Kebun Sayuran dan Buah di Lahan Gambut

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Mentari seperti di atas ubun-ubun meski pagi belum beranjak siang. Maklum, di Desa Rasaujaya, Kecamatan Rasa u jaya, Kabupaten Pontianak, praktis tak banyak pohon besar yang menahan sengatan sang surya.

Ke mana pun pandangan diarahkan yang tampak tanah hitam legam. Itulah lahan gambut setebal 7 meter yang kini dimanfaatkan sebagai kebun sayuran.

Bacaan Lainnya

Salah satu kebun sayuran itu milik Tjhinsaujung (51 tahun). Ketika pagi itu Trubus menginjak kebun, lahan seperti bergetar akibat belum stabilnya struktur tanah. Ajung begitu sapaannya mengelola lahan 9 ha dan 4 ha di antaranya untuk budidaya tomat. Pola budidaya mirip di Jawa. Lahan dibuat guludan setinggi 20 sampai 30 cm.

Dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm, idealnya dihuni 27.000 tanaman per ha. Namun, karena kondisi lahan yang berkontur tidak rata dan terhalang perakaran, Ajung hanya menanam 13.000 sampai 14.000 tanaman per ha.

Kerabat kentang itu diberi ajir berupa 3 batang bambu yang ujungnya diikat tali plastik agar kokoh. Sejak panen perdana tanaman berumur 2 bulan setiap hari Ajung menuai 30 keranjang setara 1.200 kg.

Total jenderal volume panen mencapai 26 sampai 28 ton per ha. Produksi itu setara dengan yang diraih pekebun tomat di Jawa. Di sana harga sekilo tomat Rp3.000 sampai Rp4.000.

Selain tomat ayah 3 anak itu juga menanam pare Momordica cbarantia seluas 0,5 hektar terung ungu bulat,2.500 m2, sawi, dan pakcoy. Tanaman jeruk dan pepaya mengelilingi lahan. Sayuran-sayuran dan buah-buahan itu tampak subur, meski tumbuh di lahan miskin hara.

Netralkan Kadar pH Dengan Abu Dan Pupuk Kandang

Luas lahan gambut
Hamparan Luas lahan gambut

Rasanya mustahil melihat hamparan sayuran di Rasaujaya. Di lahan masam dengan pH 3 tidak ada tanaman yang bertahan. Pantas jika tak satu pun kepala keluarga tertarik mengolah lahan di sana.

Ajung memang perintis dalam memanfaatkan lahan gambut. Pada 1993 ia menanam tomat yang ditumpang sarikan dengan terung ungu bulat dan paria. “Kalau hanya satu jenis, terlalu berisiko,” ujar pria asal Singkawang itu.

Ia waswas lantaran tingkat keasaman lahan gambut tinggi. Tanah gambut terdiri dari campuran tumbuh-tumbuhan, akar semak belukar, dan kayu yang belum sepenuhnya terurai menjadi tanah.

Sebetulnya lahan gambut dapat diolah menjadi lahan subur. Menurut Djaenudin, periset Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, gambut adalah tanah marginal yang mempunyai faktor pembatas yang berat sehingga produktivitas tanaman rendah.

Untuk meningkatkannya, diperlukan input yang tinggi seperti bahan baku tambahan untuk menetralkan keasaman tanah.

Itulah yang ditempuh Ajung hampir 3 windu lalu. Sebelum ditanami, pH tanah dinetralkan menjadi 7 dengan menaburkan abu sawmill serbuk gergaji dibakar hingga menjadi abu ke atas tanah. Untuk luasan 1 ha ia memerlukan 400 sampai 500 karung abu atau setara 12 sampai 15 ton. Selain abu, juga ditaburkan pupuk kandang sebanyak 1 ton.

Tanah dicangkul sehingga abu dan pupuk kandang bercampur. Setelah diberakan dibiarkan selama 3 bulan, tanah kembali dicangkul agar gembur. Lalu tanah digaru dan dibuat bedengan selebar 80 cm dengan ketinggian 20 sampai 30 cm. Dengan pengolahan seperti itu keasamaan lahan gambut netral dan dapat ditanami beragam sayuran.

Lahan Gambut Harus Rutin Dipupuk

Agar dapat rutin memanen setiap hari, Ajung menyemai dan menanam juga setiap 10 hari. Khusus tomat, ia menyemai 10 kantong setara 10.000 tanaman. Setelah berumur 2 sampai 3 minggu, bibit dipindahtanamkan. Saat tanaman berumur sepekan, diberi larutan pupuk Urea.

Satu sendok makan Urea dicampur dengan 15 liter air dan diaduk rata. Pupuk diberikan dengan kocoran. Dosisnya tergantung pertumbuhan tanaman. Jika tanaman tampak lemah, diberi 100 cc per tanaman.

Pupuk NPK diberikan ketika tanaman menjelang berbuah, pada umur 1,5 bulan. Dosisnya 300 gram untuk satu bedeng terdiri atas 60 tanaman. Jika musim kemarau, pupuk diberikan dalam bentuk larutan agar mudah diserap akar. Pupuk itu dilarutkan dalam 5 liter air.

Saat musim hujan, cukup ditaburkan di sekitar area perakaran. Pemupukan rutin dilakukan selang seminggu hingga tanaman siap panen.

Selain pupuk, tepung kepala ikan dan kepala udang dijadikan sumber hara. Di Pontianak, keduanya melimpah karena daerah pantai. Limbah perikanan itu dikeringkan lalu ditumbuk.

Delapan kg tepung ikan dicampur dengan 60 kg abu ditaburkan di antara pertanaman. Volumenya 32 sampai 40 kg per bedeng dengan populasi 60 tanaman.

Meski perlu perawatan intensif, lahan gambut memiliki kelebihan. Ia bersifat seperti spon yang menyerap kelebihan air saat musim hujan. Meski begitu, bahaya banjir tetap saja mengintai.

Oleh sebab itu, Ajung membuat parit berukuran 60 cm x 60 cm setiap 25 meter. Saat kemarau,lahan gambut masih bisa menyimpan cadangan air karena penguapan air berlangsung perlahan.

Namun, Ajung berjaga-jaga dengan memasang pompa. Dari mesin itu dipasang pipa-pipa kecil menuju titik-titik tertentu yang memancarkan air saat pompa diaktifkan. Sumber air berasal dari parit yang melintas di tepi perbatasan lahan Ajung.

Saat tomat berumur 75 hari, Ajung menuai hasil. Namun, Ajung memanen tomat lebih lambat daripada biasanya. Sebab, para pengepul di Pontianak lebih menyukai buah matang berwarna merah penuh. “Penampilannya lebih menarik,” ujarnya. Produksi satu tanaman rata-rata 2 kg.

Sarat kendala Namun Bisa Dilakukan

budidaya sayuran di lahan gambut
lahan gambut

Menanam sayuran dan buah-buahan di lahan gambut memang sarat kendala. Saat panen raya di Jawa, pasokan tomat di Pontianak turut melimpah. Akibatnya, harga anjlok mencapai Rp800 sampai Rp 1.000 per kg. Menurut perhitungannya, harga tomat di tingkat pekebun harus minimal Rp2.000 per kg agar untung.

Sukses Ajung mengebunkan sayuran di lahan gambut diikuti pekebun-pekebun lain. Wajar jika 6.000 ha lahan yang semula tidur, kini tergarap. Dampaknya untuk memperoleh limbah gergajian relatif sulit. Begitu pula yang terjadi pada limbah perikanan, ia harus bersaing dengan produsen pelet dan peternak tambak.

Potensi lahan gambut di Indonesia amat besar. Menurut Dr Bambang Hero Saharjo, staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB, hingga 2003 terdapat 15,5-juta sampai 18,4-juta hektar lahan gambut. Dari jumlah itu 75% sampai sama dengan 10 kali luas Pulau Jawa sampai dibiarkan tidur.

Cara Ajung mengolah lahan gambut layak ditiru calon-calon pekebun lain supaya raksasa tidur itu segera bangun.

Pos terkait