Gejolak Harga Pasar Si Buah Lonceng

Begitulah harga paprika: terus bergejolak. Kerap kali perubahan harga terjadi hanya dalam hitungan hari. Paling lama, “Harga hanya bertahan sebulan,” kata Dedi Mulyadi, pekebun di Parongpong, Kotamadya Cimahi, Jawa Barat. Maman membudidayakan paprika di lahan 5.000 m2. Di daerah berketinggian 1.100 m dpl itu ia membangun 5 greenhouse, masing-masing seluas 1.000 m2. Sebuah greenhouse diisi 4.000 tanaman sehingga total populasi 20.000 tanaman.

Untuk masa tanam November 2006 panen perdana pada Januari 2007. Pekebun yang menanam paprika sejak 6 tahunlampau itu memetik 200 kg dengan harga jual Rp15.000/kg. Panen berikutnya interval 2 hari selama 6 bulan masing-masing 500 kg, 300 kg, dan 400 kg, hingga total produksi mencapai 50 ton.

Menurut ayah 3 anak itu harga jual tertinggi Rp25.000, selebihnya naik-turun di kisaran Rp15.000 sampai Rp5.000.


Gejolak harga itu terjadi tidak hanya di Bandung, tapi berlaku di sentra penanaman lain seperti Pasuruan, Jawa Timur, dan Bedugul, Bali. Mengapa terjadi gejolak harga? Menurut Yudha Hery, mantan pekebun paprika yang juga dosen di Magister Manajemen Agribisnis IPB, fluktuasi harga terjadi karena perubahan pasar. Saat ini hanya Taiwan dan Hongkong, karena Singapura dipasok oleh Vietnam dan Thailand.

“Kuotanya pun tidak terlalu tinggi. Sebulan paling 29,5 ton,” kata Wahyudin, manajer pemasaran PT East West Seed Indonesia. Pasar itu terbuka hanya jika China sedang tidak panen. Jika di China sedang panen, pasar Taiwan dan Hongkong memilih produk dari China. “Harganya lebih murah,” tambah Yudha.

Biasanya medio Juli sampai September,paprika China membanjiri pasar Taiwan dan Hongkong. Akibatnya, tidak ada kuota untuk paprika asal Indonesia. Paprika menumpuk, tapi permintaan tetap, maka harga pun anjlok. September 2007, harga paprika di tingkat pekebun sedang anjlok, Rp5.000/kg.

Jumlah ekspor paprika Indonesia memang menurun. Bahkan pada 2003, ekspor ke Taiwan sempat terhenti total. Negeri Formosa itu mendakwa lalat buah Bactrocera carambolae membonceng paprika Indonesia. Padahal, serapan negeri di Asia Timur itu relatif besar. Data Balai Karantina menyebutkan volume ekspor pada 2001 mencapai 105.124 kg dan meningkat menjadi 190.055 kg setahun kemudian.

Menurut Dedi Mulyadi, harga tinggi hingga Rp25.000 per kg pada Januari terjadi karena pasokan minim. Saat itu banyak greenhouse rusak akibat terjangan angin. Di Parongpong, misalnya, tercatat puluhan greenhouse roboh. Sementara permintaan pasar lokal meningkat sehubungan banyak pesta-pesta dan perayaan Natal, Imlek, serta Tahun Baru. Makanya pada bulan-bulan itu biasanya harga paprika menjulang.

Biaya Yang sama

Vincentius Yanatha Bagja, kepala pemasaran toserba Yogya di Bandung mengungkapkan hampir setiap tahun lonjakan permintaan terjadi, terutama pada awal tahun dan saat musim pernikahan. “Lonjakan permintaan paprika sampai 25%,” kata Vincent. Jika permintaan stabil, setiap hari toserba Yogya menyerap 100 kg paprika hijau, 75 kg (merah), dan 50 kg (kuning).

Walaupun terjadi lonjakan permintaan pada waktu-waktu tertentu, tapi para pekebun tidak mengantisipasinya sehingga volume pasokan relatif tetap. Akibatnya harga pun turut melambung. Pada saat-saat itu Vincent membeli paprika hijau Rp18.000/kg, kuning dan merah di atas Rp25.000 per kg.

Menurut Ir Edi Sugiyanto, manajer pemasaran PT Joro harga rendah terjadi juga karena ketidakdisiplinan pekebun.
“Biasanya pekebun sudah menjalin mitra dengan distributor. Nah, ketika harga tinggi, pekebun menjual ke tempat lain. Saat produksi melimpah mereka kebingungan menjual, karena mitra menolak bekerja sama lagi,” kata Edi.

Yang juga menjadi penyebab banjirnya pasokan adalah waktu penanaman serempak. Masa panen berlangsung berbarengan sehingga produksi tidak terserap pasar. Mereka asal tanam, tanpa memperhitungkan kebutuhan pasar dan luas penanaman,” kata Yudha. Padahal, luasan penanaman bisa dengan mudah dideteksi melalui penjualan benih. Di Indonesia produsen benih paprika terbesar adalah PT Joro dan PT East West Seed Indonesia.

Menurut Sugiyanto, total penjualan benih paprika pada Mei sampai September 2006, sebanyak 150.000 biji. Penjualan benih menurun pada Januari sampai April  75.000 sampai 100.000 biji. Itulah sebabnya pada April sampai Oktober diperkirakan produksi paprika menurun.

Wahyudin, SP, manajer pemasaran PT East West Seed Indonesia, mengatakan penjualan benih paprika cukup stabil, “Sekitar 10.000 sampai 11.000 biji per bulan”. Jika volume penjualan benih kedua produsen itu digabung,26.000 biji per tahun setara 8 ha. Dengan produksi, 2,5 kg per batang, total volume panen kira-kira 815 ton. “Volume sebesar itu bisa diserap pasar. Cuma karena permintaan tidak ajek, maka gejolak harga sering terjadi,” kata Wahyudin.

Masih untung

Penanaman serempak, pemicu gejolak harga

Fluktuasi harga tidak semata terjadi pada paprika merah. Warna lain seperti hijau dan kuning pun mengalami hal sama. Hanya saja paprika kuning dihargai lebih tinggi Rp 1.000 sampai Rp5.000 dibandingkan paprika merah. Itu karena pekebun malas menunggu 15 sampai 20 hari hingga kulit buah berubah dari hijau menjadi kuning. Sebab, risiko terserang hama penyakit menjadi lebih besar.

Perbedaan harga jual untuk berbagai warna paprika terjadi karena risiko pasar yang berbeda. Paprika kuning penjualannya lebih sulit ketimbang merah dan merah lebih sulit daripada hijau. Sehingga urut-urutan harganya kuning lebih tinggi, diikuti merah dan hijau. Saat ini biaya produksi paprika apa pun warnanya hanya Rp 10.000 per tanaman. Biaya itu sudah meliputi tenaga kerja, pupuk, benih, dan pestisida, tapi belum termasuk biaya penyusutan greenhouse.

Menurut Dedi, untuk membuat greenhouse berukuran 450 m2 dibutuhkan biaya Rp18-juta. Satu rumahtanam bisa dipakai selama 3 sampai 5 tahun. Bila ditambah dengan renovasi rumah tanam, maka biaya produksi meningkat menjadi Rp14.000/tanaman atau Rp5.000 sampai Rp7.000/kg. Oleh karena itu ketika harga Rp12.000/kg, laba bersih yang diraup pekebun mencapai Rp 10.000 per tanaman atau Rp400-juta dari luasan 1 ha selama 6 bulan.

Sayangnya, fluktuasi harga terlalu tajam, hingga menyentuh angka Rp5.000/ kg, sehingga banyak pekebun gulung tikar. Terbukti menurut Dinas Pertanian Kabupaten Bandung total luas lahan paprika di Kecamatan Parongpong, Cisarua, dan Lembang berkurang, dari 40 ha sekarang tinggal 27 hektar. Itu semua bisa diatasi dengan pengaturan musim tanam.