Budidaya Tani

Kolam Taman Minimalis Di Halaman Rumah

Bayangkan bila suatu pagi yang cerah, Anda duduk-duduk di gazebo bambu sambil membaca buku karangan penulis kesayangan. Suara gemericik air mengalir dari sungai buatan yang jatuh ke kolam mungil. Sesekali anggungan perkutut dalam sangkar merdu meningkahi. Di kiri-kanan gazebo pacing Costus speciosus yang meninggi laksana bambu tertiup angin sepoi-sepoi. Suasana bak di alam pedesaan nan tenteram tercipta di halaman. Lalu apa jadinya bila tiba-tiba Anda harus pindah rumah? Jangan khawatir potongan hutan pedesaan di halaman rumah bisa ikut dibawa.

Bak di pedesaan itulah yang akan Anda rasakan bila bertandang jS ke kebun milik Ir Hari Harjanto di Depok, Jawa Barat. Di salah satu sudut kebun di dekat bekas gudang terbuka, sebuah gazebo bambu berdiri anggun. Sebuah sungai buatan dan kolam berair bening jadi pemandangan menarik bila Anda duduk di dalam gazebo sambil menghadap ke kanan.

Suasana Alam Pedesaan

Air bergemericik turun dari puncak sungai buatan menuju kolam. Di beberapa bagian terlihat sungai beriak. Itu karena sungai berkelok atau ada batu menonjol menghalangi jalan air. Suaranya menenteramkan. Di dalam kolam terlihat ikan-ikan mas kecil berkeliaran di antara bebatuan alam yang ditumbuhi lumut. Persis seperti suasana danau di alam.

Di sepanjang aliran sungai terlihat Polyschias fruticosa alias kedondong laut variegata bersosok mini, apidistra dengan daun hijau berbintik putih, turiang Homalomena cordata berdaun ramping berwarna hijau muda, dan adam hawa variegata ditata apik. Di beberapa sudut euphorbia berbunga mungil berwarna merah muda, merah tua, dan putih mencerahkan suasana.

Sementara pacing-pacingan, philodendron gigantea variegata, dan diffenbachia giant mengeblok pandangan mata dari “gangguan” di luar taman. Bila esok hari arsitek lansekap dari Institut Pertanian Bogor itu berpindah lokasi kebun, keserasian sungai buatan, kolam, dan taman itu juga ikut pindah. Itu karena miniatur alam pedesaan itu didesain supaya bisa dibongkar-pasang. Tak perlu menunggu waktu sampai berbulan-bulan. Cukup 4 jam, keindahannya sudah bisa dinikmati di tempat baru.

Kolam Bongkar pasang

Sungai buatan berkelok-kelok

Maklum tak seperti cara konvensional, sungai dan kolam tidak dibuat dengan kontruksi besi dan coran beton yang statis. Alas sungai dan kolam berupa terpal atau pond liner. Yang disebut terakhir, berupa cetakan kolam berbagai bentuk yang siap pakai. Di atas alas itu lantas ditata beragam tanaman sehingga jadi satu kesatuan yang alami.

“Keuntungan dengan teknik ini, proses pembuatan cepat. Untuk taman air seluas 4 m x 7 m seperti ini (taman air milik Hari, red) cuma butuh waktu 4 jam,” kata pemilik nurseri Wong Tani itu. Dengan cara konvensional, luasan sama dikerjakan dalam waktu seminggu. Belum lagi ada risiko bocor sehingga coran mesti dibongkar ulang. Sistem bongkar-pasang tidak meninggalkan kotor bekas adukan semen dan pasir karena penggunaannya sangat minim. Proses pengerjaannya pun simpel.

Mula-mula tentukan titik awal berupa bagian tanah tertinggi. Lokasi mesti berkontur tinggi-rendah supaya aliran air terlihat cantik. Setelah itu tentukan posisi terendah untuk kolam. Buat alur sungai yang menghubungkan bagian tertinggi dan terendah. Alur mesti acak sehingga muncul kelokan-kelokan sungai. Di situlah nantinya air terlihat memecah.

Di beberapa titik, berikan kejutan-kejutan agar sungai tidak terlihat monoton. Kejutan dapat berupa susunan bebatuan yang acak atau tanaman berbentuk unik. Hari menggunakan talas-talasan yang tumbuh melengkung. Sementara bila susunan batu yang dipakai, selain riak air, elemen suara pun terdengar. Kedalaman sungai dangkal saja. “Ingat air beriak, tanda tak dalam,” seloroh Hari. Bila alur selesai dibuat, tinggal menghamparkan terpal sesuai ukuran sungai. Di beberapa sisi, terpal diganjal dengan bebatuan besar agar posisi tidak berubah.

Membal

Sudut dari dalam gazebo

Pembuatan sungai sebaiknya berbarengan dengan kolam. Untuk membuat kolam, tentukan dulu bentuk yang diinginkan. Membulat penuh, oval, atau berlekuk-lekuk. Setelah itu baru gali lubang dengan bentuk melandai, bukan garis tegas yang curam. Pembuatan kolam dengan tepi curam menyulitkan dalam penyusunan bebatuan. Kedalaman kolam tergantung selera. Hari menggali sedalam 25 cm.

Setelah lubang digali, alasi dengan pasir halus yang diayak. Ketebalan pasir 2 cm. Tujuannya supaya terpal alas kolam tidak berhubungan langsung dengan tanah yang mungkin bercampur dengan bebatuan. Gesekan dengan batu menyebabkan terpal bocor. Pasir juga berguna pada kemarau. Saat itu tanah kerap mengalami retak-retak. Pasir yang membal akan mengisi bagian berongga itu sehingga terpal tidak masuk dan terjepit rongga tanah.

Di atas pasir, beri selapis karung goni. Baru di atasnya dihamparkan terpal. Sama seperti pada sungai buatan, di beberapa tempat terpal diganjal bebatuan besar. Selain berperan sebagai “pasak”, bebatuan besar menjadi pusat perhatian. Terakhir isi kolam dengan air supaya posisi terpal mengikuti bentuk galian. Setelah posisi ajek, hiasi kolam dengan bebatuan alam tambahan. Pilih yang bentuknya ceper dan beragam supaya alami. Kolam dilengkapi dengan filter agar tak perlu bolak-balik menguras air. Aliran sungai dibuat lancar turun-naik dengan bantuan pompa.

Keterangan

  1. Gali tanah untuk kolam, buat melandai dengan kedalaman maksimal 25 cm
  2. Taburkan pasir halus hasil ayakan setebal 2 cm
  3. Tutup dengan karung goni
  4. Hamparkan terpal sesuai ukuran kolam
  5. Beri bebatuan besar di titik tertentu sebagai titik pandang utama dan untuk menahan terpal agar tidak bergerak
  6. Isi air
  7. Isi dengan bebatuan ceper

Hindari Pemangkasan

Polesan terakhir ialah menata tanaman. Untuk mengeblok pandangan dari bagian luar taman, pergunakan tanaman berkesan tinggi seperti pacing-pacingan, philodendron, dan diffenbachia raksasa. Untuk aksen di bebatuan, pilihan jatuh pada euphorbia dan bromelia. Warna-warni tanaman kering itu membuat suasana taman cerah.

Bila menggunakan bromelia dan euphorbia sebagai elemen taman, jangan tanam langsung di tanah. Bromelia tidak suka media padat karena menyebabkan akar busuk. Sementara bila euphorbia ditanam di tanah, yang subur justru daunnya. Tanam bromelia dan euphorbia di pot dengan media yang porous. Pilih sekam bakar, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:11 untuk euphorbia. Bromelia dengan media pasir kasar dan koral split. Letakkan pot di antara bebatuan, jangan dipendam supaya lingkungan di sekitar tanaman tidak terlalu lembap.

Hindari tanaman yang membutuhkan pemangkasan. Selain repot, juga tidak terkesan alami. Pilih tanaman yang percabangannya kompak dan rimbun. Misal kedondong laut mini, calathea bunga, dan apidistra. Di bagian yang kosong dan tempat ternaungi, tutupi dengan rumput gajah mini. Taman air instan pun siap dinikmati.

Pandu Dwilaksono