Budidaya Tani
Agaricus bisporus

Hasilkan Champignon Berkualitas Melalui Pasteurisasi

Ia dikenal sebagai button mushroom (Agaricus bisporus) karena bentuknya mirip kancing. Di pasar lokal ketenarannya belum seperti shiitake dan merang. Namun, di Eropa ia sangat digemari hingga sebutan mushroom pun selalu identik dengan jamur yang pertama kali dikembangkan di Perancis itu.

Anggota keluarga Agaricus itu paling banyak dikomersialkan. Budidayanya sebagian besar dalam skala industri untuk orientasi ekspor ke Jepang, Eropa, dan Amerika. Para pemain di sini adalah Indoevergreen di Pangalengan, Zeta Agro Corporation di Brebes, dan PT Dieng Jaya di Wonosobo. Skala rumahan dikembangkan di Parompong, Lembang, dan Brastagi, Medan.

Di negeri asalnya, champignon tumbuh ideal pada suhu 15 sampai 17° C. Di Indonesia pun kebanyakan champignon tumbuh di dataran tinggi. Namun, sebenarnya di(penutupan tanah di atas kompos yang telah ditumbuhi miselium red) hingga muncul pinhead 15 hari. Sejak muncul pinhead (knop red) hingga panen pertama berlangsung 3 hari. Masa panen selanjutnya berlangsung selama 45 hari.

Langkah budidaya relatif mudah dan sederhana. Bangunan rumah tanam tak harus permanen. Kerangka bisa dari kayu dan dinding anyaman bambu. Untuk skala rumah tangga, ukuran 14 m x 3,75 m. Tinggi bangunan 3,5 sampai 4 m. Di dalam bangunan itu dibuat 2 lajur rak memanjang bersusun 5. Sisakan ruang selebar 1 m di antara 2 lajur untuk jalan masuk. Di skala bekatul. Setelah itu, tebarkan campuran kapur dan bekatul berselang-seling dengan jerami.

Tambahkan air secukupnya agar media lembap dan diamkan sehari semalam. Esok hari, bolak-balik campuran hingga merata. Tambahkan 50 kg Urea. Boleh juga ditambah air lagi jika media terlihat kurang lembap. Diamkan lagi selama 5 hari. Pada hari ke 6, tambahkan 60 kg ZA, lalu aduk rata. Diamkan hingga hari ke 9. Tambahkan TSP sebanyak 72 kg pada hari ke 10. dan diamkan lagi hingga hari ke 12.

Hari ke 13 kompos dibalik tanpa ditambahi apapun. Tahap itu disebut fase kosong. Namun, beberapa petani sering pula menambahkan gips pada media. Setelah itu diistirahatkan lagi hingga hari ke 15.

Saat itu kompos telah siap pakai. Tandanya, berwarna cokelat kehitaman, pH 6,7 sampai 7,5, kadar karbon dan nitrogen 18 sampai 21, kadar air 65 sampai 70%. Kompos juga tak berbau karena amonia telah hilang. Namun, jika ingin lebih matang, tunggu sampai hari ke 17. Setelah itu, pindahkan kompos ke dalam shed dan siap dipasteurisasi.

Proses Pasteurisasi Media Tanam

pasteurisasi campuran jerami dan kompos
media tanam setelah proses pasteurisasi

Untuk menyempurnakan fermentasi, mensterilkan kompos, dan menghilangkan amonia yang bersifat racun, media dipasteurisasi. Proses itu dapat dilakukan dalam shed atau rumah kompos. Jika dalam shed, bersihkan dan sterilkan shed terlebih dahulu. Padatkan kompos dalam shed dengan ketebalan 25 cm.

Suhu kompos sebelum pasteurisasi sebaiknya 35 sampai 40°C. Pasang pipa pasteurisasi, masukkan dalam shed. Naikkan suhu secara bertahap. Pasteurisasi berlangsung sekitar 90 jam. Saat suhu dalam shed mencapai 60 sampai 65°C pertahankan selama 12 jam. Setelah suhu ruangan mencapai 65 sampai 75° C, ventilasi dibuka agar suhu turun menjadi 40 sampai 50°C. Suhu itu dijaga agar stabil selama 70 jam yang disebut masa conditioning. Pasteurisasi usai jika bau amonia hilang. Segera matikan kran pasturisasi dalam shed. Buka ventilasi dan jalankan blower. Saat suhu menunjukkan 32°C, bibit dapat ditebar.

Pasteurisasi dapat juga dilakukan di rumah pengomposan. Tutup tumpukan kompos dengan plastik. Tunggu hingga suhu mencapai 60°C dan pertahankan selama 12 jam.

Pindahkan kompos ke dalam shed (rumah tanam) untuk masa conditioning. Suhu sebaiknya 47° sampai 50°C. Pertahankan suhu itu selama 40 jam. Lakukan pendinginan setelah bau amonia hilang. Jika suhu kompos mencapai 32°C, taburkan benih. Cara itu lebih hemat bahan bakar hingga 50%.

Selain 2 cara pasteurisasi itu, ada juga model pasteurisasi 14 jam. Suhu kompos dinaikkan hingga 55 sampai 60°C. Suhu ruangan dipertahankan 70u C. Setelah itu suhu kompos diturunkan pada 48 sampai 50°C untuk masa conditioning selama 48 jam. Kemudian diturunkan lagi hingga 25°C, dan bibit ditebar. Untuk champignon dataran tinggi, suhu kompos 24 sampai 25,5°C, dataran rendah 28,8 sampai 30°C. Kelembapan ruang tanam 90 sampai 100% dengan kadar CO, 5.000 sampai 10.000 ppm.

Spawning dan casing

tahapan pemanenan
Agaricus bisporus, cocok di dataran tinggi

Untuk skala industri, bibit biasanya ditumbuhkan dulu dalam ruang pembibitan. Bibit dicampur kompos hingga miselium muncul. Setelah itu baru dipindah ke rumah tanam. Untuk skala rumah tangga, bibit lebih praktis jika ditebar langsung ke shed. Kebutuhan bibit untuk tiap shed 150 sampai 200 botol.

Sebelum tebar, perhatikan suhu dan kadar air dalam kompos. Suhu ideal 25 sampai 32°C. Usahakan kompos tak terlalu basah agar pertumbuhan miselium cepat. Jika perlu, lakukan pengadukan hingga kompos agak kering. Setelah itu barulah bibit ditebar dan diaduk rata. Jika suhu kompos turun hingga di bawah 20°C, tutup tumpukan kompos dengan plastik atau kertas semen agar hangat. Namun, pada siang hari, cover dibuka, agar uap air tak jatuh ke kompos.

Miselia tumbuh (spawning) 14 hari setelah penebaran langsung pada shed. Jika ditumbuhkan dalam rumah tanam, 12 hari sudah muncul. Setelah miselia tumbuh merata, selanjutnya lakukan casing. Tujuannya merangsang miselia tumbuh lebih banyak, menjaga cadangan air, mengurangi kerusakan kompos dan miselia, serta mempercepat munculnya pinhead.

Jaga kelembapan ruangan pada 90 sampai 100%, kadar CO, 5.000 sampai 10.000 ppm. Untuk champignon dataran tinggi suhu kompos 28,8 sampai 30°C, pH 7,2 sampai 7,5. Champignon dataran rendah suhu kompos 24,4 sampai 26,6°C, dan pH 7,5 sampai 7,8.

Casing memerlukan tanah cokelat berkadar pasir 5%. Pilih tanah yang terletak 15 cm dari permukaan, tidak tercampur rumput, ulat, atau cacing. Campurkan kalsium karbonat sebanyak 5 kg pada tiap m3 tanah. Angka pH tanah sebaiknya 7 sampai 8.

Lakukan sterilisasi sebelum tanah di taburkan ke atas kompos. Campurkan 2 liter formalin 40% pada tiap m3 tanah. Dapat juga dipasteurisasi hingga suhu 60°C selama 3 sampai 4 jam. Setelah itu taburkan ke atas kompos dengan ketebalan 2,5 sampai 3 cm. Luasan 200 m2 memerlukan 5 sampai 6 m3 tanah casing. Padatkan tanah casing dengan papan kayu, lalu tutup pintu shed.

Masa casing berlangsung selama 14 hari hingga pinhead muncul. Seringkali pinhead muncul lebih cepat, 9 hari setelah casing. Jika miselium terlihat menjalar keluar, tambahkan tanah casing. Saat pinhead muncul, bukalah lubang ventilasi. Pinhead akan berkembang menjadi champignon siap petik setelah 3 hari.

Jaga kelembapan hingga 90 sampai 100%. Pada champignon dataran tinggi suhu shed 16 sampai 18,3°C, suhu kompos 18,3 sampai 40°C,kadar CO,< 1.000 ppm. Dataran rendah suhu kompos 25 sampai 26°C, suhu shed 23,8 sampai 250C, CO,<2.000 ppm.

Jika casing terlihat kering atau berwarna kuning sebaiknya segera disiram. Lakukan penyiraman bertahap atau gunakan sistem moistspray. Untuk skala rumah tangga pakailah crabsack sprayer (sprayer gendong) untuk melakukan moistspray.

Tahap Pemanenan

Menjelang panen kelembapan diturunkan hingga 85 sampai 92%. Champignon dataran tinggi suhu ruang tanam 16°C sampai 18,3°C, kadar CO,<1.000 ppm. Dataran rendah 23,8°C sampai 25°C, kadar C0,<3.000 ppm.

Di luar negeri, tingkat produksi champignon dataran tinggi mencapai 14,7 kg/m2. Puncak produksi mencapai 29 kg/ m2 saat umur 5 minggu dan selanjutnya menurun perlahan. Di dataran rendah, 14,7 kg/m2 dan meningkat menjadi 19,6 kg / m2 setelah umur 5 minggu.

Pemetikan dilakukan dengan cara memutar batang jamur hingga semua pin terangkat. Usahakan tak ada batang yang tertinggal di kompos. Hindari pemetikan secara kasar agar kompos tak rusak. Panen sebaiknya pada pagi hari atau seawal mungkin, sebelum tudung membuka. Jika terlambat, kualitas turun.

Periksa selalu kondisi casing. Segera lakukan moistspray jika casing mengering sebelum panen selesai. Bersihkan batang-batang sisa panen yang tertinggal agar miselium tak busuk. Jaga sanitasi selama masa tanam agar hama tak menyerang. Segera lakukan penyemprotan jika hama mulai muncul. (NS.Adiyuwono).

Yudi Anto