Filosofi Dalam Secangkir Kopi Jawa

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Penghormatan saya kepada kopi meningkat drastis gara-gara Prof Dr Toeti Heraty. Menjelang ulang tahunnya ke-70, saya dikirimi sebuah buku A Cup of Java 1 dan satu pak kopi turki, oleh-oleh dari Istambul. Dari dua hal itulah kita disadarkan betapa penting kopi dalam dunia agribisnis, pranata sosial ekonomi, dan budaya masyarakat, bahkan sumbangsih pada manusia.

Di Wina, Austria, Eropa; di Kairo, Mesir, Afrika, maupun di Atlanta, Georgia, Amerika sana; kata java coffee ternyata kemerlip, seperti mutiara. Dunia bersyukur mendapat berkah yang lestari dari biji-biji kopi bestak alias robusta. Kopi yang lebih dikenal dengan kopi jawa itu menduduki 90 % dari volume ekspor kopi Indonesia. Sepuluh persen lagi, arabika. Setiap akhir tahun, mulai September hingga Desember, panen arabika di Mandailing, Sumatera Utara, sedang mencapai puncaknya.

Syukur alhamdulillah, pada 2020 ini, harga kopi cukup menguat. Mulanya memang pedih, lantaran kemarau panjang di Jawa. Gara-gara udara panas menyengat, bunga-bunga kopi berguguran. Akibatnya 20 % atau 4.000 ton arabika jawa berkualitas tingggi, batal jadi buah, gagal menambah devisa. Nah, kalau harga kontrak kopi November ini berkisar US $785 (sekitar Rp6,5-juta) per ton, berapa banyak keuntungan yang batal diraup?

Angka hilangnya kesempatan itu sangat besar artinya. Boleh disayangkan, tapi tak perlu disesali. Sudah tiga tahun belakangan ini, dunia dihantui kelebihan pasok. Dari sekitar 115-juta karung kopi, hanya 105-juta sampai 106-juta yang terminum. Produksi tumbuh di atas 2% dalam setahun, sementara kegemaran manusia menghirup kopi hanya bertambah 1 %.

Secangkir Kopi untuk dunia

Kembali pada A Cup of Java, kita boleh dibangunkan akan fungsi kopi secara lebih luas. Bukan hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga dari aspek kultural, filsafat, sejarah, dan berbagai segi kehidupan. Penulisnya Gabriella Teggia dan Mark Hanusz membuka mata kita dengan kisah Java Village yang 110 tahun lalu dibangun di tengah Ekshibisi Dunia di Chicago, AS. Antara Mei hingga Oktober 1893, diadakan demo batik, pertunjukan wayang dan gamelan; serta yang paling penting: minum kopi mumi asli dari Jawa.

Konon, itulah pertama kali manusia di dunia mengenal secangkir jawa. Uniknya, hanya dalam tempo seratus tahun; Jawa menjadi identik dengan secangkir kopi. Popularitas ini melejit pesat, mengingat kopi sejak abad ke-10 sudah populer di Eropa, khususnya di Italia. Berbagai kedai kopi kenamaan pada abad ke-17 bermunculan di Italia, Inggris, dan Perancis. Jadi, mengapa kopi jawa yang baru muncul pada abad ke-19 begitu terkenal? Tidak lain karena Amerika membuat kopi sebagai minuman nasional, yang wajib dihidangkan waktu sarapan!

“Setiap negeri di bumi ini punya merk kopi nasionalnya. Belanda punya Douwe Egberts; Italia punya Lavazza; Amerika punya Maxwell House; dan Indonesia punya Tek Sun Ho.” Begitu papar Teggia dan Hanusz. Toko kopi Tek Sun Ho berdiri di Molenvliet Oost, Jalan Hayam Wuruk sekarang, Batavia pada 1878. Itulah pabrik kopi tertua. Produk-produknya antara lain kopi bubuk Wartin atau Warung Tinggi; dan Bakoel Koffie. Sejak 1994 pabriknya dipindah ke Tangerang, dan kini dipimpin oleh para buyut pendirinya, Hendra dan Syenny Widjaja.

Selain kopi Tek Sun Ho yang didirikan Liauw Tek Siong pada 1878; ada lagi yang sangat tenar, yaitu Kopi Kapal Api. Go Soe Loet merintisnya sejak 1927; dan dikembangkan oleh anaknya, Soedomo Mergonoto. Sejak pertengahan 1980-an, Kapal Api menjadi pabrik kopi terbesar di Indonesia. Revolusinya dimulai 1982 ketika diiklankan oleh pelawak Paimo di TVRI Surabaya, dengan kata-kata, “Lebih enak rasanya …”

Dalam waktu 3 bulan penjualan naik pesat, sehingga pabriknya harus membeli mesin penggoreng berkapasitas 500 kg per jam dari Jerman. Sampai sekarang mesin itu masih beroperasi, mendampingi mesin penggoreng kopi terbesar di jagat ini, dengan kapasitas lima ton per jam. Sekarang, Kapal Api diakui sebagai pabrik kopi dengan sistem distribusi paling efisien, hingga ke berbagai pelosok Indonesia.

Tentu saja, popularitasnya tidak mengubur produsen kopi lain yang menghasilkan bubuk maupun biji berkualitas tinggi. Masih ada nama-nama klasik lainnya yang terus bertahan, seperti Singa sejak 1928; dan Aroma, sejak 1930. Aroma Koffie Fabriek mulai dibuka di Jalan Banceuy, Bandung, pada 1930. Untuk warga Bandung, mestinya tidak pernah lupa, Bung Kamo sendiri sudah suka “mejeng” minum kopi pada 1920-an. Sampai sekarang kopi Aroma dikenal konsisten memilih biji-biji kopi terbaik mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga ke Timor Leste.

Mendongkrak konsumsi

Sudah jelas secangkir kopi jawa merupakan mutiara dalam khasanah budaya yang ditumbuh-kembangkan oleh kopi. Belum pernah ada informasi selengkap itu, berikut foto-foto spektakuler: seperti bagaimana seceret kopi dipayungi sebelum dihidangkan untuk Sri Sultan Hamengku Buwono X; dan bagaimana Sinuhun Pakoe Boewono XII menghirup kopi dari cangkir kratonnya. Atau foto seekor luwak atau musang, yang dituduh memproduksi kopi luwak.

Yang lebih penting dipecahkan sekarang, bagaimana konsumsi kopi bisa ditingkatkan. Kalau konsumsi per kapita nasional baru mencapai 0,6 kg per tahun, bakal masih lama menyerap berkarung-karung hasil panen yang belum tersalurkan. Para raja dan sultan Muslim diyakini suka mempopulerkan minum kopi untuk membendung konsumsi anggur dari Barat. Digulirkan pula bahwa istri yang dilarang minum kopi, boleh minta cerai dari suaminya. Berdasarkan dongeng itu, konon para pendeta di Eropa pernah melarang umatnya minum kopi dan menghukum pemilik kedai yang menjualnya.

Kenyataannya, para pedagang Arab terus mendominasi perniagaan kopi berabad-abad lamanya. Kopi terbaik dinamakan arabika, yang di Indonesia merupakan produk eksklusif dari dataran tinggi Dieng, Tanah Gayo, Tanah Toraja, dan Mandailing. Kenyataannya juga, konsumen fanatik kopi tetap Eropa, teristimewa negara-negara Skandinavia. Bangsa Swedia gemar minum kopi, setelah Raja Gustaff II menghukum sepasang saudara kembar. Yang satu dihukum untuk kesalahan yang lain. Lalu, entah bagaimana sebabnya si peminum kopi dikabarkan hidup lebih lama dari pada kembarannya yang minum teh, dan mati pada usia 83 tahun.

Sejak saat itu, berangsur-angsur Swedia menjadi peminum kopi nomor satu di dunia, dengan konsumsi per kapita 12 kg setahun2. Berarti seorang satu kilogram setiap bulan, setara 10 kantung untuk kemasan 100 gram; atau 4 kantung untuk kemasan 250 gram. Sedangkan warga Indonesia, dengan konsumsi per kapita 0,6 kg per tahun, berarti baru 50 gram tiap orang dalam sebulan.

Pertanyaannya tentu: mengapa takut minum kopi? Sebagian tentu spontan takut pada kafein, yang membuat orang segar bugar sehingga tidak dapat tidur. Pendapat umum mengatakan bahwa mengkonsumsi kopi secara berlebihan bisa melukai lambung, merusak ginjal, mengganggu jantung. Namun mengkonsumsi secukupnya justru membuat orang melek, tidak mengantuk dan segar-bugar. Meskipun, itu berarti “berhutang” waktu istirahat kepada badan.

Yang penting, segar-bugar juga bikin kreatif, produktif, inovatif, dan kadang agresif. Komponis klasik dan legendaris, Beethoven, konon selalu memastikan satu cangkir yang diseduhnya terdiri atas 60 butir biji kopi. Perlu dicatat juga, penyair Jawa terkemuka, Linus Suryadi AG, telah mati muda akibat terlalu suka minum kopi dan menderita gagal-ginjal.

Secangkir Kopi Dan perdamaian

Memang tidak dapat disangkal, konsumsi kopi yang berlebih memacu darah tinggi, berakibat buruk pada jantung dan ginjal. British Medical Journal mengumumkan, ibu hamil yang minum kopi lebih dari delapan cangkir per hari berisiko dua kali mengalami kegagalan atau kematian bayi dibanding mereka yang tidak minum kopi. Ditambahkan pula bahwa, 4 cangkir kopi sehari masih dapat ditolerir.

Sekarang, para pendekar kopi nasional dan internasional perlu melancarkan jurus-jurus yang tepat, mengapa minuman ini perlu lebih memasyarakat. Ibu yang menghirup 4 sampai 7 mug kopi sehari menanggung risiko 80% keguguran. Sedangkan yang minum lebih dari 8 cangkir sehari berisiko 300% dibanding yang tidak minum kopi sama sekali. Itulah temuan dari rumah sakit Universitas Aarhus, Denmark setelah meneliti lebih dari 18.000 perempuan hamil antara 1989 sampai 1996.

Tiap cangkir mengandung 100 mg kafein. Standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Indonesia maksimal 50 mg kafein dalam tiap ke: ‘asan minuman energi. “Mengkonsumsi 32 gram kafein sebelum bekerja memang dapat merangsang daya ingat, memacu kewaspadaan; dan sama sekali tidak membuat kita dungu, seperti nasihat nenek di zaman dulu,” begitu kata konsultan kesehatan, dokter Handrawan Nadesul.

Tapi yang jelas, konsumsi kopi secara nasional memang sangat rendah, sudah pasti menyulitkan reorientasi pasar. Sementara itu, runtuhnya harga kopi dan kelebihan pasok telah menyengsarakan banyak pihak. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkemuka, OXFAM International, memperhitungkan bahwa krisis kopi membahayakan mata pencaharian 25 juta keluarga pekebun di seluruh dunia. Itu berarti malapetaka bagi banyak pekebun kopi di berbagai negara.

Dalam wawancara dengan Majalah Kopi Indonesia, Siswono Yudohusodo dari HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), juga memprihatinkan nasib 5 juta keluarga pekebun kopi yang tersebar di tanah air. “Kita harus melakukan reorientasi ekspor,” katanya. “Kalau sebelumnya kita mengekspor 100 persen biji kopi, kini saatnya lebih memfokuskan diri pada pengembangan industri hilir.”

Ekspor kopi tidak akan menjadi lebih mudah dengan diundangkannya Akta Anti Bioterorisme, oleh Amerika Serikat mulai Desember 2003. Sementara itu, penjualan di pasar domestik pun belum dapat diharapkan melesat dalam waktu dekat. Bagi saya, informasi dan peran sosial-budayanya yang kini bicara. Sebelum menikmati tubruk dan turki itu, saya suka mencecerkan kopi untuk menghilangkan bau tak sedap di kamar dan perpustakaan.

Memang belum jelas, apakah membuang-buang bubuk dan biji kopi termasuk cara mendongkrak konsumsi kopi secara sopan. Yang pasti, terbitnya buku A Cup of Java oleh Equinox Publishing telah memperkaya perspektif kita. Secara mempesona, kopi turut berjasa menghidupi jutaan orang, mendorong munculnya bermacam objek wisata, dan… turut menjaga perdamaian! “ taste from the plains and plantation between Magelang and Ambarawa,” seperti ditulis Prof Dr Toeti Heraty.

  1. Teggia, Gabriella, and Mark Hanusz. 2003. A cup of Java. Jakarta: Equinox Pub (Asia).
  2. Oliver Smith, Digital Travel Editor. “Mapped: The Countries That Drink the Most Coffee.” The Telegraph, https://www.telegraph.co.uk/travel/maps-and-graphics/countries-that-drink-the-most-coffee/. Accessed 16 Mar. 2021.