Kilau Durian Emas EM-24 di Buah Raja

durian emas
Durian EM-24 sering pula disebut durian Emas

Coba tanya, durian apa yang paling terkenal di Kabupaten Kampar, Riau? Pasti jawabannya hampir seragam. “Di sini durian tembaga yang paling enak. Durian thailandpun kalah,”kata Drs H Djuharman Arifin, mania durian di Riau. Coba tanya lebih serius lagi. Adakah yang lebih enak? Jawaban pelan setengah berbisik bakal terucap, “Durian berwarna emas jauh lebih lezat.” Itulah pujian untuk EM-24 emas 24 karat yang banyak diburu di Bumi Lancang Kuning.

Durian EM-24 luar biasa. “Daging buah seperti tembaga, berwarna kuning. Namun, kuningnya lebih menarik seperti emas 24 karat. Rasanya juga lebih enak, legit, dan wangi,” ujar Hardiansyah, praktikus pertanian di Riau. Daging buah EM-24 sangat tebal karena bijinya kempes. Dalam buah berbobot 2,5 sampai 3 kg paling ditemui 2 sampai 3 biji normal. Tekstur daging buah durian emas lembut, nyaris tanpa serat.

Sebutan EM-24 kerap mengecohkan para penangkar buah dan mania durian nusantara. “Anda mungkin salah dengar. Itu D-24 atau durian otong?” kata seorang pekebun durian di Bogor. Nama EM-24 memang mirip D-24, varietas yang dilepas MARDI, lembaga riset pertanian di Malaysia. Namun, menurut Panca Jarot Santoso, peneliti durian di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, kedua varietas itu berbeda.

Diburu duren mania

durian em-24
Warna durian em-24 yang kuning nan menarik

Sejak 2 tahun belakangan, EM-24 gencar dicari mania durian. Awalnya serombongan penikmat durian keturunan Tionghoa asal Pekanbaru memburu tembaga ke Kampar. Saat menikmati tembaga itulah mereka mencicipi durian emas. Maklum, pohon induk tembaga berdekatan dengan pohon induk EM-24.

Kedua pohon itu milik sebuah keluarga besar penangkar terkemuka di seantero Riau. Durian emas dirawat oleh Syamsir, tembaga oleh Abu Bakar, sang kakak. Abu Bakar juga membidani kelahiran tembaga sebagai durian unggul nasional melambung. “Bila harga tembaga Rp20-ribu per buah di pekebun, emas Rp30-ribu, bahkan 2 kali lipatnya,” kata Syamsir. Dari perjalanan para mania durian asal Pekanbaru itulah nama EM-24 mulai populer.

Saking terkenalnya, lahan di sekeliling pohon EM-24 mesti dipagar dan digembok agar buah yang jatuh tidak dicuri. Itu berbeda dengan pohon monthong yang Trubus lihat dibiarkan tumbuh di pinggir jalan tanpa pagar. Maklum, bagi masyarakat Kampar khususnya Kecamatan Tambang durian “pendatang” itu tidak cocok di lidah.

Pohon tua Durian EM24

Lokasi pohon induk EM-24 persis di Desa Sei Pinang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Itu sekitar 30 km atau 45 menit perjalanan bermobil dari arah Pekanbaru menuju Bangkinang. Trubus melihat pohon berumur 240 tahun itu menjulang mencapai 70 m. Lingkar batang sebesar 2 pelukan orang dewasa. Beberapa cabang utama terlihat mulai lapuk di makan umur. Meski begitu, menurut Syamsir pohon itu masih bisa menghasilkan 400 buah per tahun.

Beruntung pohon itu dimiliki oleh keluarga penangkar. Pohon yang sudah lewat umur produktif itu memiliki pewaris yang bakal melanggengkan nama EM-24. Tiga belas tahun lalu, Syamsir mengokulasi 4 bibit. Kini tinggi tanaman mencapai 25 m dengan produksi rata-rata 60 buah per tahun. “Merekalah yang memperkenalkan durian kampar ke kancah nasional,” kata Ir Nurhasni, staf pengawas benih dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, Riau.

Menurut Nurhasni, sebetulnya di Kampar ada 4 durian lain yang juga digemari mania durian. Sebut saja kunyit yang warnanya seperti kunyit. Atau jantung yang manis kering. Ada juga krim madu yang tahan simpan dalam perjalanan jauh dan durian bakul bersosok raksasa. Penasaran ingin menikmati EM-24 dan durian kampar lainnya? Datanglah ke sana pada November sampai Desember. Harum dan lezatnya durian bakal memuaskan Anda.