tapi tak kunjung berkembang. Pada waktu itu pasar ekspor belum ada. Baru pada 1990 Bob Sadino dengan Kem Farms-nya berhasil menembus pasar Jepang. Sekarang pabrik-pabrik pengolahan sudah tersedia menampung produksi Anda. Bahkan Anda mungkin bisa langsung mencoba mengekspornya seperti niat Djati Eko Wibowo SE. Kesempatan Indonesia memasok lebih besar cukup terbuka mengingat pertanaman di Thailand hancur.