Budidaya Tani

Lacak Jejak Tawi di Wamena

Pukul 03.00 dini hari waktu Indonesia bagian timur. Sayup-sayup terdengar bunyi erangan mobil. Sial, Kami kalah posisi. Mobil berkapasitas 10 orang hanya bisa mengangkut langganan tetapnya. Harapan untuk menaiki Hartop ke-2, 3, dan 4 pun sirna setelah timer mengabarkan, “Tak ada mobil lagi pak, tiga-tiganya rusak.” Terpaksa tujuan ke Bogondini, sentra buah merah terbesar di Kabupaten Tolikara dibatalkan. Apa boleh buat ada Kelila, wilayah kecamatan di Kabupaten Wamena yang tidak kalah besar sebagai sentra buah merah.

Kelila dan Bogondini sebetulnya satu arah. Namun, karena jembatan yang menghubungkan kedua kecamatan itu rusak, untuk ke Bogondini harus memutar arah, tak bisa lewat Kelila. Sarana transportasi yang ada untuk ke sana adalah mobil-mobil pribadi yang berubah fungsi. Ke Bogondini khusus menggunakan Hartop, sedangkan ke Kelila, Hartop dan Kijang. Dalam kondisi normal, jalan tidak licin, Wamena Bogondini ditempuh 4,5 sampai 5 jam  ke Kelila cukup 3 sampai 3,5 jam.

Lagi-lagi Kami kurang beruntung. Mobil angkutan ke Kelila di tempat ngetem belum satu pun terlihat. Padahal biasanya pukul 04.00 sudah ada yang berangkat. Kemungkinan gagal pergi ke Kelila cukup besar. Maklum jumlah kendaraan sangat terbatas. Apalagi sehari sebelumnya diinformasikan, jika lewat pukul 06.00 berarti tak akan ada mobil lagi pergi ke sana. Syukur pada pukul 05.40 muncul sebuah Kijang yang segera diserbu penumpang. Setengah jam kemudian mobil melaju.

Jalanan Yang Rusak berat

Terhambat sarana transportasi

Jalan dari Wamena sampai ke Bolakme kira-kira 1/3 rute perjalanan beraspal cukup mulus. Kijang pun lari dengan kecepatan 60 sampai 70 km/jam. Jadi, yang terlintas di benak Kami, “Enak sekali bisa menghirup udara segar dan panorama aduhai di kiri-kanan jalan.” Namun, tak sampai sepenginangan, jalan mulai mendaki dan berkelok-kelok membelah perbukitan. Dan tiba-tiba di depan mata, alamak kubangan air menutup jalan.

Itu belum seberapa, 200 m kemudian giliran jeglongan berlumpur menghadang. Mobil harus berjalan tepat di bekas ban mobil lain karena badan jalan melesak cukup dalam hingga separuh ban. Sebagian penumpang, terutama lelaki, turun untuk membantu menarik. Dengan susah payah akhirnya mobil bisa melewati jalan berlumpur itu. Pantas 2 mobil dari Wamena selalu diberangkatkan berbarengan agar bisa saling menarik jika diperlukan.

Sepanjang perjalanan rintangan-rintangan menegangkan kerap dialami. Bahkan hati berdebar-debar ketika beberapa kali melewati bahu jalan yang longsor. Sebab jurang di sebelah kanan cukup dalam, sehingga nyawa jadi taruhan jika tergelincir. Untungnya tanaman-tanaman buah merah yang menjadi perhatian semakin sering dijumpai. Sebelumnya sampai Bulakme, tawi sebutan buah merah di Wamena hanya sesekali target perburuan terlihat bergerombol di sudut-sudut halaman.

Jam di tangan menujukkan pukul 08.05. Rumpun-rumpun tanaman buah merah yang manghampar di kanan jalan di lereng-lereng bukit kian jelas. “Ini sudah masuk distrik (kecamatan, red) Kelila,” kata supir. Pantas beberapa orang yang berpapasan terlihat memanggul ikatan buah merah. Dan kurang lebih 20 menit menjelang tapal batas Kelila, di lapangan agak luas tampak onggokan buah merah. Di situlah tempat pertemuan antara pedagang pengumpul dan pemilik Pandanus conoideus.

Diusir

Mereka memang lebih kuat

Kami hanya singgah 4 sampai 5 menit untuk merekam kegiatan transaksi di pasar Kelila. Di sekitar itu tidak ada pertanaman buah merah. Kalau pun ada harus menuruni bukit curam yang memakan waktu berjam-jam. Pertanaman buah merah yang terjangkau baru ditemukan sesampai perbatasan. Di seberang jalan ratusan tanaman terhampar di satu lokasi. Sayang, buah yang matang sudah dipanen, tinggal buah muda berwarna cokelat.

“Sejak buah merah banyak dicari, tak ada yang tersisa matang di batang,” tutur Geras Pagawak. Di kebun depan rumah guru agama sekaligus penggembala umat itulah Kami menemukan yang matang. Itu pun dari 13 tanaman hanya 2 buah yang masih bergelantungan. Selebihnya sudah habis dipanen. Di lereng bukit ia memiliki belasan ribu tanaman. Semua peninggalan orang tua dan hanya sebagian kecil yang ia tanam.

Menurut pria berusia 36 tahun itu, di Desa Kindok, Kecamatan Kelila, banyak orang yang mempunyai tanaman melebihi jumlah miliknya, sampai 30.000 batang. Apalagi sekarang, mereka berlomba mengembangkan seluas-luasnya karena tergiur harga jual yang cukup tinggi.

Sebelum November 2004, buah merah hanya laku Rp200 sampai Rp300 per buah sehingga banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak. Sekarang harga melambung, di tingkat pekebun mencapai Rp20.000 sampai Rp30.000/buah. “Tak ada acara bagi-bagi buah merah lagi ke tetangga atau sanak saudara, semuanya dijadikan uang,” tutur Jomin Tabuni. Mungkin karena alasan itulah Kami diusir ketika hendak memotret tanaman buah merah di sebuah halaman rumah.

Jalan kaki

Pasar Kellla, semula sepi kini ramai dengan buah merah

Di Kelila Kami tak bisa meluangkan banyak waktu karena pukul 10.30 harus sudah berdiri di tepi jalan untuk menyetop mobil yang tadi pagi ditumpangi. Maklum kendaraan yang naik dari Wamena hari itu cuma 2 buah. Jika telat, baru bisa pulang besok siang. Betul, tak lama kemudian mobil datang. Namun, ketika hendak naik, tubuh seakan tak bertulang, lemas-lunglai setelah mendengar mobil itu rusak, tak bisa berjalan jauh.

Harapan satu-satunya menunggu mobil lain yang tengah mendekat. Kijang bak terbuka harapan satu-satunya itu sudah penuh muatan, tapi tetap dinaiki sehingga isinya kian berjejal. Apes, mobil itu cuma bisa berjalan 1,5 km, kemudian mogok gara-gara kanvasnya habis. Tak ada jalan lain, “Kalau tidak mau menginap di sini (di Kelila di rumah penduduk, red) cepat berlalu, nanti kemalaman di tengah hutan,” anjur supir.

Lima laki-laki dewasa dan 3 perempuan mengiringi langkah Kami menapaki perbukitan dengan kemiringan 45° Di tengah perjalanan satu demi satu memisahkan diri dari kelompok, sampai akhirnya Kami hanya ditemani 1 laki-laki dan 3 perempuan. Wim Tabuni, laki-laki yang menemani mengomandoi.

Dengan sisa tenaga, Kami mencoba beijalan agak cepat, tapi tak bisa. Setiap 200 sampai 300 m terpaksa berhenti untuk membasahi tubuh dan mereguk air dari celah-celah batu. Lelah sekali, beijam-jam menbmpuh medan yang sangat berat. Sampai akhirnya 4,5 jam berjalan kaki Kami tak sanggup untuk meneruskan perjalanan. “Kami kalau berjalan kaki berangkat dari Kelila pukul 06.00 sampai Wamena pukul 24.00,” tutur wanita yang terlihat masih segar bugar meski menggendong beras.

Lima belas menit beristirahat melepas lelah terdengar suara raungan mobil. Alhamdulillah rupanya Hartop yang kemarin menginap di Kelila turun ke Wamena. Dengan penuh permohonan. Kami meminta izin ikut menumpang. Syukur, supir yang mengganti ban di hadapan kami itu mengizinkan saya naik, sementara 4 orang lainnya tak boleh.

Di dalam penuh buah merah yang dikawal 6 pedagang pengumpul. Bagai gayung bersambut informasi tentang buah merah yang menjadi penggerak ekonomi rakyat Wamena mengalir deras dari mereka. Tak terasa sampai di penginapan jam menunjukkan pukul 22.00 waktu Indonesia bagian barat. ***

Pandu Dwilaksono