Budidaya Tani

Ikan Koi: Yang Menangis karena Herpes

Kesedihan menyergap Roy Andre da Costa Mei setahun lalu. Ketika itu tubuh 11 koi kualitas kontes melepuh dihantam herpes. Nyawa mereka gagal diselamatkan hingga Rp125-juta terkubur bersama ikan hias itu. “Mestinya musibah itu tak terjadi,” ujar pengacara yang gandrung koi itu penuh sesal.

Saat itu alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu memang tengah sibuk membela klien di Mahkamah Militer Palembang. Ia bolak-balik Bandung-Palembang sehingga kondisi kolam tak terpantau. Namun, bukan lantaran itu yang menjadi penyesalan. Begini duduk perkaranya. Semula ia menyodorkan 3 ogon kepada sebuah farm untuk memenuhi permintaan pelanggan. Farm di Bandung itu tak memiliki ogon.

Karena beberapa bulan koi berukuran 40 sampai 50 cm itu tak diambil, oleh farm itu dikembalikan kepada Roy. Celakanya, ke-3 ikan itu langsung dimasukkan ke kolam di rumah Roy oleh pemilik farm. Koi yang terinfeksi virus itu menulari ikan lain. Itu yang sebetulnya disesali anak ke-11 dari 14 bersaudara. Saat itu Roy tengah di Palembang. Dua hari kemudian satu per satu tubuh ogon melepuh. Keesokan pagi ikan itu mengambang di kolam.

Bagai petasan renteng, kematian 3 ogon itu menjalar ke koi lain di kolam yang sama. Hanya 2 ekor yang akhirnya terselamatkan. Jika ingat peristiwa itu suami Ria Mulyati Irawan itu meradang. Itulah sebabnya, “Lebih baik saya melupakan.”

Dititipkan

Koi koleksi Fanny Arifian tak luput dari serangan herpes. Taisho sanke 57 cm itu ditemukan mengambang di kolam pada Juli . Seperti Roy, Fanny juga menitipkan koi pada seorang rekan lantaran kesibukan sebagai panitia kontes. Padahal sebelumnya ikan kesayangan mahasiswa Universitas Islam Indonesia itu ditawar Rp12-juta. Ketika dibeli pada Maret 2000 harganya cuma Rp50.000.

Namun, ia mempertahankan lantaran, “Koi itu koi lokal asal Yogyakarta pertama yang meraih gelar di kontes ZNA,” ujarnya. Ketika ZNA Indonesia Chapter Show II di Surabaya digelar koi itu merebut juara I di kelas sanke 25 cm. Tercatat 18 sanke lain tersisih. Ikan yang sama juga merengkuh gelar lain saat mengikuti kontes di Yogyakarta dan Blitar.

Akhirnya koi tangkaran Juwito di Sleman itu tak mampu mengukir prestasi lagi. Herpes menghentikannya. Ada 30 ekor lain yang menjadi korban keganasan penyakit mematikan itu. Harganya bervariasi Rp1 00.000 hingga jutaan rupiah per ekor. Jerakah pria muda itu? “Tidak!Saya tidak sekadar memelihara koi. Tapi juga belajar budaya, filsafat, dan sejarah penamaan koi,” ujarnya.

Rugi Jutaan rupiah

Roy di Jawa Barat, Fanny di Jawa Tengah, lalu Ngalimun di Jawa Timur. Peternak di Blitar itu sedih bukan kepalang. Sumber pendapatan terguncang ketika virus itu mengamuk pada April . Sebelum epidemi itu meluas, pendapatan ayah 2 anak itu minimal Rp6-juta per bulan. Itu hasil penjualan 200 sampai 400 ekor per bulan. Ngalimun menjual di rumah secara borongan Rp30.000 sampai Rp50.000 per ekor.

Harga jual melambung hingga Rp1-juta sampai Rp2-juta per ekor ketika peminat memilih sendiri ikan di kolam. Khusus ikan kualitas kontes, Ngalimun pernah menjual hingga Rp 1 OO-juta per ekor. Tentu saja pundi-pundi petemak sejak 10 tahun lalu itu bakal menggelembung. Namun, begitu herpes mewabah pendapatannya kempes hanya Rp700.000 per bulan.

Bagi Ngalimun puncak serangan virus itu saat 1.500 ekor terkapar pada April sampai Mei . Jika harga per ekor Rp30.000, kerugian yang diderita Ngalimun Rp45-juta. Jumlah yang sangat besar. Ia menduga, “Penularan herpes berasal dari air sungai yang digunakan untuk mengairi kolam.” Ngalimun memang tak sendirian. Sebab, tak satu pun petemak di Blitar yang selamat dari herpes .

Saat ini virus mematikan itu berlalu. Namun, waspada dan menjaga kebersihan kolam serta ikan suatu keharusan. Tujuannya agar serangan virus yang membuat petemak dan hobiis menangis itu dapat dicegah.

Pandu Dwilaksono