Budidaya Tani

Impian Bersanding dengan Aquarama

Potensi ikan hias yang begitu besar belum optimal tergarap. Oleh karena itu butuh promosi besar-besaran. Pemerintah x menggelontorkan dana Rp1,3-miliar untuk menyelenggarakan pameran ikan hias internasional bertajuk The 1st Indonesia International Ornamental Fish and Accessories Expo 2020.

Ruangan 30 m x 15 m di Semanggi Expo, Jakarta Selatan, itu dipadati ribuan pengunjung. Pendingin ruangan tak mampu mengenyahkan suasana gerah. Melangkah dengan leluasa terasa begitu sulit. Pengunjung tampak antusias untuk menyaksikan pameran ikan hias internasional The ls’ Indonesia international Ornamental Fish and Accessories Expo 2020. Indofish 2020 cemikian nama populernya berlangsung 11 sampai 24 Agustus.

Itulah pameran ikan hias internasional perdana di Indonesia. Internasional Penyelenggara Departemen Kelautan dan Perikanan memang mengundang praktisi ikan hias dari berbagai negara.

Sayang, ketika hari H pelaksanaan, mereka yang menyanggupi hadir membatalkan. Maka seluruh paviliun yang berjumlah 67 buah diisi peserta dari dalam negeri, antara lain peternak dan eksportir ikan hias, distributor pakan ikan, akuarium, serta dinas perikanan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Tengah, Magelang, dan Bali.

Tanpa target

Bom yang meledak di Hotel JW Mariott pada 5 Agustus dituding sebagai biang keladi absennya peserta mancanegara. Lantaran bom pula panitia mengalihkan lokasi pameran. Semula ekshibisi raya itu bakal dilangsungkan di Bali. Namun, sebuah bom meluluhlantakkan Legian, Bali, 12 Oktober tahun silam. Tiga bulan sebelum acara digelar, panitia akhirnya memutuskan pindah ke Jakarta.

Meski hanya peserta domestik, itu tak mengurangi kemeriahan acara. Buktinya, setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Dr Rokhmin Dahuri membuka pameran, pengunjung terus mengalir ke Semanggi Expo. Dalam sambutannya Rokhmin mengatakan, Indofish 2020 kesempatan emas bagi praktisi untuk mempromosikan berbagai ikan hias, tanaman air, dan perlengkapan akuarium.

Tak ada target yang ingin dicapai dari penyelenggaraan pameran akbar itu. “Sifatnya promosi,” tutur Drs Putu Sumardika MSc, Kasubdit Promosi Kerjasama Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), usai acara pembukaan. Beberapa peserta yang dihubungi Budidaya Tani juga mengatakan hal serupa. Zeno Wirawan, peternak ikan hias di Bekasi, misalnya, sekadar memperkenalkan ikan-ikan hasil tangkarannya.

Aquarium ikan
Membuka pasar dunia

Begitu pula Hendra Iwan Putra, eksportir ikan hias, tak berharap banyak memperoleh pesanan setelah mengikuti pameran. Itulah sebabnya, ketika importir dari Singapura berhasrat mengunjungi farm, Sunaryo amat bungah. “Mereka mungkin tak percaya, ikan itu temakan saya,” tutur peternak lou han di Cilincing, Jakarta Utara. Ia berharap sang importir lantas memesan secara kontinu ikan hias hasil tangkarannya.

Nomor Tiga

Untuk memeriahkan pameran, panitia menyelenggarakan seminar tentang perdagangan ikan hias dunia. Tarlochan Singh, praktisi ikan hias asal Malaysia, menjadi pembicara pada seminar itu. Adu bagus-bagusan ikan seperti lou han, cupang, diskus, dan guppy turut menyemarakkan pameran. Konsep itu mirip dengan Aquarama, pameran serupa di negeri jiran, Singapura.

Indofish disebut-sebut untuk menandingi Aquarama yang rutin diselenggarakan setiap 2 tahun sejak 1989. Dari Singapore Expo di kawasan Changi itulah tren ikan hias dunia bergulir. Tentu saja pameran sejenis, Interzoo di Jerman, turut andil mewarnai tren. Indonesia beralasan untuk mempromosikan ikan hias secara besar-besaran melalui Indofish 2020. Harap mafhum negeri ini salah satu produsen ikan hias dunia. Keanekaragamannya pun sangat tinggi.

Sayang, devisa yang ditangguk dari perniagaan ikan hias dunia relatif kecil. Data Globefish pada 2001 menunjukkan, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-3 setelah Singapura dan Malaysia. Dari total US$182.67-juta, Indonesia hanya memperoleh USS13,72-juta alias 7,5%. Bandingkanlah dengan devisa yang ditangguk negeri Tumasik yang ditemukan Sir Thomas Stamford Raffles: 22,8% (US$41,58%).

Agenda tetap

Padahal sebagian besar ikan hias yang diekspor Singapura berasal dari Indonesia. Negeri mungil itu memang piawai mengekspor ikan hias dengan memanfaatkan raiser (semacam penampungan ikan, red). Dari sana Singapura meraup laba besar. Peluang itulah yang ingin diambil alih Indonesia. Pameran Indofish 2020 salah satu jalan yang ditempuh untuk mewujudkan impian itu. Pemerintah berencana menyelenggarakan acara itu setiap 2 tahun.

Ekshibisi seperti Indofish adalah jendela bagi importir untuk melihat keragaman atau mutu ikan hias Indonesia. Wajar bila Dr Sumpeno Putro, Dirjen Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran DKP dalam upacara penutupan mengungkapkan, “Mestinya kita dapat menyelenggarakan pameran ikan hias yang lebih besar daripada pameran seperti Aquarama.”

Itu sebuah keniscayaan, bila koi dan arwana dikonteskan pada Indofish mendatang. Dengan kehadiran keduanya, ajang pameran berikutnya, “Tak tertandingi dari pameran sejenis di Cina, Jerman, maupun Singapura,” ujar Sumpeno. Keinginan itu memang bukan impian semusim. Pada penyelenggaraan mendatang kita akan tahu, itu hanya khayalan atau impian yang coba di wujudkan

Pandu Dwilaksono

Add comment