Budidaya Tani

Hilang Penat Dibuai sang Ratu

Bel tanda usai kerja baru saja berdering nyaring. Di saat para karyawan bergegas pulang, Akim buru-buru menyambangi koleksi maskokinya di loteng rumah sekaligus pabrik perakitan trafo. Oranda, tossa, ranchu, dan beberapa maskoki jenis lain sudah menanti belaian dan butiran pakan dari tangan Akim. Acara bercengkerama dengan ratu ikan hias air tawar itu berakhir saat azan magrib berkumandang.

Sebelum turun ke lantai 2 menuju peraduan, tak lupa bujangan itu mengecek aliran air ke bak-bak maskoki. Terakhir memastikan pintu loteng benar-benar terkunci rapat. Aktivitas itu diulang esok paginya.

Pukul 06.30 sebelum karyawan masuk, dengan mengenakan kaos dan celana pendek, pria berkulit putih itu kembali menyambangi maskokinya. Kali ini waktu untuk bercengkerama lebih panjang. Maklum sebelum anggota keluarga cyprinidae itu diberi pakan, ia mengganti air dahulu. Setidaknya sekitar 2,5 jam dihabiskan untuk rutinitas merawat kesayangannya.

“Saya setiap hari yang ngurus,” ucap kelahiran Jakarta 1957 itu. Kebetulan rumah merangkap kantor. Di sela-sela istirahat ia pergunakan untuk menengok maskoki. Setidaknya 1/2 jam diluangkan sekadar mengusap-usap beberapa maskoki langka kesayangan seperti ranchu pompom dan tossa kaliko.

Berukuran besar

Saat budidayatani berkunjung ke loteng, tampak berjejer deretan bak-bak fiber berdiameter 1 m berkedalaman 50 cm. Jumlah seluruhnya ada 8 bak, menempati ruang seluas 40 m x 10 m. Masing-masing bak dilengkapi selang air yang terus-menerus mengucurkan air. Agar tak luber di sisi depan bak dibuat lubang seukuran bola pingpong. “Saya menerapkan pemeliharaan sistem air bersih bukan air hijau,” papar anak ke-3 dari 5 bersaudara itu.

Cara itu memang boros air. Toh ketersediaan air di pabrik trafo itu tidak jadi kendala. Air itu disedot dari sumur di belakang rumah. Masalah timbul saat listrik mati. Pompa air praktis tak berfungsi sehingga asupan air bersih terhenti. Gara-gara itu pada 1998 sekitar 20 maskoki berukuran 15 sampai 25 cm menemui ajal. Namun, kini seperangkat generator disiapkan untuk berjaga-jaga.

Setiap bak fiber rata-rata diisi 5 sampai 8 maskoki. Jenisnya bermacam-macam seperti oranda merah putih, oranda kaliko, ranchu, mata balon, tossa, dan mutiara. Beberapa jenis lama seperti lion head dan moor juga ada. Sebagian besar mereka telah mencapai ukuran 25 cm. Siapapun yang berkunjung pasti terkesima karena jarang maskoki sebesar itu ditemukan di hobiis lain.

bak fiber
Dipelihara di bak fiber di atas loteng

Cassius auratus itu dicampur antarjenis. Dalam 1 bak bisa 3 sampai 4 jenis berbeda. Diakui Akim cara itu tidak ideal karena setiap jenis menghendaki jenis pakan berbeda. Maskoki tanpa sirip seperti rancu dan mata balon suka menyantap pelet di dasar. Yang lain seperti oranda dan mutiara gemar menyantap pelet mengambang. “Karena itu saya selalu memberi kedua jenis pelet sekaligus,” ucap Akim.

Banyak juara

Semua maskoki yang dikoleksi Akim rdihan dari beberapa importir dan kolega sesama penghobi. Wajar jika harganya mahal, rata-rata Rp3-juta sampai Rp4-juta mpiah. Apalagi untuk jenis langka seperti “inchu pompom mencapai 2 kali lipat.

Untuk memperolehnya bukan perkara gampang. “Kadang bisa menunggu sampai -etahun,” papar alumnus sebuah akademi :i Jakarta itu. Jika ada jenis maskoki yang diinginkan, Akim tak serta merta membelinya. Setidaknya perlu 2 kali bolak-balik untuk menimbang-nimbang sebelum transaksi terjadi. Tentu saja bukan masalah harga, tapi kualitas.

Menurut Akim kejelian mutlak memerlukan untuk memilih yang bagus. Salah satunya kemampuan menebak makah maskoki yang dibeli bisa berumur ranjang, bercorak bagus, dan memiliki reluang menjadi kampiun di arena kontes.

Sudah dari kecil saya memelihara naskoki sehingga tahu pasti kualitas yang bagus,” ucapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Beberapa koleksinya kerap merajai kontes. Terbukti di lemari berukuran 1,5 m x 1 m x 3 m di penuhi piagam dan piala kejuaraan. Di sana berjejer antara lain piala grand champion tossa/ryukin pada kontes Walikota Jakarta Utara HUT Jakarta 474, juara umum kontes ikan hias kategori maskoki di Mali Puri Indah 1998, dan juara I kontes ikan hias nasional maskoki di Plaza Gajahmada. Tak ketinggalan piala ketika tossanya dinobatkan sebagai kampiun di Taman Akuarium Air

Tawar TMII 2000 dan jawara ranchu di kontes ikan hias nasional maskoki di Mali Puri Indah 2000.

Hobi Sejak kecil

Kegemaran Akim memelihara kelangenan asal Cina itu sudah berlangsung sejak kecil. Sang ayah kebetulan juga menyukainya. “Saat itu yang dipelihara hanya jenis lion head dan moor,” papar pria yang fasih berdialek mandarin itu. Maskoki sempat ditinggalkan Akim lantaran kesibukan sekolah. Baru menginjak 1990-an setelah menangani pabrik, hobi itu dilirik kembali.

Tak tanggung-tanggung total puluhan juta ripah secara bertahap dikeluarkan untuk memuaskan hobinya. Meski mengaku tak pernah sampai berburu ke luar negeri, tapi secara bertahap maskoki-maskoki bagus hadir. Maskoki-maskoki itu ditempatkan di bak fiber. Berbeda dengan dulu. Bersama sang ayah memeliharanya di kolam pot seperti di Negeri Tirai Bambu.

Agar koleksinya tetap sehat, pakan dan obat terbaik khusus maskoki selalu tersedia. Begitu pula beberapa perlengkapan pengetes kualitas air. Semua ditata rapi dalam sebuah lemari kecil. “Ya..siap sedia saja, kalau terjadi apa-apa bisa cepat ditangani,” ujar Akim. Menurutnya perubahan pH membuat corak ikan buram. Belum lagi kehadiran penyakit musiman seperti white spot dan fin root.

Pria yang tinggal di kawasan Jembatan Tiga, Jakarta Barat, itu tak bisa dipisahkan dari maskoki. Ia telah merasakan manfaatnya: stres hilang dengan bermain-main bersama maskoki. “Begitu melihat dan memberi pakan, lupa semua kerjaan kantor,” tuturnya. Sebab itu pula sebuah bel dari kantor langsung terhubung ke loteng. Sewaktu-waktu ada tamu ke kantornya, stafnya tinggal memencet bel untuk mengingatkan, tet…tet…tet…. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment