Budidaya Tani

Harga Tomat Naik, Pekebun Makin Untung

Kalau bukan karena keuntungan yang menjanjikan, tak mungkin Syahid Albarkah, pekebun tomat di Cisarua, Lembang, bertahan mengebunkannya sejak 1980. Saat ini luas lahan keluarga yang sedang digarap 30 ha, termasuk 8 ha miliknya sendiri. “Kalau saja ada lahan yang bisa disewa, saya ingin menambah luas penanaman,” papar Syahid.

Tomat memang komoditas yang menguntungkan. Dengan biaya produksi hanya Rp 1.300/tanaman, berarti titik impas dicapai saat harga jual Rp433/kg. Produksi rata-rata minimal 3 kg/tanaman. Jadi, “Saat harga turun hingga Rp500/kg saat panen raya April sampai Agustus pun petani bisa untung,” ungkapnya.

Karena alasan itu pula M. Ichwanto tertarik mengebunkan sendiri. Apalagi menurutnya, budidaya tomat relatif mudah. “Hampir tak ada pekebun tomat yang merugi. Sial-siainya, pekebun hanya mencapai titik impas,” tegas direktur UD Sayur Mayur di Batu.

Kewalahan menghadapi permintaan

Tomat, tetap layak dikebunkan

Selain soal keuntungan, mengebunkan tomat juga dilakukan Ichwanto lantaran tingginya permintaan 2 pasar swalayan di Surabaya. Setiap hari kedua pasar swalayan langganannya meminta pasokan 1 ton. “Petani sulit memenuhi standar kualitas yang diinginkan pasar,” keluhnya. Apalagi petani jarang menanam Precious dan TM 39, varietas yang diminta pembeli. Oleh karena itu ia membuka minimal 0,5 ha kebun setiap bulan. Itu pun belum mampu memenuhi permintaan. Yang terlayani hanya 1 ton seminggu 2 kali pasokan.

Jangankan Ichwanto, Syahid yang telah mengelola 8 ha lahan pun masih kewalahan memenuhi pemintaan. Hasil panen kebunnya hanya4 sampai 5 ton per 4 hari. Sementara permintaan dari Pasar Induk Cibitung 5 sampai 6 ton/hari. Selain Cibitung, ia juga harus mengisi 2 pasar induk lain: Kramatjati dan Caringin. Tak heran jika pria yang hanya mengantungi ijazah SD itu masih menampung pasokan pekebun lain. “Dengan mengumpulkan pasokan beberapa petani itulah permintaan dapat terpenuhi,” tuturnya

Meski membina plasma di Sukabumi, PT Prima Tani yang memasok sayuran ke pasar swalayan di Jakarta dan Bandung juga masih kewalahan. “Dari permintaan 2 ton/hari, hanya separuh yang dapat dilayani,” ungkap Mohammad Khotim, penanggung jawab pemasaran. Padahal, total lahan yang dikelola 36 petani plasmanya cukup luas, mencapai 48 ha. Apalagi sejak September luas penanaman menyusut hingga 20% akibat kemarau panjang. Praktis, pasokan perusahaannya pada Desember dan Januari pun menurun.

Kondisi seperti itu memang disayangkan Bondan Dani, penanggung jawab produksi Prima Tani. Berdasarkan pengalaman, pada Desember sampai Januari permintaan pelanggan biasanya naik. Berkurangnya pasokan pekebun membuat permintaan tak terpenuhi, padahal harga saat itu sedang bagus-bagusnya.

Capai Rp5.000/kg

Kualitas baik sulit dipenuhi

Kalau Prima Tani harus kecewa tak bisa memenuhi permintaan, M. Ichwanto justru berbunga-bunga. “Dengan membuka lahan baru setiap bulan, pasokan ke pasar swalayan tetap berlangsung,” paparnya. Meski terjadi sedikit penurunan produksi saat kemarau, ia tetap merasa untung karena harga melonjak hingga Rp5.000 per kg.

Hal sama juga dirasakan Syahid. Menjelang Lebaran pasokan ke pasar induk tetap berlangsung. Sebab, penanaman terus berlangsung setiap bulan tanpa kenal musim. Minimal ada 1 ha lahan yang ditanami setiap bulan.

Saat ini pun harga masih cukup baik, Rp2.000 sampai Rp3.000 per kg. “Kalau di pasar Rp2.000/kg, berarti petani di sini masih mendapat harga minimal Rp 1.500/ kg. Syahid memperkirakan, harga baik masih akan bertahan beberapa bulan lagi. Pasalnya, produksi di lapangan masih belum stabil. “Kemarau panjang pada Oktober sampai November kemarin membuat banyak petani enggan melakukan penanaman,” ungkapnya

Konsumsi segar

Menurut Ichwanto, permintaan memang meningkat dari waktu ke waktu. Kalau dulu tomat hanya dipakai sebagai campuran masakan, kini banyak dikonsumsi segar dalam bentuk jus. Akibatnya, permintaan pasar swalayan meningkat.

Ia mencontohkan beberapa tahun lalu, pasar swalayan langganan hanya meminta pasokan 500 kg/ hari. Kini, permintaan meningkat 2 kali lipat. Tak heran jika turunnya produksi membuat pasar “kosong”. Untuk mendapatkan pasokan, para bandar harus berebut di kebun. Tentu saja dengan harga tinggi.

Tingginya permintaan tomat juga diakui Ir Yohanes Sukoco, Marketing Manajer PT East West Seed Indonesia (EWSI), produsen benih sayuran. Meski serapan benih hibrida di lapangan mencapai 2 ton/tahun, pasar masih belum terpenuhi.

Dengan benih sebanyak itu berarti ada penanaman seluas minimal 10.000 ha/tahun. Jika produktivitas rata-rata mencapai 30 ton/ha, berarti produksi tomat hibrida mencapai 300.000 ton/tahun. “Artinya, setiap hari tak kurang dari 820 ton tomat segar terserap pasar,” kata Sukoco.

Meski begitu, untuk merencanakan penanaman, Sukoco menyarankan pekebun untuk tetap mengamati peredaran benih di lapangan. Ada korelasi positif antara peredaran benih dan harga tomat. Jika pada suatu saat penjualan benih rendah, kemungkinan harga tomat akan naik pada 2 sampai 3 bulan berikut. Namun, jika penjualan benih meningkat dari penjualan normal, harga dipastikan bakal turun karena pasar kebanjiran tomat.

Karena alasan itulah EWSI kini membuat jaringan informasi peredaran benih di daerah binaan. Misalnya Lampung, Salatiga, Jawa Barat, dan Malang untuk menekan kerugian petani. “Jika biasanya penjualan benih di suatu sentra hanya 10 kg/bulan meningkat jadi 20 kg, berarti pekebun harus berhati-hati” kata alumnus Universitas Brawijaya itu. Dengan maraknya penanaman, bakal terjadi kelebihan produksi. Imbasnya, harga tomat pun bakal merosot.

Dwilaksono Pandu

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed