Budidaya Tani
Pasokan jahe

Ekspor Jahe Terbentur Musim

Dari berbagai jenis empon-empon, jahe gajah (Zingiber officinale) termasuk yang paling “ramai” diperdagangkan Rimpang tanaman rempah ini menjadi komoditas ekspor penting,lantaran dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Tidak hanya masyarakat Asia,utamanya Jepang dan Timur Tengah, orang Eropa juga butuh jahe.

Panen raya jahe hanya satu kali setahun, padahal ia dibutuhkan setiap hari. Alhasil peluang untuk memenuhi permintaan pasarnya sepanjang tahun terbuka lebar. Ekspor jahe segar Indonesia pada 1997, yang dikutip dari BPS berjumlah 31.830.350 kg, senilai US$15.016.835 (FOB). Sedangkan jahe olahan 2.733.058 kg (US$2.944.719). Tidak hanya untuk memenuhi permintaan eksportir, bibit jahe gajah juga menjadi mata dagangan di pasar lokal.

Harga jahe di pasaran

tanaman jahe
Harga setelah di pak meningkat

“Harga internasional jahe segar saat ini antara US$350 sampai US$500/ton,” terang Muhardi ketua Koperasi Pengusaha Jahe (KOPJA) di Tangerang yang dihubungi Budidayatani melalui telpon. Menurut data ekspor BPS 1997, harga jahe segar US$47 sen/kg, sedangkan pada 1999 harga ekspor (FOB) US$35 sen sampai US$50 sen/kg. Hal ini menunjukkan tidak adanya perubahan harga yang cukup berarti. Melemahnya kurs rupiah terhadap dolarlah yang menjadikan nilainya jadi tinggi.

Berdasarkan Jurnal Market Asia, beberapa negara Eropa menawarkan harga beli jahe yang cukup tinggi. Belanda misalnya, mematok US$ 1,31/ kg, Inggris menghargai US$1,35/kg. Harga jahe di pasaran lokal saat ini berkisar antara Rp900,00 sampai Rp1.500,00/ kg. “Tergantung ukurannya,” kata Muwardi yang “main” jahe sejak 1990. Kalau 80% bobotnya lebih dari 200 gram, ia berani beli dengan harga tertinggi. Setelah diproses sortir, pencucian dan pengepakan, harga jual ke eksportir Rp2.700,00/kg. Cukup besar selisih harga yang didapat, bila pasar Eropa bisa dirambah.

Bibit jahe gajah tak luput menjadi mata dagangan, terutama saat musim tanam. “Selain memenuhi pesanan ekspor, KOPJA juga menjual bibit jahe,”

ungkap Muwardi yang membuka pasar jahe ke Kanada bersama tiga mitra ekspornya. Harga bibit sortir (berlabel) Rp2.500,00/kg, tidak berlabel, Rp1.750,00/kg. Harga bibit jahe lebih mahal, lantaran pemeliharaannya sampai sepuluh bulan. Emerald Trading di Bandung, mengolah 15% sisa jahe ekspornya menjadi rajangan kering (slice), yang dijual Rp6.000,00/kg.

Kendala musim

jahe super
jahe kualitas super

Pertanaman jahe dimulai Januari sampai Februari, saat musim hujan tiba. “Bulan-bulan tanam adalah masa kosong jahe,” ungkap Komar Mulyawibawa, Direktur Emerald Trading di Bandung. Eksportir kembali “bermain” jahe pada bulan kelima. Saat itu jahe muda siap dipanen, ketika berumur 3 sampai 4 bulan Penentuan masa panen jahe muda tidak boleh sampai meleset. Bila terlewat jahe mulai berserat. Jahe muda seperti ini tidak memenuh» standar kualitas ekspor, sehingga tidak laku dipasar.

Produsen yang “main” jahe tua, panen pada umur 8 sampai 9 bulan Walaupun secara ekonomis lebih menguntungkan mengusahakan jahe muda, petani lebih senang memelihara jahe sampai 9 bulan. “Harga jahe muda 70% dari jahe tua,” jelas Komar. Menurutnya dengan masa tanam relatif singkat, risiko gagal akibat penyakit dapat diperkecil.

Biaya pemeliharaan yang dikeluarkan pun lebih sedikit, sehingga labanya tinggi. “Bermain jahe muda, selain harus punya lahan luas, juga fasilitas pengolahan yang baik,” papar Komar yang mulai ekspor sejak 1992 lalu. Hal inilah yang membatasi pekebun memproduksi jahe muda.

Musim panen jahe yang cuma satu kali setahun, membuat pasokannya berfluktuasi. Saat panen raya, PT Emerald bisa mengekspor tidak kurang 500 ton per bulan. Namun di luar musim, ia hanya mampu mengirim 100 ton saja. Hal senada dikatakan Iwan, staf PT Mitra Bumi Abadi.

Perusahaannya mampu mengirim 1000 ton jahe ke Timur Tengah dan Pakistan, saat musimnya. Diluar itu, ia hanya memasok 400 ton saja. Lain halnya koperasi Binangkit di Bandung. Walaupun kuota dari eksportir 200 ton/bulan, saat ini hanya memasok 20 ton jahe. “Kami utamakan kontinuitasnya dahulu,” ungkap Indri, staf pemasarannya.

Tujuan ekspor

ekspor jahe
jahe banyak diminta pasar luar negri

Rimpang jahe digunakan dalam berbagai keperluan. Mulai dari bumbu masak, pemberi aroma makanan, industri obat-obatan, bahkan minyak wangi. Masyarakat negeri Timur Tengah sangat menyukai masakan berbumbu jahe. Di Jepang jahe dikonsumsi dalam bentuk asinan atau acar jahe (pikel) sebagai “teman” makan ikan tuna. Berdasarkan data ekspor BPS 1997, Jepang negara terbesar pengimpor jahe dari Indonesia. Tidak kurang 34-ribu ton jahe dikirim kesana pada tahun itu.

“Selain Singapura, Dubai pintu gerbang perdagangan komoditas jahe,” tutur Komar yang mengekspor sedikitnya 20 kontainer jahe per bulan ke negara itu. Dari Dubai, jahe didistribusikan lagi ke berbagai negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Menurut Jurnal Market Asia, jahe merupakan komoditas impor yang diperlukan negara-negara Eropa. Negeri Belanda membutuhkan 4.000 ton jahe per tahun. Sedangkan Inggris mengimpor 8.000 ton lebih jahe per tahun.

“Kalau mau lebih untung, kita harus punya channel langsung di negara importir,” tutur Iwan staf PT Mitra Bumi Abadi. Hal ini menurutnya untuk mengantisipasi harga di musim panen. Pasalnya harga tawar dari Singapura pada saat itu cuma US$18 sen per kg. “Kalau harga di dalam negeri Rp1.400,00 sampai Rp1.600,00 per kg-nya, mana bisa untung,” tutur Iwan lebih lanjut.

PT Mitra Bumi Abadi di Jakarta Pusat, tidak kurang mengekspor 400 ton jahe sebulan. Tiga mitra ekspor KOPJA rata-rata memesan 4 kontainer jahe per bulan. Kalau satu kontainernya 14,5 ton, berarti harus disediakan 175 ton jahe segar per bulan.

Masing-masing negara tujuan ekspor mempunyai karakteristik berbeda. “Kirim barang ke Singapura harus lebih hati-hati,” tutur Muhardi. Minimal satu rimpang berbobot 200 gram. Selain itu jahe harus dicuci bersih. Lebih mudah ekspor ke Timur Tengah. “Masih berlumur tanah tidak masalah,” jelasnya. Pencucian jahe mungkin saja menyebabkan rimpang patah. Jahe yang dicuci harus segera dijual. Jika disimpan akan busuk.

Yudi Anto