Budidaya Tani

Durian Spesial Penawaran Dari H Arif

Spanduk bertuliskan “Penawaran Spesial Haji Arif” itu terpampang besar-besar di tepi jalan dekat perbatasan Serang Pandeglang. Bukan sembarang omong, durian yang dijajakan kedai berdinding bambu itu memang nomor satu. “Kalau makan di sini pasti tidak akan kecewa,” kata H Moch Ajid, salah seorang putra H Arif. Terbukti si dempok, si trem, si gembok, si lodong, dan si hauk ludes tak bersisa.

Senja telah jatuh di Baros, Serang, kala Kami tiba di kedai H Arif. Udara siang yang cukup menyengat, kini berganti sejuk ditingkahi semilir angin. Di ufuk barat, matahari hampir tenggelam. Namun, bukannya sepi, jongko durian milik ayah 7 anak itu justru kian riuh oleh pembeli.

Setidaknya ada 5 mobil terparkir di dekat kedai. Agak terpisah, beberapa motor dengan helm menggantung di setang berbaris rapi. Kendaraan bermotor itu ditinggal para penumpangnya yang berjejalan di dalam saung bambu berukuran 3 m x 9 m itu. Kami pun ikut bergabung. Hm…enak

Suasana berubah riuh kala H Arif keluar dari “gudang penyimpanan” sembari menenteng sebutir durian. “Ini tanpa nama, tapi silakan coba rasanya,” tutur pria berkopiah putih itu. Dalam hitungan detik durian berdaging pucat itu hilang dari pandangan. Meski tak bernama, Durio zibethinus itu legit dan terasa lengket di lidah.

Puas melihat pelanggannya antusias, pria 75 tahun itu lantas mengeluarkan andalan-andalannya. Empat jenis durian dijejerkan di tengah-tengah meja. Sang juragan kadu (kadu = durian, bahasa Sunda, red) itu meminta kami mencicipi dari jenis paling kanan ke arah kiri. “Biar makin lama makin enak,” tuturnya.

Benar saja. Si trem durian paling kanan berdaging lembut, tebal dengan rasa legit, seperti menyantap cake. Warnanya kuning dan tidak benyek. Satu juring berisi 3 pongge yang lumayan tebal. Penampilan fisiknya pun menarik, duri besar-besar berwarna keemasan.

Di sebelahnya ada si dempok yang berbentuk seperti channee. Pongge yang gendut-gendut terlihat menumpuk di tiap juring. Warnanya benar-benar menarik: kuning cerah, kontras dengan duri yang hijau terang. Rasanya? Ehm…, seperti ada citarasa santan menyergap lidah.

Kuras dompet

H Arif
H Arif, hanya menjual durian spesial

Berikutnya giliran si gembok yang dicicipi. Begitu buah dibelah terlihat daging berwarna kuning yang kencang. Aroma harum pun menguar. Ada 2 sampai 3 pongge di dalam setiap juring. Begitu masuk ke mulut, rasa manis legit dari daging bertekstur halus langsung terasa. “Uenak tenan,” ujar Suci Puji Suryani, rekan Kami. Saking liketnya, daging buah seperti menempel di tenggorokan.

Lidah pun kian dimanjakan waktu si hauk disantap. Durian asal Kampung imayeng, Desa Kaducokro, Kecamatan

Baros, itu bercitarasa susu. Belum lagi saat si dompet disuguhkan. Sekali mencicipi, pasti ketagihan rasa durian berdaging kuning dan legit itu. “Pantas dinamai si dompet. Saking enaknya mesti merogoh dompet terus karena mau makan lagi,” seloroh JK Soetanto, pemilik perusahaan pertanian PT Bogatani yang mania durian itu.

Pantaslah dengan suguhan seperti itu kedai H Arif tak pernah sepi pengunjung. Pelanggannya dari pegawai biasa yang membonceng kendaraan umum hingga pejabat di kantor pemerintahan. “Pak Gubernur kemarin sempat memesan, tapi belum kebagian,” tutur Atmawijaya, putra H Arif. Maklum 100 sampai 200 buah per hari pasti ludes di kedai. Artis sekaliber pedangdut A Rafiq dan Masyur S pun kerap berkunjung.

Durian Si potret

Durian Si potret

Durian-durian istimewa di kedai yang mangkal di tepi jalan antara Serang Pandeglang sejak 1999 itu diseleksi dari ratusan pohon warisan di seputaran Baros. Namun menurut Aat sapaan Atmawijaya, ada 5 desa yang kesohor sebagai penghasil raja buah unggul: Kaducokro, Sukacai, Panyirapan, Tamansari, dan Curugagung.

Dari desa yang disebut pertama muncul si kandel tali yang sesuai namanya berdaging tebal (kandel = tebal, bahasa Sunda, red). Atau si mega dengan citarasa santan, si lodong yang seperti ditambahkan susu, dan si bolu wartawan sampai konon yang pertama kali makan seorang kulitinta nan memabukkan.

Yang paling istimewa justru kadu asal Sukacai. Si potret begitu namanya  tebal, luar biasa manis, dan tanpa biji. Pantas durian yang awalnya bernama si bujal itu merebut kampiun kontes durian di Jakarta pada 1972.

Kilatan blitz dari kamera para wartawan saat itu membuatnya bersalin nama menjadi si potret. Lantaran unggul, harganya pun selangit. Buah berbobot 3 sampai 5 kg dibandrol Rp250.000. Meski begitu, si potret tetap jadi rebutan. Sayang, umurnya tidak panjang. “Tahun ini pohonnya mati tersambar petir,” sambat Aat.

Toh, para mania durian tak perlu kecewa urung mencicipi si potret. Masih ada si onder yang manis, legit, dan lengket tanpa biji, si kokosoyan yang pahang alias pahit,atau si lodong yang juga tak kalah kelas.

Para mania tinggal menyebutkan rasa kegemaran atau harga sesuai budget di kantong. Kedai bambu sang juragan kadu siap menerima tamu selama 24 jam mulai November hingga Maret.

Pandu Dwilaksono