Budidaya Tani
ikan koi

Dobrak Pasar Ikan Hias Tanah Air

Hajatan Indonesia International Ornamental Fish and Accessories Expo 2020 alias Indofish 2020 pada akhir Agustus membawa berkah bagi Anton Saksono. Di sana ia menangguk omzet besar. Tak melulu eksportir seperti Anton Saksono yang mendapat order di Indofish 2020. Sunaryo yang bermain di pasar domestik pun mendulang laba.

Usai ekshibisi 3 pedagang dari Bandung dan Bogor menyambangi farmnya di Cilincing, Jakarta Utara. Mereka memborong kamfa hasil tangkaran Sunaryo seperti red monkey, taitong red synspillum, dan african tiger. Nilainya boleh jadi tak terlalu besar, Rp3-juta, tetapi, “Ke depan mereka akan mengambil rutin ke sini,” katanya. Sunaryo masih menunggu kunjungan pembeli dari Singapura dan Malaysia.

Dr Sumpeno Putro MBA, ketua Indofish 2020 menuturkan, selama ekshibisi digelar terjadi transaksi minimal Rp600-juta. Itu mematahkan pesimisme sebagian orang yang meruap menjelang penyelenggaraan pameran. Maklum, saat itu sebuah bom dahsyat melumat Hotel JW Mariott, di Kuningan, Jakarta Selatan. Dampaknya beberapa peserta dari mancanegara membatalkan kehadirannya.

Pasar gemuk

Dari ajang Indofish 2020 kian menderaplah bisnis ikan hias. Saat ini bisnis ikan hias memang tengah mencorong. Itulah fakta yang diungkapkan oleh para pelaku bisnis komoditas yang memanjakan indera penglihatan. Dari perniagaan ikan hias Anton Saksono meraup omzet USS 10.000 sepekan. Artinya, terjadi lonjakan hampir seratus persen ketimbang pendapatan yang ditangguk tahun lalu yang “cuma” USS5.000.

CV Lovina Laras yang dikomandoinya rutin mengekspor ikan hias ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Australia. Separuh dari volume ekspor terserap negeri Paman Sam. Lovina Laras rata-rata mengirimkan 3 sampai 4 kali seminggu masing-masing 25 sampai 30 boks. Agar kontinuitas pasokan terjaga ia menjalin kemitraan dengan 40 plasma di Jakarta dan sekitarnya

Pengakuan lain diungkapkan Hendra Iwan Putra. Bos Harlequin Fish itu sebetulnya kewalahan memenuhi order yang terus mengalir dari berbagai negara. Untuk Hongkong saja, sekali pengiriman mencapai 42.000 sampai 62.000 ekor per jenis. Padahal yang diminta relatif banyak antara lain red nose, neon tetra, dan blue palmeri. “Shipment ke Hongkong 2 kali sebulan,” ujar Hendra kepada Budidaya Tani usai pembukaan Indofish 2020.

Selain Hongkong, tercatat 10 negara di Eropa seperti Belanda, Finlandia, dan Inggris yang rutin dipasok. Rata-rata pengiriman ke setiap negara 1 sampai 2 boks dengan frekuensi 2 kali sebulan. Setiap boks terdiri atas 800 ekor ukuran L M. Pantas jika markas Harlequin di Bambuapus, Jakarta Timur, tak pernah senyap. Begitu banyak volume, jenis, dan pasar ekspor yang dibidik menjadikan dolar mengalir deras ke pundi-pundi perusahaan itu.

Kurang pasokan

Yang juga meraup untung di bisnis ikan hias adalah Jap Khiat Bun. Pemilik CV Maju Aquarium itu hampir 2 windu menggeluti ikan hias. Setidaknya 200jenis ikan hias rutin diekspor ke Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Perancis. Cina hanya menyerap 10 jenis. Yang banyak diminati hobiis mancanegara antara lain black ghost, black phantom, kongo, neon tetra, palmeri, palmas, dan rainbow. Mereka memang seperti ikan wajib bagi eksportir. Volume ekspor berkisar 30.000 sampai 50.000 ekor per bulan untuk setiap jenis.

Permintaaan Korea relatif kecil ketimbang negara lain. Negeri Ginseng itu rata-rata hanya menyerap 5.000 ekor per bulan per jenis. Menurut pria kelahiran 24 April 1952 itu banyak permintaan yang belum terlayani. Palmas endliceri, salah satunya. “Saya tak bisa mengatakan total permintaan. Ada langsung diminta semua.. Ia paling laku seperti emas,” kata Khiat Bun. Di pasaran internasional harga palmas endliceri 1 sampai 2 inci mencapai Rp 175.000. Khiat Bun hanya mampu mengekspor ratusan ekor per bulan ke Jepang.

Permintaan terhadap redtail catfish Phractocchephalus himioliopterus hingga ratusan ribu ekor per bulan juga gagal dipenuhi. “Barangnya tidak ada,” katanya. I Untuk mengatasi masalah itu ia mendatangkan induk dari Jepang. Di tingkat peternak harga ikan 2 inci mencapai Rp40.000; di pasaran dunia,I US$6.

Ragam lain yang diminati adalah sepati kuning Mono dachtiles. Ikan endemik i Aceh itu diminati banyak hobiis di Mancanegara. Di pasaran internasional tavga ikan berukuran 2 inci US$7. Saban sedan eksportir di Cibinong, Bogor, itu Mengirimkan 10.000 ekor. Permintaannya sebetulnya mencapai 2 kali lipat. Sayang, memperoleh pasokan.

Nun di Tanjungpura, Kalimantan Barat, sejak 1981 PT Wajok Intilestari (UT) yang dikenal sebagai pemain papan sas arwana rutin mengekspor botia ke Belanda, Malaysia, dan Singapura. Rata-tata volume ekspor mencapai 12-juta ekor per tahun. Namun, 2 tahun terakhir, semakin sulit memperoleh pasokan akibat rgkungan rusak.

Dampaknya volume ekspor melorot kanya 2-juta ekor per tahun. Volume sama diekspor Maju Aquarium. Celakanya hingga saat ini botia belum dapat ditangkarkan. Jadi, pasokan sepenuhnya mengandalkan kemurahan alam.

Lokal ramai

Peluang pasar ekspor itu akhirnya juga dinikmati oleh para peternak seperti Rudy Wahyudin. “Pangsa pasarnya bagus sekali, berapa pun diterima. No limited,” ujar peternak di Bandung, la antara lain memasok frontosa ke eksportir di Jakarta. Volume pasokan hanya 10.000 ekor per bulan. Padahal permintaan tak terbatas? Jika ia tak segera menambah produksi semata-mata sulit mendapat indukan.

Alumnus Universitas Bandung Raya itu mengembangkan setidaknya 7 jenis ikan hias seperti aligator, botia india, dan lemon siklid. Selain itu ia juga membina peternak plasma lantaran pasokan untuk eksportir masih kurang. Harga dan pasar tak menjadi kendala bagi ayah 1 anak itu. Harga jual aligator, misalnya, Rp6.000 per ekor berukuran 12 cm. Biaya produksi ttntuk menghasilkan seekor aligator Rp4.000.

Hal serupa juga dialami Ahmad Fauzi, peternak di Citayam, Kotamadya Depok. Anak ke-4 dari 7 bersaudara itu membudidayakan 7 jenis ikan hias seperti black phantom, red phantom, dan neon tetra. Rata-rata produksi per jenis 20.000 ekor per bulan. Itu pun banyak permintaan eksportir di Jakarta yang belum terlayani. Untuk jenis tertentu permintaan mencapai 2 kali lipat.

Guppy yang tengah naik daun di dalam negeri juga diminati hobiis mancanegara. Ir Gunawan, peternak di Pejompongan, Jakarta Pusat, kebanjiran order. Seorang eksportir memesan masing-masing 1.000 ekor untuk 4 jenis yang ditangkarkan Gunawan. Sarjana Teknik Sipil itu mengembangkan guppy jenis dragon head, halfback-black, neon, dan red blondy. Tiga eksportir lain yang berharap memperoleh pasokan dengan kuantitas serupa harus antre.

ikan tetra
Tetra banyak diminta eksportir

Selain memasok eksportir alumnus Institut Sains dan Teknologi Nasional itu juga mengisi pasar lokal. Pasokan untuk pasar domestik 200 sampai 300 ekor per jenis setiap bulan dengan harga Rp2600 sampai Rp5.000. Di luar itu ia masih memasarkan jenis eksklusif yang biasanya pendatang baru. Meski volumenya kecil, 20 sampai 25 pasang per bulan, nilainya cukup tinggi, mencapai Rp600.000 sampai Rp1,8-juta per pasang.

Serapan tinggi

Di Surabaya guppy juga diminati. Tonny Berthiolios menyediakan 5 jenis seperti batik, tricolor, dan black. Tonny mendatangkan dari peternak di Jakarta 1.000 sampai 2.000 ekor per bulan. Jumlah itu langsung ludes diserbu hobiis. Akuarium di ruang pamernya sempat kosong lantaran pasokan kurang. “Kalau hanya 500 ekor saya tak mau mengambil karena bakal habis diambil oleh 2 pembeli,” kata Tonny.

Geliat bisnis ikan hias juga menerpa diskus. Setahun silam ikan cakram itu seperti ditinggalkan hobiis. Namun, kini perlahan mulai diminati lagi. “Di Malaysia dan Singapura diskus juga kian digemari sejak 4 bulan terakhir. Biasanya bakal menjalar ke Indonesia,” kata Djudj u Anthony, penangkar diskus. Ia mampu menjual 50 sampai 100 ekor pelbagai ukuran per bulan. Dari jumlah itu 70% merupakan leopard snake.

Tonny Berthiolios juga merasakan hal sama. Sekitar 200 diskus hasil ternakannya hafcis terserap pasar. “Pengalaman saya tak ada diskus yang tak laku. Kalau ada barang habis saja,” kata pengelola Amazone Aquarium di Dukuhkupang, Surabaya, itu. Ia menjual diskus 2 inci Rp25.000 sampai Rp30.000 per ekor. Untuk blue diamond yang menjadi favorit hobiis mencapai Rp55.000.

Pantauan Budidaya Tani di sentra penjualan ikan hias Jalan Barito, Jakarta Selatan, sangat ramai terutama pada akhir pekan. Yang diminati konsumen umumnya neon tetra dan lemon siklid. “Warna menjadi daya tarik utama,” ujar Ir Syahlendra, pengelola sebuah kios di sana. Alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu menjual 2.000 ekor neon tetra dan 500 ekor siklid per bulan. Harga masing-masing ikan berukuran L (2 inci) adalah Rp 1.000 dan Rp5.000.

Beberapa penangkar dan pengamat ikan hias yang dihubungi Budidaya Tani menuturkan, diskus, guppy, dan maskoki berpeluang menjadi ikan hias yang digemari hobiis lokal untuk waktu mendatanya.

Batu sandungan

Bisnis ikan hias bukannya tanpa batu sandungan. Hambatan yang kerap menghadang datang dari meja birokrasi. Itu sejatinya masalah klasik yang tak kunjung berakhir hingga detik ini. Bagi eksportir mengimpor induk salah satu jalan untuk meningkatkan mutu temakannya. Harap mafhum, 80% ikan hias yang diekspor dari Indonesia semula berasal dari mancanegara. Sayangnya, ketika mengurus surat izin dipersulit.

Menurut Jap Khiat Bun, izin impor itu mestinya dicabut, kecuali untuk jenis tertentu seperti piranha. Di beberapa negara Seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong surat izin impor tak diperlukan.

Bukan hanya impor yang dipersulit. Mengekspor ikan hias juga tak selamanya beijalan mulus, terutama bagi pemain baru. Itu pernah dialami Anton Saksono. Meski di pos sebelumnya boks sudah diperiksa, pengecekan itu kembali dilakukan di bandara. Akibatnya, seal kemasan rusak. Es batu yang diletakkan di dalam boks untuk menurunkan suhu pada kisaran 20 sampai 25°C pun lebih cepat mencair, sehingga temperatur meningkat.

ikan diskus
Diskus, kembali bergairah

Pemain ikan hias kawakan itu membandingkan dengan kemudahan yang diberikan pemerintah Singapura kepada para eksportir atau importir ikan hias. Bagi pelaku bisnis ikan hias tanah air, fasilitas seperti yang dinikmati rekannya di Singapura baru sebatas impian.

Aral lain berupa kondisi alam di negeri 4 musim yang jadi konsumen utama. Ketika musim panas tiba Mei Juni masyarakat di sana banyak melancong ketimbang berdiam di rumah. Ikan, mereka tinggalkan. Wajar jika volume ekspor pun melorot sampai 70%. Epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) juga memukul volume ekspor ke Cina hingga turun tajam 70%.

Di sektor hulu bukan tanpa masalah. Dua tahun lalu indukan-indukan seperti black ghost dan tetra mengapung di farm Niran, peternak di Depok, Jawa Barat, karena perubahan kualitas air. Kerugian total mencapai Rp17-juta.

Kendala yang acap dihadapi peternak kecil adalah modal. Untuk menghasilkan 15.000 ekor tetra, misalnya per bulan dibutuhkan 200 akuarium berukuran 1,5 m x 1 m x 0,3 m. Berarti, untuk akuarium saja, calon peternak membutuhkan Rp30-juta. Itu di luar sewa tempat dan pembelian indukan. Itulah sebabnya peternak seperti Ahmad Fauzi menunda penambahan akuarium, meski permintaan terus mengalir.

Semua hambatan itu memang bukan untuk dihindari, tetapi untuk dicari solusi. Bila semua aral terlampaui janji laba ada di balik bisnis ikan hias. Salah satu kiat untuk menjaga perniagaan itu adalah dengan berpromosi seperti penyelenggaraan Indofish 2020. Itulah sebabnya banyak pelaku bisnis ikan hias berharap promosi itu menjadi agenda rutin.

Ketika Ikan Hias Direntalkan

Rental tanaman hias untuk menghiasi ruang perkantoran sih biasa. Namun,jika ikan hias yang direntalkan, itu baru luar biasa. Itulah kreasi Ir Syahlendra, praktisi ikan hias di Jakarta Selatan. Sejak 2 tahun silam alumnus Instirut Pertanian Bogor itu menyewakan beberapa ikan hias di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), Jakarta Selatan.

Maka jadilah ruang rawat inap dan poliklinik anak berhias akuarium. Balai utama tak luput dari hiasan itu. Di sana ada akuarium 1,2 m x 0,75 m x 0,50 m yang dihuni oselaris dan catfish. Sedangkan ikan-ikan siklid dan maskoki bergerak ke sana ke mari di akuarium yang berdiri di poli anak-anak. Dengan melihat ikan-ikan itu boleh jadi anak-anak pasien lebih santai jika hendak disuntik, misalnya. Setidaknya mengurangi ketegangan.

“Akuarium dari dia (RSPP, red), ikan dan perawatan tanggung jawab saya,” tutur sarjana Perikanan itu. Perawatan antara lain berupa menguras dan mengganti air 2 pekan sekali. Sedangkan pemberian pakan setiap hari. Kebetulan ayah 2 anak itu mempunyai sebuah kios di sentra penjualan ikan hias Jalan Barito, Jakarta Selatan. Jarak kios ke RSPP paling 1,5 km.

Untuk 4 akuarium itu Lendra mendapat imbalan yang memadai. Biaya per bulana per akuarium sekitar Rp400.000. Agar pengunjung atau pasien tak bosan, tiap 4 sampai 6 bulan Lendra demikian ia biasa disapa mengganti jenis ikan. Tentu saja ia harus disetujui pihak RSPP. “Ide saya meletakkan akuarium di ruang VIP. Hotel, apotek, atau tempat publik lain juga potensial,” katanya. Dengan demikian pengunjung pun dimanjakan oleh panorama menawan. Siapa menyusul Syahlendra? (Sardhi Duryatmo)

Pandu Dwilaksono

Add comment