Jali-Adlay : Enak di Telinga, Lezat di Lidah

Di tangan ibu-ibu Betawi, jali menjadi bubur yang sohor sebagai bubur jali. Alim ulama memanfaatkannya sebagai biji tasbih. Lantaran sangat dekat dengan masyarakat Betawi, nama jali kemudian diabadikan ke dalam perbendaharaan bahasa Betawi yang berarti bersih dan rapi. Di Jakarta sekarang, anak-anak hanya mendengar namanya tanpa pernah melihat sosok tanaman anggota famili Poaceae itu. Kerabat jagung itu memang langka.

Tanaman Jali kini semakin langka dan sulit diperoleh
Jali kini semakin langka dan sulit diperoleh

Contents

Panen jali bisa dilakukan berulang ulang

Di ibukota boleh saja jali tinggal cerita. Namun, di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, jali terus tumbuh hingga kini. Masyarakat setempat memang membudidayakan tanaman berbatang dengan tinggi mencapai 174-185 cm. Dalam satu tanaman biasanya terdapat 2-3 anakan. Budidaya jali relatif mudah meski di lahan kurang subur dan tahan kering.

Adi Lasiran, misalnya, menanam jali di pematang sawah sejak 2008. la tergerak menanam jali karena dapat diolah menjadi beras yang harganya cukup tinggi. Selain Lasiran, pekebun lain yang menanam jali adalah Karjono di lahan 25 m2 dan Sigit Wahyudi di lahan 200 m2.

Karjono menanam jali di tegalan sebagai tanaman sampingan, tanaman utamanya jagung dan ubi kayu. Sigit membenamkan 40 kg pupuk organik sebelum penanaman. Pemupukan berikutnya ketika tanaman berumur 3 pekan dan 40 hari dengan NPK dan Urea dosis 1 kg pada umur 40 hari.

Pada umur 95-116 hari, ia memanen biji-biji jali. Saat panen, Lasiran dan Sigit tinggal memangkas dan menyisakan batang 15 cm di atas permukaan tanah. Dari luasan itu Sigit memperoleh 4 kg biji pada panen perdana. Dari batang bekas potongan itu akan muncul tunas baru sepekan pascapangkas.

Selang 40 hari, Sigit memanen jali untuk kedua kailnya. Setelah menerapkan teknik panen itu, Sigit dapat 3 kali panen berinterval 40 hari. Setelah itu ia membongkar tanaman dan mengganti dengan bibit baru.

tanaman Jali dapat dibudidayakan di lahan yang kurang subur dan tahan kering
Jali dapat dibudidayakan di lahan yang kurang subur dan tahan kering

Dengan teknik budidaya seperti itu, Sigit memperoleh total 6 kg biji jali dari lahan 200 meter dalam 3 kali panen. Produktivitas jali rata-rata 3-4 ton per ha. Bandingkan dengan produktivitas jagung dan padi yang mencapai 6 ton per ha. Daya simpan biji jali lebih tinggi daripada jagung. “Daya simpan biji jali bisa mencapai 2 tahun, sementara jagung hanya 3 bulan,” kata Dr Ir Agus Setyono MS, mantan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi.

Tanaman Serbaguna

Sigit mengolah biji jali menjadi butiran halus berwarna putih, la menggunakan lumpang beralas merang padi atau kulit jagung saat penumbukan agar biji tidak bertebaran. Maklum, tekstur biji jali keras dan licin sehingga ketika antan menumbuk kerap kali biji bertebaran.

Alternatif lain, menggunakan mesin pengolah jagung, tetapi beras jali pecah. Untuk menghasilkan beras jali, rendemennya 45-50%. Untuk memperoleh 1 kg “beras” jali perlu 2 kg biji.

Pengolahan biji menjadi beras meningkatkan nilai tambah. Harga jualnya pun lebih tinggi, mencapai Rp8.000-Rp10.000 per kg. Bandingkan bila masih dalam bentuk biji kering yang hanya Rp3.000 per kg.

Beras jali itulah yang siap olah menjadi beragam penganan seperti bubur, nasi, rengginang, jadah, tapai, dan wajik yang lezat. Dengan begitu jali tak hanya berfungsi sebagai mainan anak, tetapi juga bahan pangan alternatif.

Selain sumber pangan bergizi, jali juga bermanfaat bagi kesehatan. Untuk mengatasi tumor, misalnya, sebanyak 15-60 gram biji kering direbus dalam 6 gelas air hingga tersisa 2 gelas.

Minum segelas air rebusan dua kali sehari. Untuk mengobati infeksi saluran kemih, pasien merebus 15-30 gram akar kering Jali dalam 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Setelah dingin, lalu minum 2 kali sehari, pagi dan sore, masing-masing satu gelas.

Begitu banyak manfaat jali menyebabkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)Tepus berupaya melestarikan gandum mutiara cina alias jali. Upaya pelestarian jali bermula pada 2010 ketika Sigit mengumpulkan biji dari penduduk di Desa Tepus dan Sumberwungu, Kecamatan Tepus, dan memperoleh 2 gelas biji jali setara 400 g.

Menurut Sigit luas penanaman jali di Tepus mencapai 1 ha. Meski memiliki segudang manfaat, tetapi saat ini keberadaanya langka. Musababnya, para pekebun tidak membudidayakan jali secara intensif seperti padi dan jagung. Kalaupun ada yang menanam, paling hanya di pekarangan rumah atau pematang sawah. Capek sedikit tidak perduli, sayang, asalkan tuan senang di hati.

Halaman terakhir diperbaharui pada 10 Desember 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.