Budidaya Tani

Jagung Sakti dari Andalas Tahan Serangan Peronosclerospora maydis

Ingat Tua Gila dari Andalas? Di zamannya, hanya Sinto Gendeng sampai guru pendekar kapak maut Naga Geni 212 yang mampu menandingi kedigdayaannya. Tak hanya Tua Gila yang sakti di Bumi Andalas.

Jagung andalas pun tangguh, ia sanggup menangkis penyakit bulai, momok pekebun jagung di Nusantara.

Bukan tanpa alasan jagung andalas disejajarkan dengan Tua Gila. Saat uji tanding melawan 3 jagung yang kesohor asal mancanegara, ia menang telak mengatasi penyakit bulai cendawan Peronosclerospora maydis. Lebih dari 60% jagung andalas dapat dipanen dengan kualitas bagus. Tiga pesaingnya keok, 40 sampai 60% jagung yang ditanam porak poranda [efn_note]Setyawan, Budi, et al. “Preliminary Trial of 11 New Hybrid Maize Genotype to the Resistance on Java Downy Mildew (Peronosclerospora Maydis).” IJASEIT, vol. 6, no. 2, Nov. 2017, pp. 262–64.[/efn_note].

Tak hanya itu keunggulan jagung andalas. Hasil pengujian yang dilakukan oleh H Sukri Suid sampai sang penemu sampai sejak 1997 menunjukkan jagung andalas tahan rebah, busuk tongkol, hawar daun, dan karat daun. Daya adaptasinya juga luas, dari wilayah 60 sampai 1.200 m dpi. Ia kian menarik hati pekebun lantaran saat panen, batang dan daun masih hijau. Itu menjadi nilai tambah karena batang dan daun hijau dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Butir Jagung mutiara

Butiran jagung andalas berjenis mutiara dan berwarna jingga. Itu sangat disukai pabrik pakan ternak sehingga pekebun mudah memasarkan. Tongkolnya panjang dan silindris. Batang kokoh dan perakaran kuat. Ia dapat ditanam di daerah berpasir dan berangin kencang. “Tak perlu khawatir rebah,” kata Sukri.

Selain itu jagung andalas respon terhadap pemupukan dan tahan kemarau. Pantas potensi hasil anggota keluarga Gramineae itu mencapai 13 ton per ha. Di tingkat pekebun, rata-rata 9 ton per ha. Padahal, rata-rata produksi jagung sekitar 3 sampai 4 ton per ha.

Satu lagi kelebihan jagung andalas. Daya kecambah benih di atas 90%. Oleh karena itu kebutuhan benih hemat, per hektar 20 kg. Pasalnya, 1 lubang tanam cukup 1 benih. Penanaman lebih dari 1 justru menyebabkan persaingan antarbenih. Lazimnya benih jagung lain butuh 24 kg karena memakai 3 benih untuk dijarangkan.

Hasil Ujicoba persilangan selama 8 tahun

Jagung andalas ditemukan oleh Sukri Suid pekebun di Solok yang gemar menyilangkan berbagai jenis tanaman. Sejak 1976 suami Elifwarda itu menanam jagung lokal di pinggiran kebun cabai dan cengkih seluas 1 ha. Hingga 1982 jagung terus ditanam dari benih asal panen sebelumnya yang terbaik. Selama 6 tahun itu Sukri melihat ada perubahan sifat.

Pada musim hujan di awal 1982 ia mengunjungi seorang sahabat di Sangir, Kabupaten Solok Selatan, yang bekerja di tambang emas. Ketika itu ia berjalan kaki melintasi sungai dan beberapa nagari lantaran belum ada kendaraan umum. Di sebuah nagari di dataran rendah ia melihat kebun jagung tumbuh subur. Sayang, butiran jagung lokal yang ia temukan kecil-kecil, 350 sampai 400 butir per 100 gram.

Meski demikian ia tergerak menanam jagung istimewa itu. Selama 5 generasi Sukri menanam dan menyeleksi jagung tahan bulai. Delapan tahun kemudian jagung temuannya mulai dikawinkan dengan jagung di kebun. Jumlahnya sekitar 100 batang.

Bunga jantan dipilih dari jagung tahan bulai, tahan hujan, dan berbulir kecil. Betina berasal dari jagung berproduksi tinggi. Luar biasa, hasil persilangan itu menghasilkan jagung unggul. Tahan rebah, tahan bulai, dan berbutir besar. Jumlahnya 300 sampai 350 butir per 100 gram.

Penelitian pekebun itu berlanjut. Pada 1997 jagung temuannya diuji di Solok Selatan, Pasaman, Payakumbuh, (Sumatera Barat); Ngawi (Jawa Timur); Brastagi, Medan, (Sumatera Utara); dan Maros (Sulawesi Selatan). Penanaman di berbagai sentra membuktikan jagung karya Sukri beradaptasi luas, sehingga pada akhir 1999 dilepas Departemen Pertanian sebagai jagung andalas generasi A4.

Ketangguhan jagung andalas tak sampai di situ, pertengahan 2005, Sukri bersiap melepas jagung yang lebih sakti. Jagung andalas generasi A5. Itu kabar baik buat pekebun jagung di Indonesia. “Saya bersyukur, bila jagung seperti itu muncul,” kata Fred Rumawas, ahli jagung di Bogor.

Yudi Anto