Gelar Raja Walet Merah Bagi Boedi Mranata

Sarang walet merah alias shieh yen diyakini berasal dari tetesan darah walet. Itu yang menyebabkan masyarakat Cina percaya ia mampu memperpanjang usia dan menambah vitalitas. Sayangnya, produksi sarang walet merah sangat rendah. DR Boedi Mranata sukses mengembangkan dan mengekspor sarang walet merah dalam jumlah sangat besar hingga dijuluki Raja Walet Merah.

Komoditas yang terserap pasar lokal sama sekali tak menarik minat Boedi Mranata. “Mengembangkan produk untuk pasar lokal sama saja rebutan kue di rumah sendiri,” tutur kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 49 tahun silam. Dari sepuluh komoditas yang ia unggulkan, pilihan jatuh pada walet. Jamur misalnya, urung ia pilih.

Pasalnya, “Saya lihat waktu itu (1986-red) Taiwan sudah mengembangkan jamur besar-besaran,” kata Mranata yang survei lokasi di beberapa kota di Taiwan.

Pilihan akan walet bukan tanpa alasan. Sebagai produsen walet, Indonesia praktis tanpa pesaing berarti. Hampir 70% kebutuhan walet dunia dipasok Indonesia. Walaupun demikian, baginya menekuni bisnis walet juga seperti beijudi. Sebab, mengundang walet datang bukan hal gampang.

Namun, ia bergeming pada pilihannya. “Bisnis apa pun yang kita pilih, ibarat memasuki terowongan panjang dan gelap. Kapan kita menemukan titik terang, tak jelas,” tutur pehobi tenis meja itu.

Rintangan pertama ketika ia menekuni walet justru datang dari keluarga. Menurut mitos, memelihara walet butuh tumbal misalnya kematian salah satu anggota keluarga atau keturunan lahir cacat.

Betulkah? “Beternak walet sama saja dengan memelihara kucing atau burung yang dapat mendatangkan toksoplasma. Bila kebetulan ibu hamil terinfeksi, jelas saja anaknya bakal cacat,” ujar sulung dari tiga bersaudara itu.

Konsesi walet

Mranata tak salah pilih. Empat belas tahun kemudian bisnis sarang walet yang ia kembangkan bak gurita. Rumah waletnya tersebar di berbagai wilayah seperti Bali, Jepara, dan Tangerang. Ia juga aktif diberbagai organisasi perwaletan.

Misalnya sebagai Ketua ASBI (Assosiasi Sarang Burung Indonesia) untuk Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta wakil Indonesia di ABNA (Asean Birdnest Trader Association)yang bermarkas di Singapura.

Pasar ekspor memang alot ia peroleh. Di dunia perdagangan walet kehadiran pendatang baru selalu dicurigai. Berkat kegigihannya dengan melobi rekan bisnis, pasar ekspor pun terkuak.

Melalui perusahaannya di Bantargebang, Bekasi, ia rutin mengekspor sarang walet merah ke Cina termasuk Hongkong dan Taiwan.

Negeri Tirai Bambu itu memang menjadi pasar terbesar sarang produksinya. Soalnya, masyarakat negeri dengan jumlah penduduk terbesar itu percaya walet mampu memperpanjang usia dan menambah vitalitas.

Negara tujuan ekspor lainnya adalah Amerika Serikat dan Kanada. Di kedua negara itu, konsumen sarang walet pada umumnya juga etnis Cina. Volume ekspor Boedi Mranata cukup tinggi di antara pengusaha walet. Ia mengirim beragam kualitas sarang seperti kelas super dengan harga Rpl6-juta per kilo, pecah (Rp8-juta sampai Rp10-juta), dan hancuran (Rp5-juta sampai Rp6-juta).

Saking banyaknya volume pengiriman sarang merah, Mranata dijuluki Raja Walet Merah. Embel-embel merah ditambahkan karena Mranata-lah yang memiliki sarang walet merah terbanyak. Kontinuitas pengiriman tetap terjaga sebab tak tanggung-tanggung, ia mengelola puluhan rumah walet. Selain itu, ia juga menampung sarang walet dari para pedagang pengumpul.

Boedi Mranata
Boedi Mranata si raja walet

Ia hanya sempat sekali sebulan mengunjungi rumah walet yang tersebar di berbagai kota itu. Soalnya, begitu banyaknya rumah walet yang ia kelola. Lagi pula rumah walet tak menuntut perawatan ekstra. Meskipun demikian, Mranata selalu bereksperimen seperti mengganti lagur kayu dengan batu, fiberglas, dan aluminium bambu. Tujuannya, untuk mengetahui hasil produksi.

Sempat Dijarah Kawanan Pencuri

Selain mengelola rumah-rumah walet, Boedi Mranata lewat perusahaannya PT Jaya Alam Semesta juga mendapat konsesi mengelola gua walet di Nusa Penida, Bali.

Sukses Mranata di bisnis walet tak direngkuh begitu saja. Agar sebuah rumah terisi walet dan berproduksi setidaknya ia harus menanti 5 tahun. Walaupun ia mempunyai jurus bagus saat mencari rumah walet. “Saya mencari rumah yang dihuni seriti lebih dulu. Minimal di rumah itu harus terdapat 100 sarang seriti,” kata suami dari Jeanna Sutrisno itu.

Di sarang seriti itulah doktor Biologi itu meletakkan telur-telur walet untuk mempercepat kehadiran burung berliur mahal tersebut. Jurus lain, ia menghindari membangun rumah walet di suatu daerah sentra.

“Kelihatannya banyak walet beterbangan, tapi yang masuk ke rumah walet kita sangat sedikit,” tuturnya. Karena itulah perusahaannya dilengkapi departemen yang bertugas hanya mencari lokasi yang cocok untuk pengembangan walet.

Kendala terbesar yang acapkali dihadapi Mranata adalah penjarahan. “Bayangkan bila sekali dijarah 10kg sarang saja yang hilang. Rp150-juta amblas,” tutur alumni Universiteit Hamburg, Jerman yang lulus dengan predikat summa cum laude 1984. Di samping itu, ketika ia memperbesar rumah walet, biasanya terjadi penurunan produksi hingga 25%.

Toh itu tak menyurutkan langkahnya untuk menekuni rumah walet. Ekspansi besar-besaran dengan membangun rumah walet baru memang dibatasi. Ia lebih berkonsentrasi pada rumah-rumah walet yang sudah ada.

Halaman terakhir diperbaharui pada 28 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.