Laba Dan Kendala Di Balik Bisnis Budidaya Ikan Lele

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Lele siap panen
Dua bulan di kolam langsung panen

Untuk memperoleh pendapatan tambahan dari budidaya ikan lele1 itu ia tak mengorbankan waktu. Pukul 16.00 biasanya Ucok panggilan akrabnya tiba kembali di rumah.

Mengunjungi kolam lele pun hanya 3 kali sepekan sekadar menebar pakan. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menjalankan bisnis transportasi dan jasa pengurusan izin trayek angkutan kota. Dari situlah sumber nafkah utama keluarga didapat.

Bacaan Lainnya

Penangguk untung bukan monopoli pemilik kolam skala luas. Sarpin Alex, pengelola 4 kolam seluas masing-masing 300 m2 juga mengecap laba. Dengan interval penebaran 2 pekan, Sarpin mampu memanen rata-rata 1,5 ton per kolam 2 minggu sekali.

Setahun terakhir ia memasarkan sendiri ke Cengkareng dan Pondokgede. “Saya merasakan enaknya beternak lele. Bikin rumah, beli motor, dan beli sepetak tanah dari hasil penjualan lele,” tutur ayah Wahyudi dan Dewi Sartika itu ketika ditemui Trubus di rumahnya. Ia menempati rumah gedung permanen di tanah 400 m2 di Parting, Bogor.

Ancaman yang mengintai dalam usaha ternak lele

Pemberian pakan lele
Pakan alternatif tekan biaya produksi

Rasyad dan Sarpin boleh jadi peternak beruntung. Mereka tak menemukan hambatan berarti dalam membesarkan dan memasarkan lele. Komaruddin Husein sebaliknya. Walau berpengalaman sejak 1980-an peruntungannya tak selalu mencorong. Enam bulan lalu sebagian benih yang baru ditebar seminggu terserang cacar alias Aeromonas hydrophila2. Kulit lele bernanah, kemudian melepuh, dan berkoreng.

Pria 46 tahun itu menduga hujan 5 malam berturut-turut sebagai biang keladi. Akibatnya 44.000 benih umur 20 hari gagal diselamatkan. Ikan yang mengapung itu akhirnya dihanyutkan di Sungai Angke, 20 meter dari kolam.

Jika harga seekor benih Rp150, berarti Rp6.600.000 melayang. Kejadian serupa dialami 2 tahun sebelumnya. Patil merah merenggut 40.000 benih lele.

Selain penyakit, hama juga mengintai benih lele. Burung koak yang aktif malam hari salah satu contoh hama yang sulit diatasi. Sekali makan, seekor burung mampu menghabiskan 20 ekor benih ukuran 7 sampai 10 cm.

Celakanya, mereka datang rombongan. “Kalau 20 ekor yang datang dan makan 2 kali saja, sudah 800 benih hilang sehari. Wuih… gila betul!” papar Ir Indratmoko Hadiputranto, peternak di Bogor, sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Pantas jika hampir 100.000 benih lele Indratmoteo jadi santapan koak selama sebulan pada awal tahun ini. Di sekitar kolamnya, banyak peternak berhenti budidaya akibat lonjakan harga pakan. “Burung yang biasa makan di kolam mereka pindah ke kolam saya,” tutur anak ke-5 dari 6 bersaudara itu. Menyongsong masa pensiun alumnus Teknik Sipil ITB itu beternak lele di lahan 3 ha.

Pasok Benih Lele Tidak Dibayar

kolam ikan lele
Kolam budidaya ikan lele

Kendala lain yang dirasakan Indratmoko, “Kita tak boleh telat panen. Jika dilanggar harga pasti turun. Idealnya sekilo terdiri atas 8 sampai 10 ekor. Begitu sekilo 5 ekor, harga turun,” tutur ayah 3 anak itu. Sebetulnya lele besar dapat dipasarkan ke kolam pemancingan.

Sayangnya, serapan konsumen sangat kecil, 2% sampai 3%. “Dijual ke warung juga bisa, tetapi hitungannya per ekor bukan kilo sehingga kita rugi,” tutur HM Tuin, peternak di Sidoarjo, Jawa Timur.

Harga pakan terus membumbung, hambatan lain yang acap dihadapi peternak. September lalu misalnya, harga per sak isi 30 kg hanya Rp78.000. Dua pekan kemudian harga melonjak Rp98.000. Tak lama berselang menjadi Rp 100.000. “Tadi saya cek, minggu depan mau naik lagi menjadi Rp 104.000,’ kata Sarpin Alex kepada Trubus awal November.

Pakan kebutuhan terbesar. Menurut Samin, kebutuhan pakan hingga panen 3 kali benih. Ia mengelola 20 kolam di lahan 6.000 m2. Setiap bulan setidaknya 5 kolam dipanen dan diisi ulang. Kebutuhan benih 5 kolam mencapai 100.000 ekor.

Jika harga seekor benih Rp 100, ia membayar Rp 10-juta. Pakan yang dihabiskan 80 karung (1 karung setara 30 kg) per kolam atau 400 karung untuk 5 kolam. Bila harga per karung Rp92.000, Samin mengeluarkan Rp36.800.000.

Namun, ayah 3 anak itu menyiasati dengan pakan pengganti berupa telur ayam yang gagal menetas. Telur yang beberapa hari dimasukkan ke mesin tetas dikeluarkan lantaran dipastikan tak menetas3. Kebutuhannya mencapai 1,5 ton per 2 bulan. Harga sekilo telur yang dibeli dari peternak di Sukabumi dan Cianjur itu Rp800. Dengan cara seperti itu Samin hanya butuh 60 kg pakan per kolam. Siasat itu hanya cocok untuk lele berumur minimal 1 bulan.

Memelihara lele berarti mencurahkan waktu untuk anggota famili Clariidae itu. Sebab, lele bersifat kanibal, tak segan menyantap daging sesama. “Telat sedikit memberi pakan, yang besar makan yang kecil,” ujar Surtiyati. Perempuan itu membudidayakan lele di 4 kolam berukuran masing-masing 6 m x 4 m. Dari 4.000 benih yang ditebar, ia hanya menuai 70 kg.

Batu sandungan tak hanya ditemukan peternak di sektor hulu. Di hilir para pemasar pun sulit mengelak dari hambatan. Puluhan juta rupiah melayang dari genggaman Samin pada awal memasarkan lele, 3 tahun lalu.

Pembayaran untuk pengiriman pertama dan kedua, biasanya lancar. Namun, “Pengiriman selanjutnya pembayaran ditunda. Pedagang minta lagi dan saya kirim. Saat ditagih mereka menghilang entah ke mana,” kata Samin yang memasok ke Pasar Cengkareng.

Peristiwa serupa juga dialami Sumono, pedagang pengepul di Kudus. Tiga tahun lalu 2 ton tak dibayar karena pedagang di Pasar Kudus yang dipasok menghilang. Padahal ketika itu harga sekilo Rp6.000 sehingga Rp12-juta lenyap.

Berkelit membayar bukan monopoli pedagang lele konsumsi. Modus operandi serupa juga diikuti pedagang besar benih. Pengalaman getir itu menimpa Komaruddin 5 tahun lalu. Ia memasok benih ke Wonosobo, Jawa Tengah. Lima pengiriman pertama pembayaran lancar. Namun, selanjutnya seret. Sekitar 50.000 benih akhirnya tak dibayar.

Penjarahan kolam memang jarang terjadi. Untuk mengantisipasi, Indratmoko biasanya membagi-bagi lele usai panen kepada masyarakat di sekitar kolam. Sekali membagi ia menghabiskan 100 sampai 150 kg. Padahal pemilik 3 ha kolam di Parung, Bogor, itu hampir 3 hari sekali panen.

Budidaya ikan lele dan Keuntungan Produksi singkat

Walau kendala menghadang, peternak tak surut langkah. Mereka menggeluti lele antara lain karena masa produksi singkat, 55 hari. Bahkan, 45 hari seperti diterapkan Indratmoko dan Komaruddin yang menggunakan benih ukuran 12 cm. Dengan singkatnya masa produksi, . “Perputaran uang juga cepat sehingga saya bisa menafkahi keluarga,” ujar Samin.

kelahiran Bojonegoro 39 tahun silam itu. Heru mengelola 14 kolam rata-rata 10 m x 10 m di lahan 5.000 m2. Setiap 2 pekan penjual pakan ternak itu memanen 2 ton. Ayah 3 anak itu mudah saja memasarkan cat fish. “Berapa pun produksi saya optimis bisa menjual,” katanya.

Pantas jika Sahri meninggalkan budidaya padi. Sejak 1996 ia beternak lele di Buduran, Sidoaijo. Dari sebuah kolam Sahri menuai 1,5 ton, 70% dapat dipasarkan. Soalnya, pasar hanya membutuhkan lele daging sekilo terdiri atas 7 sampai 10 ekor.

Selebihnya, 1,5 kuintal termasuk kelas super yang mengisi kolam pemancingan dan 1 kuintal lele kecil (12 sampai 20 ekor). Setelah dikurangi biaya pakan dan bibit, Rp2,7-juta masuk kocek Sahri dari sebuah kolam ukuran 15 m x 7 m. Padahal Sahri mengelola 28 kolam.

Peternak tak kesulitan memasarkan lele. Soalnya, begitu siap panen mereka tinggal menghubungi pedagang pengepul. Proses panen hingga penimbangan dilakukan pengepul.

Bulan baik Untuk Mulai membudidayakan ikan lele

bibit lele
bibit lele siap di tebar di bulan baik

Sebagai pedagang pengepul sejak 2 tahun silam Samin memasok pasar Cengkareng, Jatinegara, dan Tangerang 2 sampai 3 ton per hari. Kesinambungan pasokan terjaga lantaran ia bermitra dengan 40 peternak. Ia membeli Rp5.800 sampai Rp6.000 per kg dan mengutip untung bersih Rp200 sampai Rp500. Itu setelah dikurangi biaya transpor ke Jakarta Rp200 per kg.

Keuntungan Mujiyono, pedagang di Ngunut, Tulungagung, malahan lebih besar, Rp500 sampai Rp1.500 per kg. Permintaan meningkat hingga 30% menjelang Ramadan kebetulan di Desember dan bertahan hingga April. Itu dialami semua pedagang.

Pada Desember biasanya pasokan ikan laut menurun lantaran bertiup angin barat sehingga nelayan enggan melaut. Kebutuhan ikan antara lain dipenuhi oleh lele.

Melihat laba itu wajar saja jika masyarakat Bojongsoang, Kabupaten Bandung ngotot beternak lele di lahan penampungan air milik Perusahaan Air Minum. Jaring-jaring apung memenuhi waduk itu sejak 2 tahun terakhir.

Kerupuk Cegah Kematian

Berhimpitan dalam drum plastik selama perjalanan menyebabkan bobot lele turun hingga 10%. Itu akibat lele terus-menerus mengeluarkan lendir. Lendir juga pemicu turunnya kualitas air sehingga banyak lele mati. Pedagang di Indramayu yang memasarkan ke Jakarta (jarak 200 km, waktu 4 jam) mencampurkan beberapa sendok makan minyak goreng ke dalam wadah angkut. Jika khawatir minyak merusak mata ikan, ganti saja dengan kerupuk yang sudah digoreng. Remas kerupuk hingga menjadi pecahan kecil dan taburkan di drum. Selama perjalanan lele kerupuk melepasnya minyak goreng perlahan-lahan. ***

Tekan Biaya Pengiriman menggunakan Terpal

Mengangkut lele dengan drum plastik sangat menyita tempat. Satu truk Colt Diesel paling hanya memuat 1 ton. Pedagang di Bandung membawa lele dengan cara menghamparkan terpal di bak truk. Setelah diisi air secukupnya, lele ditempatkan. Dengan cara itu ia mampu membawa 2 ton lele sekali jalan. Itu hampir 2 kali lebih banyak ketimbang pengangkutan drum, Pedagang yang menyewa truk pun lebih hemat, karena hanya membayar sekali perjalanan. Jika membawa drum, truk mesti kembali ke rumah pedagang.

Mengobati Luka Patil

Patil di sisi kiri dan kanan kepala jadi senjata andalan lele. Pada lele dumbo patil tak seberbahaya lokal yang mengandung kelenjar racun. Itulah sebabnya jika melukai jari, tubuh kita langsung panas hingga 2 hari. Tangan terasa pegal hingga bahu. Kadar racun lele muda sekilo terdiri atas 7 10 ekor jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, jangan anggap enteng lele muda. Menurut Pepen Efendi, peternak di Cianjur, segera ikat dekat bagian terluka dengan karet gelang. Maksudnya, agar racun tak menyebar ke bagian tubuh lain. Cara itu juga untuk menghentikan pendarahan. Siasat lain, oleskan tumbukan daun sembukan Paederia foetida di bagian yang luka.***

Analisa Usaha Budidaya Lele 
Spesifikasi:Pembesaran lele dumbo
Lama pengusahaan 3 bulan
Skala usaha 15.000 ekor
I. Pengeluaran:
a. Sewa lahan 400 m2/3 bulanRp 50.000
b. Perbaikan kolamRp 200.000
c. Pupuk kandang 280 kg @Rp300Rp 84.000
d. – Pengapuran 80 kg @Rp200Rp 160.000
– Urea 6 kg @Rp2000Rp 12.000
– TSP 4 kg @ Rp2500Rp 10.000
e. Obat-obatan (anti stres + vitamin)Rp 50.000
f. Benih lele 8—12 cm @Rp125Rp 1.875.000
– Pelet 1000kg @Rp3.300Rp 3.300.000
– Pakan lain (ikan rucah) 1500 kg @Rp500Rp 750.000
g. Tenaga tetap (1 orang)Rp 350.000
Total pengeluaranRp 6.841.000
II. Penerimaan
– 1.200 kg (8—10 lele/kg) x Rp6.000Rp 7.200.000
– 100 kg (3—5 lele/kg) x Rp 4.500Rp 450.000
200 kg (15—20 lele/kg) xRp6.000Rp 1.200.000
Total penerimaan
III. Perhitungan Ekonomis
a. Keuntungan Rp 8.850.000 – Rp 6.841.000 = Rp2.009.000
Hasil perbulan Rp 2.009.000 : 3 = Rp669.000
b. B/C Ratio (ll/l) = Rp8.850.000 : Rp6.841.000 = 1,29
Setiap penambahan biaya Rp1 memperoleh penerimaan Rp1,29
c. Efisiensi usaha (lll/l) = Rp2.009.000 : Rp6.841.000 = 0,29
Usaha ini menghasilkan pendapatan bersih 29% Sehingga layak dijalankan
karena di atas bunga bank

 

  1. Catfish Aquaculture Production, Farm-Gate Values and Prices in the United States | Coastal R&E. https://coastal.msstate.edu/aquaculture-catfish. Accessed 22 Feb. 2021.
  2. Bandeira Junior, Guerino, et al. “Aeromonas Hydrophila Infection in Silver Catfish Causes Hyperlocomotion Related to Stress.” Microbial Pathogenesis, vol. 132, July 2019, pp. 261–65. PubMed, doi:10.1016/j.micpath.2019.05.017.
  3. Widiarto, Agung Sri, et al. “PAKAN APUNG ARTIFASIAL UNTUK BUDIDAYA IKAN LELE PENGARUH NAIC DAN NUTRISI TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE DENGAN METODE FCR (FEED CONVERSION RATIO).” JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI, vol. 0, no. 0, 2013, pp. 97–102.

Pos terkait