Budidaya Tani

Kelembutan di Balik Citra Keras Pohon Jati

Bintang utama Arnold Schwarzenegger yang bertampang keras terpaksa menyamar sebagai guru Taman Kanak-kanak. Itulah salah satu cuplikan adegan film Kindergaten Corp. Penyamaran itu dilakukan untuk melindungi seorang perempuan dan anaknya yang kebetulan siswa TK. Keduanya tengah dicari-cari pelaku kriminal.

Di hadapan puluhan bocah-bocah tanpa dosa Arnold kerap mendongeng dan menyanyi. Kebiasaan itu mengubah sikap dan temperamen sehingga Arnold tampak lembut.

Kisah itu mirip jati yang selama ini bercitra keras dan tumbuh di hutan luas. Lihatlah Palar Nainggolan yang menjadikan jati sebagai elemen taman. Di belakang rumahnya seluas 2 ha pengusaha tekstil di Medan itu menanam jati dengan jarak tanam teratur 3 m x 3 m. Ribuan pohon berumur 3 tahun berderet rapi. Tinggi 8 meter, diameter batang 14—15 cm. Di bawah kanopi menghampar rerumputan hijau laksana permadani.

Di sanalah ketika embun di dedaunan belum juga sirna pria paruh baya itu berlari-lari kecil di antara pepohonan jati. Kegiatan itu kini menjadi aktivitas rutin Palar Nainggolan sehari-hari.

Indah dipandang

Taman Jati

Sejak menanam jati di belakang rumah pada 2000, Palar Nainggolan tak perlu jauh-jauh untuk sekadar olahraga pagi. Ia kini memiliki lintasan jogging sendiri di antara “hutan” jati miliknya. Itu untuk menyehatkan jantung karena udara pagi di bawah kebun sangat menyegarkan. “Menginjak rerumputan itu dengan kaki telanjang bisa memperlancar aliran darah,” papar alumnus Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara itu.

Ia membagi lahan dalam 3 blok. Setiap blok diisi sekitar 600 sampai 700 pohon. Untuk menambah keindahan, marka tembok di sekeliling blok dicat putih, kontras dengan warna hijau rerumputan. Jalan kecil selebar 3 meter menjadi pembatas antarblok. Jalan itulah yang kini menjadi lintasan lari pagi bagi pengusaha tekstil itu.

Menarik pengunjung

Pengunjung taman

Budiman Sihombing di Lubukpakam, Deliserdang, Sumatera Utara, menjadikan kebun jati 1,5-ha sebagai penunjang usaha rumah makan. Empat tenda kafe didirikan di antara batang-batang pohon jati berjarak 2,5 m x 3 m. “Banyak pengunjung tertarik makan di sini sambil menikmati semilir angin di bawah pepohonan,” papar Ny. Sihombing.

Saat Budidayatani berkunjung beberapa mobil dan sepeda motor mampir menikmati makan siang di sana. “Selama ini kami tahu pertumbuhan jati sangat lambat,” ungkap Jamil, pengunjung yang sempat ditemui Budidayatani. Namun, pertumbuhan tanaman di kebun itu relatif cepat. Tak heran jika Kepala Desa Sukamandi Ilir, Pagarmerbau, Deliserdang, itu membawa teman-temannya makan di “Kafe Jati” sambil berkonsultasi tentang budidaya jati.

Haji Oeminto di Binjai, Sumatera Utara menanam 12 pohon jati di halaman depan rumah untuk hiasan. Sebanyak 8 pohon berbaris di dekat pagar depan, dan 4 sisanya di pagar samping. Hasilnya, pohon jati itu menjadi border halaman rumah karyawan Sinar Mas Group itu. Kehadirannya menggantikan fungsi palem raja yang biasa menghiasi halaman rumah-rumah mewah.

Jati, citranya sebagai kayu unggul memang belum lekang dari namanya. Namun, bagi Palar Nainggolan, Sihombing, dan Oeminto Tectona grandis bisa berperan ganda: diambil kayunya dan sebagai ornamen taman.

Pandu Dwilaksono