Kenari Jingga Sang Dambaan Hati

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Burung yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Begitu ungkapan yang pas buat Andreas Suhandi, peternak kenari di Bumi Serpong Damai (BSD), saat kenari oranye menetas di farm. Soalnya, sejak lama ayah dua putra itu punya obsesi untuk menghasilkan burung kenari dengan warna yang tak lazim.

Silangan waterslaher holland itu terlihat unik dengan bulu jingga yang menyelimuti hampir seluruh tubuh. Sebab, kebanyakan burung asal Kepulauan Kanari itu berbulu hijau dan kuning. Bentuk tubuh sederhana, tetapi terlihat besar, kekar dan kuat. Paruhnya mungil, dengan mata hitam yang tajam.

Ketika didekati, ia tampak agak gelisah. Saya sudah menunggunya selama tiga tahun,” tutur pria asal Cirebon itu. Kini, burung yang menetas pada 3 Desember 2000 itu jadi kakek kenari-kenari oranye di peternakan Andreas di Rawabuntu Bumi Serpong Damai Tangerang.

Masih langka

Masih berobsesi hasilkan kenari putih

Saking sulitnya memperoleh kenari jingga, hingga 2003 Andreas hanya mempunyai 5 ekor. Padahal, turunan dari induk Serinus canaria itu mencapai 60 ekor. Sebagian besar kuning, hijau, atau kombinasi dari kedua warna itu. ”Di sini saja masih terbatas. Apalagi di pasaran,” katanya.

Menurut Andreas sebetulnya Indonesia pernah mengimpor burung kenari oranye dari Belanda. Namun, sejak 1997, impor itu berakhir karena harga melambung tinggi. Saat itu di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, seekor Rp600.000 sampai Rp700.000.

Kenari pada umumnya cuma Rp300.000 sampai Rp400.000. Andreas menjual anakan kenari biasa seharga Rp 100.000. Khusus untuk kenari jingga Rp300.000 sampai Rp400.000/ekor.

Sayang, saat Trubus mengunjungi Taurus Farm, induk jantan dan betina telah tiada. Induk jantan dari Holland telah dijual; betina berwarna kuning keperak-perakan telah mati. Keduanya dijodohkan pada 1997.

Lalu bagaimana dengan suaranya? Menurut Yudi Yanuarso, putra Andreas, peternakannya lebih mengutamakan pada warna. ’’Dulu kita pernah coba melatih suaranya. Tapi ketika dilombakan jarang menang. Jadi kami konsentrasi ke warna saja,” kata pemuda bertubuh tinggi itu. Walau begitu, kata Yudi, kenari holland mempunyai dasar suara yang bagus.

Suaranya panjang, mirip terompet. Apalagi kalau dilatih. Suaranya bisa tambah panjang dan bervariasi. “Kenarinya terlalu banyak. Jadi , kami tak bisa melatihnya satu per / satu,” kata alumnus Universitas Bina Nusantara, Jakarta itu.

Warna Alami

burung kenari

Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, Yudi mengaku tak mempunyai kiat khusus. Warna ditentukan oleh faktor genetik induk. ’’Kita pilih saja induk yang ada warna oranye. Biasanya nanti salah satu keturunan ada yang total jingga,” kata Yudi.

Beberapa peternak mencoba teknik khusus untuk mendapatkan warna jingga. Mereka memberikan pakan yang banyak mengandung karotin, misalnya wortel. Caranya hanya perasan wortel yang diberikan sebagai air minum. Biasanya setelah rontok warna merah atau jingga muncul menggantikan bulu aslinya. ”Itu bisa dilakukan, tapi setelah pemberian minum wortel dihentikan, warna asli muncul kembali,” ujar Yudi.

Penantian panjang Andreas dan Yudi untuk mendapatkan kenari jingga sudah terwujud. Namun, bukan berarti obsesi mereka terhenti. Masih ada mimpi yang belum jadi kenyataan. Mereka ingin, suatu saat hadir kenari putih (albino) dan abu-abu. Kedua warna itu sekarang hanya ada dalam mimpi.