Budidaya Tani

Jagung Pakan: Peluang Besar di Balik Segudang Kendala

“Jagung itu komoditas industri karena semua bagian bisa dimanfaatkan,” tegas Gubernur Gorontalo Ir H Fadel Muhammad dalam acara panen perdana pada Agustus silam.

Makanya ia tak ragu menjadikan provinsi termuda di Sulawesi itu sebagai sentra. Setahun berselang hasil panen tak hanya dikirim ke industri pakan ternak di dalam negeri, tapi juga diekspor ke Malaysia dan Filipina.

Menjelajahi Provinsi Gorontalo berarti menjumpai deretan jagung menghampar sejauh mata memandang. Maklum Tanah Hulontalo itu memang sedang giat mengembangkan anggota famili Gramineae itu. Sampai pertengahan tahun sudah 40.000 lahan yang ditanami dari rencana 60.000 ha yang dikembangkan bertahap. Penanaman hampir di seluruh wilayah, terutama di Kabupaten Gorontalo, Bualemo, Pohuwatu, dan Bone-balango.

Budidaya Tani menyusuri jalan mulus beraspal dari ibukota provinsi menuju Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Di sana membentang 200 ha jagung di lahan datar berketinggian kurang dari 100 m dpi. Yang ditanam beragam varietas hibrida dan lokal untuk kebutuhan pangan dan industri pakan. Terlihat tongkol kuning keoranyean menyembul di antara batang-batang setinggi 1,5 m siap dipetik.

Hari itu Arimojo, pekebun di Kelurahan Dunggala, memanen 28 ton jagung hibrida produksi PT Monsanto dari 7 ha lahan miliknya. “Kalau pakai (varietas, red) lokal biasanya cuma 8 sampai 9 ton,” tutur lelaki 60 tahun itu. Hasil panen dibeli Rp700 per kg oleh pengepul, dulu paling tinggi Rp400. Dengan modal Rpl,6-juta per ha, Arimojo mengantungi keuntungan Rp8,4-juta.

Provinsi jagung

Bulan madu memang sedang dinikmati petani a jagung di Gorontalo sejak Fadel Muhammad mempromosikan daerah itu sebagai provinsi j agung. Dengan mengusung konsep agropolitan pengembangan kawasan berbasis agribisnis, pemprov menjamin ?asar dan harga buat para pekebun. Untuk menjamin hal itu tak melulu pasar lokal yang dipasok, ekspor juga dirambah.

Dengan posisi terletak di Indonesia bagian timur, sulit buat jagung dari Gorontalo bersaing terutama dalam harga dengan petani misal di Jawa. Padahal, pabrik pakan terkonsentrasi di barat: Jawa Timur, Banten, Lampung, dan Sumatera Utara.

Wajar bila kemudian ekspor jadi sasaran. “Halaman belakang kita market yang besar Kita go international ke utara. Davao (Filipina, red), Taiwan, Hongkong, dan Jepang. Itu market kita,” ujar Fadel. Itu bukan omong kosong belaka. Pertengahan Agustus  baru saja ditandatangani kontrak untuk memenuhi permintaan dari Korea Selatan sebesar 1-juta ton.

Hasil panen dari pekebun dibeli oleh para penampung. Dari sana jagung masuk ke pedagang besar atau eksportir. Sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) bertindak sebagai semacam “bulog” siap menampung hasil panen yang tak terserap pasar. Untuk meningkatkan produktivitas pemprov menggandeng produsen benih hibrida.

Keseriusan menggarap jagung juga diwujudkan dengan membangun Institut Penelitian dan Pengembangan Jagung Gorontalo. Itu merupakan pusat penelitian, koleksi plasma nutfah, bank benih, dan lahan ujicoba varietas baru yang dikelola oleh para ahli. Untuk mewujudkannya pemprov Gorontalo bekerjasama dengan Maiza Institute of Shandong di Provinsi Shandong produsen jagung di Cina.

Komoditas strategis

Geliat di Gorontalo itu angin segar buat industri jagung tanah air. Kerap terdengar pekebun di beberapa sentra kesulitan memasarkan hasil panen terutama pada musim panen raya. Kalaupun tertampung pasar, harga diterima sangat rendah Rp300 sampai Rp400 per kg.

Katakanlah pekebun menanam benih hibrida dengan produktivitas 8 ton per ha. Dengan modal Rp 1,6-juta ia hanya mengantungi keuntungan Rp 1,6-juta.

Padahal di atas kertas jagung merupakan komoditas strategis. “Bisnis jagung luar biasa. Total jenderal ia memutar dana Rp7-triliun per tahun,” tutur Dr Ir Mohammad Jafar Hafsah, dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Departemen Pertanian. Industri pakan ternak jadi pasar penting dengan serapan mencapai 30%. Sebaliknya jagung juga komoditas penting buat industri itu lantaran kebutuhannya mencapai 50% dari total produksi. Ia merupakan sumber energi tertinggi.

“Jadi jika total produksi seluruh industri pakan ternak mencapai 6-juta ton per tahun, berarti kebutuhan jagung mencapai 3-juta ton,” papar Askam Sudin, ketua badan penelitian dan pengembangan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT). Pada tahun lalu kebutuhan jagung untuk seluruh pabrik pakan mencapai 3,3-juta ton.

Dari jumlah itu, 1-juta ton masih diimpor. Padahal data Biro Pusat Statistik menunjukkan produksi nasional mencapai 10-juta ton. Itu berarti, semestinya tak perlu ada impor. Menurut Jafar peruntukan jagung yang utama ialah konsumsi langsung, misal beras jagung atau diolah menjadi tepung, maizena, dan keripik. Zea mays itu memang bahan pangan utama setelah beras.

panen jagung
proses panen jagung

Namun, bukan lantaran jagung terserap untuk pangan sehingga industri pakan ternak memasukkan jagung impor. “Patron penanaman dan panen jagung berlainan dengan kebutuhan industri pakan,” kata Po Indarto Gondo, vice presiden Charoen Pokhpand Indonesia (CPI). Kebutuhan jagung CPI meningkat pada Oktober sampai November. Itu terkait dengan lonjakan permintaan dari peternak ayam porsi pakan ayam menempati 85% dari total produksi yang sedang mempersiapkan diri menjelang hari raya. Sementara peningkatan pasokan jagung justru terjadi pada Februari sampai April.

Bea masuk

Itu diamini pula oleh praktisi lain. Menurut Sidi Asmono, business lead corn Monsanto produsen benih merek C7 masih ada kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan terutama dalam hal kontinuitas. Sebanyak 60% panen jagung di tanah air terjadi pada musim hujan, sisanya pada kemarau. Dengan total produksi 10-juta ton per tahun berarti sebanyak 6-juta ton diproduksi pada Januari sampai Maret.

Di lain pihak kebutuhan industri pakan ternak mencapai 3-juta ton per tahun atau 250.000 ton per bulan. “Dengan begitu kebutuhan industri pakan ternak selama 3 bulan (Januari sampai Maret, red) hanya 1-juta ton. Artinya ada kelebihan pasokan yang tidak dapat ditampung industri pakan ternak,” tutur Sidi. Namun, begitu panen raya usai industri pakan ternak kelabakan mencari pasokan.

Industri pakan ternak belum memiliki fasilitas yang mampu menampung surplus pasokan selama panen raya dalam jumlah besar dan waktu lama. CP1 sebagai pabrik pakan ternak di Indonesia pun hanya sanggup menambah kapasitas penyimpanan hingga 120.000 ton. Itu pun paling banter habis terpakai hingga 1,5 bulan ke depan. Mau tak mau impor mesti dilakukan. Kebanyakan didatangkan dari Cina karena lebih murah dan lokasi dekat, sisanya dari Amerika Serikat.

Gara-gara itu ada tudingan pengusaha pakan ternak lebih suka produk impor. Bahkan Menteri Pertanian Bungaran Saragih berniat menerapkan bea masuk pada jagung impor untuk melindungi pekebun lokal. Menurut Jafar bea masuk 30% merupakan angka ideal. Keinginan itu wajar saja.

Kerap terjadi begitu jagung impor masuk, pekebun menjerit karena harga beli oleh pabrik pakan ternak terjun bebas. Apalagi Indonesia satu-satunya negara yang tidak memberlakukan itu. “Di Filipina saja bea masuk jagung impor mencapai 100%,” kata Sigit E Susilo, country head seeds division PT Syngenta Indonesia.

Silo penampung

Sebenarnya produsen pakan sendiri lebih suka jagung lokal meski selisih harga dengan impor mencapai Rp50 per kg. “Lokal lebih fresh, warna kuning,” ujar Indarto. Warna kuning mempengaruhi kualitas kulit ayam pedaging dan telur. Sementara bila mengimpor membutuhkan waktu paling tidak 2 bulan, jagung sudah tidak segar dan lebih pucat. Oleh karena itu 70% dari kebutuhan CPI sebesar 90.000 ton per bulan dipasok produk lokal.

Lagi-lagi ketersediaan tidak kontinu jadi kendala. Selain itu belum semua jagung lokal bebas aflatoksin. Padahal itu salah satu syarat kualitas yang ditetapkan industri pakan ternak. Tidak semua pekebun mampu memenuhi permintaan kadar air sebesar maksimum 14 sampai 15%. Seusai panen jagung hanya dijemur di bawah matahari sehingga kadar air masih cukup tinggi. Cendawan Aspergillus flavus penyebab aflatoksin rentan masuk.

Toh segudang kendala itu sebenarnya bisa diatasi. Salah satunya dengan membangun pengering dan silo agar kelebihan produksi jagung bisa disimpan. “Di negara importir kendala iklim malah lebih ekstrem, tapi di sana sarana pengeringan dan penyimpanan baik sehingga hasil panen bisa disimpan bahkan diekspor,” papar Sidi.

Untuk mewujudkan hal itu petani didorong untuk mengorganisir diri menjadi organisasi ekonomi yang dilengkapi silosilo. Para pengepul diberdayakan dengan memberikan kredit untuk pengering. Bila perlu dibuat semacam bulog oleh pemerintah seperti yang di Thailand. Pun ada kerjasama antara pabrik pakan dan pengumpul atau pekebun di sentra produksi. Salah satunya kemitraan yang dilakukan CPI dengan pekebun di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Jagung Hibrida
Jagung Hibrida kian digalakkan

Dengan ketersediaan pengering dan silo yang memadai maka kualitas jagung yang diinginkan industri pakan sampai kadar air maksimal 14% dan bebas aflatoksin lebih terjamin. Pun kuantitas dan kontinuitas pasokan. Itu pula yang menggerakkan BPPT untuk membangun pilot project pemipilan sekaligus pengering. Alat itu sudah diujicoba di Sumedang dan Sumatera Selatan. Kapasitas produksi di Sumedang mencapai 8 ton tonggkol kering. Hasilnya menjadi 3 produk: jagung pipilan dengan kadar air 14%, tepung jagung, dan pakan ternak.

Prospektif

Untuk meningkatkan produktivitas, penggunaan jagung hibrida getol dikampanyekan. Apalagi kini dari total penanaman seluas 3-juta ha, benih hibrida baru ditanam seluas 600.000 sampai 700.000 ha. Para produsen benih pun terus berupaya mendapatkan varietas-varietas baru yang toleran kekeringan agar pola tanam bisa berubah.

Bila itu semua terwujud bukan tak mungkin jagung Indonesia diekspor. “Sekarang saja kami sudah menerima order 600 ton per bulan dari pabrik pakan ternak dan tongkol untuk ekspor,” kata Ir Sutardjo MSi, kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya Tanaman Tahunan.

Ekspor menjadi sebuah peluang menguntungkan. Leonard Yokon, eksportir di Gorontalo, sudah mengecapnya selama 14 tahun. Selain harga tinggi dan stabil US$100 sampai 105 per ton. persyaratan kualitas pasar ekspor pun lebih longgar. Soal kuantitas? “Permintaan ekspor tak terbatas,” tegas Koh Liong, sapaan akrabnya.

Toh pasar lokal bukan berarti dikesampingkan “Dengan jumlah penduduk 200-juta jiwa, sumber protein yang paling murah dari peternakan ayam. Itu mempengaruhi permintaan terhadap pakan ternak yang ujung-ujungnya penambahan kebutuhan jagung,” ujar Sidi. GPMT mencatat kenaikan permintaan jagung 15% per tahun. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment