Kebutuhan Tinggi, Budidaya Rotan Layak Untuk Dilirik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Semakin sulit memperoleh rotan, khususnya berdiameter besar lebih dari 2,4 cm akibat produksi hutan alam kian menyusut. Itu juga dampak penebangan tanpa dibarengi penanaman. Padahal kebutuhan rotan besar sangat tinggi, mencapai 70%. Budidaya rotan merupakan solusi yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Menurut Drs Yana Sumarna MSi, jenis yang dikembangkan disesuaikan dengan daerah endemik asal benih. Tujuannya, “Agar pengembangan tidak perlu didahului oleh uji jenis terhadap kesesuaian lahan, ” ujar peneliti rotan Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Tentu saja tidak melupakan nilai komersial rotan.

Bacaan Lainnya

“Yang dikembangkan sebaiknya rotan bernilai ekonomis tinggi,” lanjut dosen Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman itu. Beberapa jenis yang banyak diminta pasar adalah rotan manau Calamus manan dan semambu Calamus inops dari Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan seuti Calamus ornatus merupakan endemik Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Benih diambil dari pohon di hutan. Pohon terpilih harus sudah berbuah 3 sampai 4 kali dan tinggi minimal 10 m. Buah masak ditandai dengan warna mengkilap dan bertekstur keras. Kebutuhan benih per ha mencapai 200 sampai 300 buah sesuai populasi tanaman.

Bobot biji beragam tergantung jenis rotan. Manau misalnya terdiri atas 700 sampai 790 biji per kg, seuti; 1.000 biji per kg; dan sega, 6.000 biji per kg.

Diinjak-injak

Manau, rotan besar banyak dibutuhkan

Dormansi biji rotan relatif singkat, 15 sampai 27 hari sehingga harus segera dikecambahkan. Masukkan buah dalam karung goni dan injak-injak untuk memisahkan biji dari daging buah. Setelah benih bersih, rendam dalam air bersih selama 24 jam. Tiriskan, lalu masukkan ke plastik transparan, dan ikat rapat. Plastik itu kemudian dimasukkan ke dalam kardus. Sekitar 34 sampai 40 hari benih mulai berkecambah.

Siram rutin 2 kali sehari untuk mempercepat perkecambahan. Saat itu benih siap ditanam di guludan yang dipersiapkan sebelumnya. Tempat persemaian sebaiknya di dekat lokasi penanaman untuk mencegah stres bibit akibat menempuh petjalanan jauh. Begitu muncul 2 sampai 3 helai daun segera pindahkan ke polibag bermedia campuran tanah dan kompos. Perbandingan 1:1.

Tempatkan bibit di bedengan beratap menghadap utara-selatan. Maksudnya, memberikan peluang masuknya cahaya mentari pagi. Tinggi bedengan 15 cm, jarak antarguludan 45 cm. Jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pemupukan berkadar nitrogen tinggi diberikan dengan interval 2 pekan. Sejak persemaian hingga siap pindah ke lahan butuh waktu 9 sampai 11 bulan. Yana menyarankan, benih berkecambah dapat langsung ditanam di lahan agar lebih efisien.

Mengejar Ketingggalan

Pada awal pertumbuhan, rotan membutuhkan cahaya yang cukup. Namun, bukan berarti terbuka sama sekali lantaran menyebabkan daun kering. Sebaliknya, di tempat ternaungi berat, rotan pun tumbuh kerdil. Agar tumbuh optimal rotan menghendaki suhu 24 sampai 32°C, kelembapan minimal 70%, curah hujan 2.000 sampai 4.000 mm per tahun.

Menanam rotan berarti harus memperhatikan daur hidup tegakan. Sebab, sebagai liana yang merambat rotan butuh tegakan seperti meranti, karet, dan bungur. Flagella alias sulur panjat rotan menempel di batang tegakan. Jika tegakan berupa karet, penanaman sebaiknya ketika pohon penghasil getah itu berumur 4 sampai 5 tahun atau tinggi tanaman 20 m.

Di Jawa yang lebih subur, pertumbuhan rotan mencapi 1,8 sampai 2,4 m per tahun; Kalimantan, 1,2 m. Dengan masa produksi karet 25 tahun, rotan dipanen saat berumur 20 tahun. Saat itu karet tak lagi produktif sehingga dapat ditebang bersamaan.

Rotan berdiameter besar yang lebih bernilai ekonomis umunya merupakan jenis pleonantik alias tumbuh tunggal. Yang berdiameter kecil hingga sedang 1,8 sampai 2,8 cm termasuk hapasantik alias tumbuh merumpun. Oleh karena itu pada jenis pleonantik jarak tanam 10 m x 10 m; jenis hapasantik, cukup 6 m x 4 m. Lubang tanam berukuran 20 cm x 20 cm x 30 cm. Jarak lubang tanam 1 sampai 1,5 m dari pohon tegakan.

Panen Pada Tahun ke-3

Di dekat lubang tanam tancapkan ajir. Berikan pupuk dasar berupa 1 kg kompos,10 sampai 20 g Urea, 20 g TSP. Penanaman sebaiknya pada awal musim hujan. Sobek kantung polibag, benamkan bibit, dan timbun dengan tanah. Ikat batang bawah dengan ajir untuk menahan tiupan angin. Dua bulan berselang amati pertumbuhan bibit. Yang mati segera disulam dengan tanaman seumur. Lakukan pengguludan, untuk mencegah genangan air.

Pembersihan gulma sebagai kompetitor hara setiap 3 sampai 4 bulan. Perawatan semacam itu berlangsung hingga tahun ke-3. Setelah itu tanaman dibiarkan berkompetisi alami dengan tegakan perambat.

Rotan pleonantik hanya sekali panen setelah berumur 20 sampai 30 tahun. Tinggi tanaman mencapai 200 m yang dipotong-potong berukuran 4 m.

Kualitas Terjamin

Dengan membudidayakan rotan mestinya kita tak bergantung pada jasa tupai, kelelawar, atau musang. Selama ini rotan berkembang berkat mereka sebagai penyebar biji. Kelenjar madu yang terdapat di sarkotesta alias daging buah rotan menebarkan aroma susu sehingga menarik mereka. Sekadar mengandalkan mereka jelas tak cukup lantaran kebutuhan semakin meningkat.

Itu dibuktikan masyarakat Kalimanatan yang membudidayakan rotan berdiameter kecil semacam irit dan sega. Mereka memanfaatkan sebagai bahan baku lampit. Sedangkan rotan berdiameter besar, selama ini belum dibudidayakan. Penanaman rotan lebih menjamin ketersediaan bahan baku industri mebeler yang sering kurang pasokan.

Pewarna alami Batang rotan

Tak semua rotan dimanfaatkan batangnya. Rotan jernang Daemonorops draco misalnya, lebih banyak diincar buah ketika menjelang masak. Tanaman berbuah saat berumur 4 sampai 5 tahun. Buah berkulit cokelat kemerahan berukuran sedikit lebih kecil ketimbang duku. Mereka bergelayutan dalam tandan mirip kelapa. Bobot per tandan 4 sampai 6 kg. Setiap bulan tanaman berbunga -yang menjadi buah 13 bulan kemudian.

Tanaman menjulang hingga 100 m. . Di Jambi masyarakat Kubu memanen buah jernang dengan memotong tandan. Tandan di atas dituai dengan memanjat pohon. Sebab, jernang seperti lazimnya rotan tumbuh memanjat di berbagai tegakan seperti meranti. Buah lantas dikupas sehingga tampak daging berwarna putih. Daging buah itulah yang direndam dalam air bersih selama 24 jam. Getah keluar perlahan dari buah itu.

Getah Darah naga

Kandungan getah menyusut pada buah yang terlampau matang. Selama proses perendaman getah berwarna merah itu mengendap di permukaan bawah air. Air rendaman kemudian dibuang sehingga yang tersisa cuma getah jernang. Limbayung sampai demikian sebutan getah jernang oleh masyarakat Sumatera Barat, lalu dijemur hingga kering. Getah jernang banyak dipasarkan ke mancanegara. Harga per kilo mencapai Rp4-juta, tetapi di tingkat pekebun Rp750.000. Sekilo getah jernang berasal dari 10 kg buah. Getah jernang antara lain berfaedah sebagai bahan baku

pernis, pelitur, pewarna keramik, marmer, dan pemerah bibir. Di bidang farmasi ia digunakan sebagai serbuk untuk gigi dan bahan tanin. Pada zaman penjajahan, komoditas itu diedarkan Belanda dengan merek dagang Dragon’s Blood. Negeri Kincir Angin itu sejak 1800-an memperdagangkannya di dataran Eropa. Masyarakat Banten Selatan menyebutnya getih badak alias darah badak.

Menurut Drs Yana Sumarna MSi, peneliti rotan di Pusat Libang Hutan, jernang tumbuh endemik di Sumatera antara lain di Bukit Duabelas, Jambi. Selain itu, di Manna (Bengkulu), Pasaman dan Lubuksikaping (Sumatera Barat) juga ditemukan jernang. Yana menuturkan jernang potensial dikembangkan di berbagai daerah termasuk di Jawa. Pasalnya, kerabat kelapa itu mudah beradaptasi.

Pos terkait