Budidaya Tani

Jagung, Prospek Bisnis Luar Biasa

Jagung merupakan komoditas pertanian strategis karena digunakan secara luas dalam berbagai industri. Bulirnya tak hanya sebagai bahan pangan dan pakan, tapi juga merupakan bahan baku industri untuk dijadikan tepung, sirup, dan methanol. Tongkol muda dipetik sebagai sayuran untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor. Atau dimakan langsung misal sebagai jagung bakar atau beras jagung.

Batang muda dimanfaatkan untuk pakan hijauan ternak yang banyak diminta pasar dunia, terutama negara-negara Asia dan Eropa. Kelobotnya dijadikan bahan baku kerajinan tangan.

Total jenderal bisnis jagung memutar dana Rp7-triliun per tahun. Oleh karena itu, pengembangan jagung merupakan prioritas ke-2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bina Produksi setelah padi.

Saat ini areal penanaman mencapai 3,3-juta ha. Dengan luasan itu Biro Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi pada tahub lalu mencapai 10,4-juta ton (angka ramalan ke-2) dari sasaran 11,5-juta ton.

Angka itu merupakan produksi jagung tertinggi selama ini. Dibandingkan dengan produksi tahun ini terjadi peningkatan sebesar 7%. Itu fantastis karena angka peningkatan lazimnya bergerak di 2,5 sampai 3%.

Faktor pendorongnya, pertama, peningkatan produktivitas. Itu karena berbagai kombinasi penerapan teknologi, seperti pupuk berimbang dan terutama penggunaan benih unggul benih hibrida. Saat ini pemanfaatan benih hibrida di lapang mencapai 30% dari total penanaman.

Peningkatan produktivitas sangat signifikan karena ia peka perlakuan budidaya. Dengan pemupukan berimbang dan agroklimat sesuai, produktivitasnya melejit. Selain itu, ada penambahan areal seluas 110.000 ha dibanding tahun lalu.

Distorsi pasokan vs kebutuhan

Sejalan dengan berkembangnya industri pakan ternak unggas ternak unggas sumber protein termurah buat masyarakat jagung kian memegang peranan penting. Pada tahun ini diperkirakan kebutuhan industri pakan ternak mencapai 4-juta ton. Dengan perkiraan produksi 10,4-juta ton seharusnya kebutuhan itu terpenuhi. Namun, kenyataannya pabrik pakan masih mengimpor.

Itu bisa dimaklumi. Industri pakan membutuhkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan. Dari segi kualitas jagung dalam negeri lebih segar. Yang diimpor mungkin sudah disimpan di negara penghasil 1 sampai 2 tahun sehingga kadar protein berkurang 3 sampai 4%. Yang jadi kendala kuantitas dan kontinuitas pasokan yang belum sejalan dengan kebutuhan pabrik.

Total produksi 10,4-juta ton tidak dipanen kontinu dalam 12 bulan. Sebanyak 60 sampai 70% penanaman jagung dilakukan pada musim hujan (Oktober sampai Maret); sisanya di luar itu.

Akibatnya produksi menumpuk pada Januari Maret, sedangkan pada April September rendah karena tak ada penanaman saat kemarau. Ini jadi masalah karena industri bekerja per bulan. Mereka pun tidak sanggup menyimpan kelebihan produksi karena terbatasnya silo yang dimiliki.

Petani dengan keterbatasan alat pengering dan penyimpanan terpaksa menjual dengan harga murah. Begitu produksi rendah, harga naik tapi barang sudah terbatas. Sementara organisasi petani jagung belum kuat untuk dapat menyiapkan stok dan menjaga keseimbangan kontinuitas itu. Akibatnya petani jadi tidak terangsang untuk menanam jagung.

Sebenarnya terjadinya distorsi antara pasokan dan kebutuhan itu karena persoalan distribusi. Oleh karena itu perlu ada langkah-langkah pemecahan masalah. Pertama, petani mengorganisir diri menjadi organisasi ekonomi jagung yang dilengkapi dengan silo-silo. Kedua, pabrik pakan diharapkan turun hingga level kabupten misalnya supaya mudah mengorganisir diri dengan petani.

Atau bekerja sama dengan pedagang pengumpul di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara. Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Gorontalo membangun pengering dan silo.

Tujuannya agar penumpukan produksi jagung dapat disimpan dan didistribusikan pada April sampai September sehingga tidak perlu mengimpor lagi. Dengan kehadiran pengering dan silo, kualitas jagung dengan kadar air 14 sampai 15% yang diminta pabrik pakan lebih mudah terpenuhi. Pun kuantitas dan kontinuitas pasokan. Malah pada akhirnya membuka peluang ekspor. Itu yang dibuktikan oleh pemda Gorontalo.

Ketiga, pabrik pakan bermitra langsung dengan petani Bagaimanapun kesinambungan sebuah bisnis di suatu tempat lebih terjamin bila bahan baku diperoleh dari tempa’ itu ketimbang impor. Keempat, diharapkan pabrik pakar kecil dan menengah juga berkembang. Dengan kapasitas pabrik lebih kecil, skala ekonomis pengusahaan jagung d lokasi itu ikut kecil juga sehingga lebih mudah terpenuhi.

Penentu harga

Mengapa yang dilibatkan pabrik pakan? Dengan serapan 30% dari total produksi serta waktu dan volume tertentu ia jadi penentu harga. Mestinya begitu jagung secara kontinu diserap oleh pabrik pakan, itu bisa memperbaiki harga secara keseluruhan. Sehingga petani berlomba-lomba menanam jagung, produksi terus naik.

Saya jamin begitu dirangsang dengan harga, produksi bisa naik hingga 13-juta ton. Menanam jagung relatif mudah ketimbang tanaman lain. Pada fase tertentu, kenaikan produksi dan produktivitas jagung menyebabkan harga turun sedikit. Namun, itu tidak jadi masalah karena produktivitas besar.

Kendalanya, petani Indonesia belum siap berbisnis. Mereka hanya siap bercocok tanam, itu nomor 1 di dunia. Sementara petani yang pebisnis masih sedikit. Kebalikannya dengan di Thailand. Petani sudah berubah menjadi pebisnis yang dilakoni secara individu dan kelompok dalam bentuk koperasi.

Di satu sisi lembaga petani belum kuat menjadi lembaga bisnis. Di lain pihak, lembaga bisnis lain, misal pedagang pengumpul relatif kuat sehingga posisi tawar-menawar tidak seimbang. Akibatnya petani tidak mudah melakukan manuver-manuver pengingkatan produksi dan produktivitas.

Oleh karena itu, dibentuklah dewan jagung nasional yang di dalamnya terdiri dari kumpulan stakeholder masyarakat dalam bentuk organisasi segala asosiasi yang mengurusi jagung. Dewan inilah yang merupakan pengatur poros kebijakan yang akan dilakukan.

Selain itu tetap dibutuhkan regulasi, antara lain berupa bea masuk impor. Indonesia satu-satunya yang tidak melakukan itu. Untuk jagung 30% sudah cukup memadai. Begitu itu diterapkan, impor langsung berhenti karena tidak menguntungkan. Toh produsen dalam negeri siap mengisi kekosongan pasokan itu 3 bulan sejak diberlakukannya regulasi.

Wajar karena itu merupakan salah satu insentif buat petani dan alat penjaga stabilitas harga. Bila semua itu terjadi, 1 sampai 2 tahun ke depan mengekspor adalah sebuah keniscayaan.***

Yudi Anto

Add comment