Budidaya Tani

Ketika Durian Udang Merah Lepas Diburu

Sepenggal cerita di sebuah situs internet menggelitik Kami saat berselancar menggali informasi awal tentang durian di Malaysia. Seorang mania di negeri jiran rela bolak-balik setiap musim ke kedai langganan demi mendapat udang merah. Durian itu disebut-sebut paling istimewa. Konon warna daging seperti tembaga, tebal tanpa serat, dan legit menempel di lidah. Hm…sungguh mengundang selera. Rasa penasaran itu Kami bawa kala terbang ke Malaysia.

Jarum jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 19.30 waktu Kualalumpur. Satu jam lebih cepat ketimbang di Jakarta. Matahari di medio Agustus itu baru saja masuk ke peraduan dibarengi suara azan magrib. Berkendaraan taksi berwarna merah marun Kami meluncur dari kedutaan besar RI di Jalan Tun Razak, Kualalumpur, menuju sebuah pasar runcit (bahasa Melayu: pasar tradisional, kedai, atau toko, red) di Jalan Chowkit.

Rasa penat lantaran belum sempat merebahkan tubuh di empuknya kasur hotel sejak tiba di Kualalumpur International Airport (KLIA) di kawasan Sepang, siang tadi tak dihiraukan. Memburu informasi tentang durian  sasaran peliputan kali ini lebih berharga.

Bukan tanpa alasan Chowkit yang pertama dituju. Nama itu selalu disebut setiap kali Kami menanyakan sentra penjualan durian di Kualalumpur.Informasi sama diperoleh dari sopir bus yang mengantar dari KLIA menuju kedubes.

Durian Dari Sumatera

Hanya 20 menit waktu tempuh dari Jalan Tun Razak menuju Chowkit. Pemandangan di sana mengingatkan pada pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur. Cuma yang ini rapi tanpa sampah berserak dan macet. Benar saja, di jalan sepanjang sekitar 500 m berjejer kedai-kedai menjajakan durian. Kami menghitung setidaknya ada 15 kedai. Itu belum termasuk lapak-lapak di beberapa gang.

Untung saja malam itu hujan tak turun selama seminggu di Malaysia 2 kali Kami diguyur hujan sehingga leluasa menyambangi setiap lapak. Dari label yang digantung di muka masing-masing kedai diketahui D24 jenis dominan dijual. Mayoritas pekebun memang menanam klon unggul itu. Wajar jika ia membanjiri pasar. Jenis lain: D101, D2, dan durian lokal tanpa nama. Harga yang ditawarkan bervariasi, paling banyak tertera angka RM 10 setara Rp22.500 untuk 3 durian kampung.

Kami memutuskan berhenti di kedai terdepan setelah sempat berjalan hingga ke ujung jalan. Kedai itu dipilih lantaran terlihat bersih dilengkapi meja dan kursi plastik. Sang empunya, Alifuddin, langsung menawarkan. “Ayo, duduk, duduk, nanti saya pilihkan durian yang paling enak,” kata pria yang ternyata asli Sumatera Utara itu. Lalu ia membelahkan D2 seraya menyuruh Kami mencicipi.

Tak salah memang ia berpromosi. Durian berbobot sekitar 1,5 kg itu berdaging tebal berwarna kuning tua, biji hepe, lembut tanpa serat, dan manis legit beralkohol. Meski begitu durian D24 dan D101 juga tak kalah enak. Menurut pria yang hijrah ke Malaysia pada 1982 itu, durian diambil dari Pahang karena Mei sampai Desember memang sedang musim. Sebelum itu Perak dan Johor yang panen. Berbekal informasi itu Pahang jadi ajang perburuan berikutnya.

Durian Udang merah

Udang merah yang jadi incaran

Puas menyantap 3 durian berharga total RM18 semakin malam harga kian miring terutama untuk durian tanpa nama, Kami nyaris langsung meninggalkan Chowkit. (Kami mungkin takkan berani ke sana malam-malam tanpa pendamping bila sebelumnya tahu Chowkit termasuk daerah rawan di KL). Tiba-tiba pandangan tertumbuk pada label di kedai seberang jalan. Nah, ini dia durian yang membikin penasaran.

Bergegas Kami melintasi jalan yang padat oleh lalu-lalang pengunjung yang berbelanja. “Wah, sudah habis. Kalau udang merah cepat laku,” kata Muhammad Arfi, pemilik kedai. Kala itu jarum jam sudah menunjuk pukul 21.30, tapi Chowkit biasanya tetap ramai didatangi pembeli durian hingga pukul 02.00 sampai 03.00.

Malam itu Arfi memang hanya mendapat sedikit udang merah dari pemasok di Pahang. Satu lagi sentra durian Kami catat baik-baik sembari memasuki pintu Crown Princess hotel tempat menginap di kawasan Ampang sekitar setengah jam dari Chowkit.

Esok hari saat matahari sudah sepenggalahan naik, Kami duduk di atas jok empuk Proton biru yang dikemudikan Ahmad Shakir bin Moh Said pemilik biro perjalanan sampai dalam perjalanan ke Pahang.

Daerah itu sentra utama durian di Pahang. Begitu memasuki jalan desa terlihat kedai-kedai menjajakan buah berduri itu. Kami mampir di kios milik Tong di pusat kota. Tak dinyana di sana bertemu dengan M Syafi’i Otsman sahabat Shakir sejak bersekolah di Malay College Kangsa belasan tahun silam. Alih-alih mengeluarkan ringgit ke-2, icip-icip durian kali itu gratis karena ditraktir Otsman.

Durian Genting Highland

Kepala Pesuruh Jaya Multimedia setara dengan kepala kantor telekomunikasi di sini itu memang kerap berburu durian. Ia sendiri berdomisili di KL. Di kedai milik Tong, giliran cassette yang dicicipi. Durian kebanggaan pria kurus tinggi itu berdaging kuning tebal dan hepe. Jenis lain, tembaga yang manis legit tapi berbiji besar.

Buah-buah itu disetor oleh pedagang dari Kampung Lebu. Kampung berjarak 30 km dari pusat kota Bentung itu memang pusat durian. Kebun Durio zibethinus tampak di kiri dan kanan jalan. Dari kebun-kebun itu para tauke yang membuka gudang di sepanjang jalan mendapat pasokan. Bertruk-truk durian dikirim dari sana ke Singapura via Johor atau ke Galok kota di perbatasan dengan Thailand. Jadi harap maklum para tauke tak melayani penjualan eceran.

Perjalanan ke Pahang hari itu diakhiri dengan mengunjungi Gohtong. Itu sebuah daerah peristirahatan seperti di tepi-tepi jalan tol di Indonesia  menuju Genting Highland. Dari sana ke Las Vegas-nya Malaysia itu tak sampai 30 menit. Di tempat yang namanya diambil dari nama pemilik pusat perjudian itu Kami mengincar musang king.

Jenis itu disebut-sebut Tong sebagai durian istimewa sebelum Kami meninggalkan Bentung. Ah, itu tak salah. Buat mania durian musang king-lah yang tepat. Daging lembut dengan rasa pahit mendominasi dan bau tajam tanda kandungan alkohol tinggi. Kenikmatan itu harus diganjar dengan mengeluarkan RM18 setara Rp 40.500 per kg.

Menurut Mr Ho, pemiliki toko Tin Sing yang Kami singgahi, durian asal Raub, Pahang, itu baru 2 sampai 3 tahun hadir di sana. Sebelumnya ia habis diburu hobiis langsung ke sentra karena penanaman masih terbatas. Kehadiran di Gohtong pun masih bisa dihitung jari. Saat itu hanya ada 3 toko yang menjajakan musang king, selebihnya D24.

Durian kampung

Di gudang tauke, durian siap dikirim ke Singapura

Perjalanan melelahkan ke Pahang, tak menyurutkan langkah untuk pergi ke Penang pagi berikutnya. Rasa penasaran Kami pada udang merah makin menjadi-jadi waktu mendengar cerita Shakir.

Ayah 4 anak itu pernah memanjar RM100 setara Rp225.000 per kg untuk durian istimewa itu di Penang. Toh pengalaman sekali-kali itu tak membuat ia rugi. “Saking lembutnya, daging bisa diseruput pakai sedotan,” tutur Shakir tentang durian kesukaan Sultan Johor itu. Maka ditemani matahari Sabtu pagi, dimulailah perburuan udang merah ke Penang.

Dalam perjalanan yang kali ini ditemani 2 sahabat dari KL, Azli dan Yusrin, Kami sempat mampir di Bidor dan Sungkai. Di sentra durian Perak negeri itu ada di lintasan antara KL dan Penang terlihat beberapa pedagang menjajakan durian kampung tanpa nama. Rasanya memang kalah ketimbang jenis-jenis yang sebelumnya dicicipi.

Meski tak mendapatkan durian istimewa, perjalanan ke sana tak sia-sia karena kedua daerah itu sentra beragam buah. Sebut saja jambu air madu dan jambu sukun jumbo.

Akhirnya ketika matahari lingsir mobil yang dikendarai Azli melintasi jembatan yang menghubungkan daratan Malaysia dengan Pulau Penang. Sambil melepas penat di City Hotel di pusat kota, terbayang esok keasyikan mengejar si udang merah.

Hanya sebulan

Kali ini rupanya dewi fortuna enggan menghampiri. Dalam peijalanan dari pusat kota menuju Bukit Jambul sentra penanaman durian di Penang Kami hanya menemukan lapak-lapak kosong di depan hamparan kebun durian. Jangankan udang merah, durian kampung tanpa nama saja hanya ada di satu lokasi. Itu pun dengan penampilan buruk. Padahal waktu rekan Kami ke sana pada 2002, durian-durian johan (juara, red) dengan mudah ditemukan.

Akhirnya Kami mendapat penjelasan dari Meggy Quah, pengelola Tropical Fruit Farm (TFF) sebuah kebun agrowisata. Biasanya panen raya berlangsung pada Juni sampai Agustus. Angin besar yang melanda daerah itu di awal musim dituding biang kerok rontoknya bunga. Akibatnya produksi buah menurun drastis.

Bila tidak TFF jadi tempat tepat menikmati anghe begitu Meggy menyebut udang merah. Di kebun itu juga ada durian selembut es krim dan holo berbentuk seperti guci arak dengan rasa pahit dan kering. Toh, perempuan ramah itu mengakui anghe tetap incaran utama para mania. Pembeli rela antre meski harga mahal. Saat buah banyak, harga per kilo RM20; di luar musim RM50.

Apa daya, meski kecewa untuk sementara waktu keinginan mencicipi red prawn begitu nama Inggris-nya mesti dipendam dalam-dalam. Hingga pesawat Garuda Airways membawa kembali Kami ke Jakarta dengan segudang pengalaman mencicipi durian negeri jiran, sebuah asa masih tertinggal di sana. Suatu hari pasti datang kembali untuk memburu si udang merah.

Yudi Anto