Jagung Pulut: Jagung Super Special dari Gorontalo

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

“Rugi kalo ke Gorontalo nyanda makan milu pulo  papar Dr Ir Adolf Lucky Longdong dengan logat Manado yang kental. Milu pulo yang dimaksud wakil kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Utara itu adalah jagung ketan. Maklum, hampir tak ada jagung lain yang seenak jagung dari daerah asal pahlawan nasional Nani Wartabone itu.

Kelezatan jagung ketan alias jagung pulut tersohor di Provinsi Gorontalo dan sekitarnya. Kulit biji dan tekstur daging halus lembut. Bila dimakan, sedikit pun tak ada ampas yang tersisa dan nyelip di sela-sela gigi. Rasanya manis, tak kalah dibanding jagung manis sweet corn. Malah, kadar gula jagung manis cepat menurun setelah panen, jagung ketan tak berkurang setelah 3 sampai 4 hari dipanen sekalipun.

Bacaan Lainnya

Saking tersohornya, Presiden Megawati tertarik untuk mengembangkan di Jawa. “Gubernur Fadel Muhammad secara resmi menyerahkan 10 kg benih jagung pulut kepada Ibu Megawati saat panen raya jagung di Kebumen Mei lalu.” papar Dr Ir Djamaluddin MS, kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo.

Jagung pulut mudah dibedakan dari jagung lain Ukuran butiran kecil, warna putih mengkilap bak mutiara. “Saat dimasak, daging mudah pecah dan lengket karena berkadar glutin tinggi,” tutur ahli peneliti utama Badan Litbang Pertanian itu. Ia 100% mengandung amilopektin, komponen pati sedikit larut dalam air. Ukuran tongkol tergolong pendek hanya 15 cm.

Asli Gorontalo

Tak ada yang tahu sejarah jagung ketan di Gorontalo. Yang pasti, ia sudah lama berkembang di provinsi yang mencanangkan Agropolitan Jagung pada Februari itu.

Pengembangan jagung ketan memang tak sepesat jagung hibrida untuk pakan ternak. Jagung hibrida yang menjadi andalan ekspor provinsi baru itu mampu meraup devisa US$667.000 pada Januari Juni . Sedangkan jagung ketan hanya terserap pasar lokal untuk konsumsi terbatas. “Paling-paling hanya untuk teman bersantai di pagi atau sore hari, baik direbus atau dibakar,” tutur doktor alumnus IPB itu. Namun, karena menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat Gorontalo petani tak meninggalkan jagung khas daerah itu.

Penanaman jagung ketan tersebar di seluruh provinsi. Mulai dari Kabupaten Gorontalo, Bualemo, Pohuwato, hingga Bone Bolango. Mardi Susilo, Kasubdin Produksi, memperkirakan luas areal pertanaman jagung ketan sedikitnya 2.000 ha. Atau sekitar 5% dari total areal pertanaman jagung di sana yang mencapai 40.000 ha.

Karus, petani di Desa Iloponu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo salah satunya. Ia mengelola lahan 1,5 ha. Alasannya, menanam jagung ketan juga menguntungkan meski produktivitas lebih rendah dibanding hibrida kuning. Apalagi sebagai jagung rebus, ia dipanen muda saat umur 55 sampai 60 hari. Untuk dijadikan benih pun, paling lama umur tanaman hanya 70 sampai 75 hari. Dengan begitu ia dapat menanam 4 sampai 5 kali dalam setahun.

Dengan jarak tanam rapat, 20 cm x 60 cm, populasi per ha mencapai 83.000 tanaman. Dari jumlah itu, minimal dapat dipanen 80.000 tongkol. Dengan harga mentah Rp125/tongkol, Karus mendapat Rp10-juta/ha dalam 2 bulan. Biaya produksi per ha tak lebih dari Rp2-juta.

Banyak dicari

Permintaan tinggi menyebabkan, “Saya harus mengambil pula dari petani lain,” papar pemilik kios jagung rebus di jalan raya Manado Gorontalo itu.

Untuk melayani konsumen setiap hari ia harus menyiapkan minimal 5 karung jagung rebus. Setiap karung berisi 250 sampai 300 tongkol. “Konsumen yang mampir ke kios untuk makan saja paling tidak menghabiskan 2 karung per hari,” paparnya. Belum lagi jagung yang disiapkan untuk pelanggan di pasar-pasar seputaran Gorontalo.

Untuk konsumen langsung, jagung rebus siap konsumsi dijual seharga Rp 1.000 per 4 sampai 5 tongkol. Sedangkan kepada pedagang pasar harga jual lebih miring, Rp 1.000 per 6 sampai 7 tongkol. Selain jagung tongkol, kiosnya juga menjual sedikitnya 50 liter benih per hari dengan harga Rp2.500/liter. Dari penjualan sebanyak itu, minimal ia mendapatkan omzet Rp400.000 per hari.

Yanto Lapassa, pedagang di Pasar Telaga Kabupaten Gorontalo, meraup omzet Rp 1-juta per minggu. Hal serupa juga dirasakan Yanti Kolibu, pedagang jagung ketan sejak 1997 di pasar itu. Setiap hari setidaknya 5 gantang habis terjual. Setiap gantang berisi 12 liter jagung rebus pipilan. Dengan harga eceran Rp 1.000 per liter, ia untung Rp5.000/gantang.

Ketan hibrida

Melihat potensi pasar cukup besar, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo menggandeng Balai Penelitian Jagung dan Serealia Lain (Balitjas) di Maros. Instansi itu kini sedang berupaya mencari varietas yang produktivitasnya cukup tinggi dengan ukuran tongkol seragam.

Menurut Djamaluddin, saat ini produktivitas ketan lokal gorontalo masih di bawah 4 ton/ha. Ukuran tongkol juga tidak seragam.

“Saat ini diperoleh 12 galur hibrida berpotensi unggul,” papar mantan peneliti jagung di Balitjas. Semuanya sudah diuji coba di Maros dan sedang ditangkarkan kembali di lapangan untuk diuji multilokasi. Bagaimana hasilnya, kita tunggu saja.

Begitu klobot hijau disingkap, tampaklah butiran putih dan kuning . k Cukup dikukus 2 menit, jagung asal Jepang itu lezat disantap hangat. Rasanya? Wuih sangat manis. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan, kadar manisnya 20 briks. Pantas jika kerabat gandum ini acap dimanfaatkan sebagai koktail. Itulah yang menyebabkan ia kesohor sebagai jagung koktail

Selain dikukus, Zea mays itu juga lezat jika dimasak dengan microwave. Namun, jangan terlampau lama, hanya setengah menit. “Setengah matang lebih enak. Aroma jagungnya masih kuat,” Ujar Acep yang mengebunkan jagung koktail. Jangankan dimasak, dimakan mentah pun anggota famili Gramineae itu cukup nikmat.

Harga Jual Cukup Mahal

Acep mendatangkan benih dari Jepang hanya untuk memenuhi konsumsi rumahan orang Jepang di Bandung. Hingga saat ini suami Sherly itu 3 kali menanam. Kini jagung ini menembus pasar swalayan dan restoran di Bandung serta Jakarta. Konsumennya tidak hanya orang Jepang tetapi juga masyarakat Indonesia. Di Jakarta koktail bisa diperoleh antara lain di Clubstore, Ranch Market, Cosmo, Sogo, dan Alfa.

Bagi konsumen yang telah merasakan manisnya jagung ini. Harga pun seperti bukan masalah. Harga di tingkat petani Rp 10.000 per kg tanpa kelobot. Bandingkan dengan jagung manis biasa yang hanya Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg.

Secara fisik penampilan jagung koktail sama dengan jagung manis lain. Tinggi tanaman 2 meter. Ukuran tongkolnya tidak lebih dari 20 cm. Bobot per tongkol sekitar 200 gram. Menurut Acep supaya tongkol brukuran besar, satu tanaman hanya dituai 1 tongkol.

Jarak tanam 80 cm x 30 cm atau populasi per hektar 41.000 tanaman. Jika tumbuh baik, tanaman ini akan dipanen 68 hari setelah tanam dengan produksi 7 sampai 8 ton.

Bagi konsumen, hadirnya jagung koktail merupakan pilihan pangan baru. Dan bagi petani, dengan harganya yang tinggi menjadi pilihan usaha menguntungkan.

Pos terkait