Laksana Otorii, Otorii

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Nihon Koki, catatan sejarah Jepang, mengambarkan perilaku masa lalu penduduk Pulau Miyajima seperti Otorii. Tabu menyerah serta teguh memegang prinsip. Sifat itu melekat pada diri Sartono, produsen benih lokal di Blitar, Jawa Timur.

Berdiri tegak ditengah kepungan produsen benih mancanegara tidak membuatnya oleng. “Masa kita tidak mampu jadi tuan di rumah sendiri,” ujar Sartono. Nasionalisme membuncah itu bukan basa-basi. Cabai trisula, misalnya, hasil tangkarannya sebaran penanamannya mencapai Bali, Sumbawa, Mataram, Sumatera, dan Jawa. Sosok trisula disukai pekebun. Ia berukuran besar, panjang 12 sampai 15 cm, diameter 1 sampai 2 cm, dan bobot per buah 10 sampai 15 g. Warna buah matang merah dan bertekstur keras hingga tahan disimpan selama 12 hari. Yang lain agak tahan serangan antraknosa dan fusarium.

Bacaan Lainnya

Sekitar 30 jenis benih sayuran sudah diluncurkan termasuk benih hibrida seperti tomat dan jagung. Rata-rata semuanya laku keras. Wajar dering telepon pelanggan mewarnai hari-hari Sartono. Kesibukan itu meningkat tatkala kedatangan peneliti-peneliti dari berbagai institusi. Beberapa di antaranya Balai Penelitian Tanaman Sayuran serta Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serelia lain. Selain berstudi banding, mereka sekaligus mengajak bekerjasama “menciptakan” benih unggul lokal.

Berburu peneliti

Benih hibrida cukup laku di pasaran

Dilahirkan dari keluarga petani, Sartono muda mengawali kiprah bertani pada usia 29 tahun setelah bertahun melakoni kuli bangunan hingga kernet bus antarkota. Pengembaraan mencari jati diri itu berakhir pada 1983 di tanah kelahirannya, Blitar. Bekal sisa tabungan dipakai menyewa sepetak tanah seluas 1.500 m2. Di sana padi dan jagung bergiliran ditanam.

“Ngga seberapa hasilnya,” tutur ayah 2 putra itu. Setelah 2 kali musim tanam, kacang panjang jadi ajang ujicoba berikutnya. Komoditas itu dipilih semata-mata meniru pekebun sekitar. Terbukti penghasilan lulusan SMA itu meningkat. Sayang, setelah 2 kali musim tanam kualitas Vigna unguiculata berangsur turun. Panen tak seragam baik bentuk maupun ukuran. Penyimpangan itu semakin parah pada penanaman selanjutnya.

Sadar prospek kacang panjang cukup bagus, terbersit pikiran menghasilkan benih sendiri. Pemurnian sederhana pun dicoba dengan memilih kacang panjang pilihan. Sayang kegagalan berulang-ulang menerpa. Hasil panen tetap tak beragam. Kegalauan itu menuntun suami Setyokanti bertualang lagi memburu praktisi, peneliti, dan pekebun yang dapat mengajari cara pemurnian benih.

“Sekolah” selama 3 tahun itu tak sia-sia. Ilmu pemurnian benih yang dikantungi dipraktekkan lagi pada kacang panjang. “Setelah 3 kali musim tanam, panennya seragam,” tutur pria bersahaja itu. Lokasi kebun dipinggir jalan rupanya berkah tersendiri. Pekebun lalu lalang sering berhenti sejenak melongok kerindangan kacang panjang milik Sartono. Beberapa dari mereka mulai berani menanam benih itu. Bak iklan gratis, kisah sukses menyebar dari mulut ke mulut. Permintaan benih sontak membanjiri ayah Andriawan Prasetyo dan Ryan Tyas Pertiwi itu.

Sejak 1988 Sartono pun beralih menjadi pemasok benih. Sayapnya kian membentang setelah langsung turun tangan memperlebar pasar. “Saya tawarkan ke toko-toko saprotan. Karena tanpa label malah dibawa pakai karung banyak ditolak,” ucapnya mengenang. Beruntung banyak pekebun suka bertanya benih asal Sartono. Bagai putaran roda, tak lama kemudian toko-toko saprotan justru minta dipasok.

Dari pasar ke pasar

Sartono, tak pernah goyah laksana otorii

Seiring lonjakan permintaan komoditas yang ditangkarkan mulai beraneka. Ada sawi, mentimun, tomat, cabai, dan terung. Toh memperoleh induk-induk unggul bukan perkara mudah. Pria bertubuh gempal itu mesti berburu dari pasar ke pasar di seantero Jawa, Bali, hingga Sumbawa. “Begitu mendapat komoditas yang bentuk dan ukuran bagus, saya lacak dari mana asalnya,” ucap Sartono. Ketika itu ia bertingkah seperti detektif. Segala keterangan tentang komoditas itu dikorek dari pengepul hingga didapat pekebun yang menanamnya.

Seluruh koleksi itu dikumpulkan di dalam greenhouse. Tak tanggung-tanggung 20 rumah kaca masing-masing berukuran 20 m x 12 m dimanfaatkan sebagai gudang plasma nutfah. Dari setiap komoditas tak kurang ada 40 sampai 50 jenis. Mereka semua digunakan sebagai induk untuk disilangkan. Untuk memperoleh benih benih unggul dibutuhkan minimal 10 kali persilangan. Hasil itu perlu diuji lagi selama 10 kali musim tanam agar layak dirilis.

Pergaulan dengan peneliti dan praktisi membuat naluri untuk mencetak benih unggul kian terasah. “Jika dulu penyilangan perlu screenhouse sekarang cukup di hamparan terbuka,” tuturnya. Saat benih hibrida merajalela pada 1996, Sartono tak takut. Justru ia sudah siap mengikuti “arus”.

Meskipun sarana “perang” tak secanggih produsen benih mancanegara malah masih dikerjakan manual, teknik-teknik hibridisasi seperti pemandulan jantan hingga teknologi radiasi diterapkan. Terbukti hasil-hasil tomat dan terung hibrida cukup laku di pasar. Contoh terung violet. Anggota famili Solanaceae itu berdaging hijau dengan buah yang mengkal. Produksi pertanaman mencapai 20 buah dengan rata rata produksi 5 sampai 7 kg per tanaman. Yang istimewa, waktu dimasak daging buah tidak kempis seperti jenis terung lainnya. Namun, untuk merilis jenis hibrida unggul perlu bertahun-tahun. “Asal syarat kecambah 85% dipenuhi, bentuk fisik bagus, dan adaptif, hasil hibrida baru bisa dilepas,” papar perokok berat itu.

Bekerjasama

Calon-calon pemimpin bangsa sering melongok greenhouse Sartono

Di balik keberhasilan yang diraih sempat pula terselip cerita pilu. Pada 1997 sekitar 2 ton benih kacang panjang terpaksa dimusnahkan. Bila harga sachet ukuran 1 ons, Rp 5.000 saja, artinya Rp100-juta melayang. Saat itu ia berpikir lebih baik memusnahkan benih ketimbang tetap memasarkan. Tujuannya jelas, menjaga kualitas dan citra sebagai produsen benih. Menurut Sartono itu dampak kemarau hingga banyak pekebun menghentikan penanaman. Lima tahun berikutnya, 4 ha lahan jagung hibrida hasil uji bertahun-tahun juga gagal mengeluarkan bonggol akibat tersapu hujan deras berkepanjangan. Rilis pun dibatalkan.

Untuk memperkuat bisnis kini Sartono merangkul beberapa peneliti dari berbagai institusi guna bekerjasama mendapatkan benih bermutu dengan sistem bagi hasil. Namun tak sembarangan peneliti dirangkul. “Ada kriterianya, maklum semua biaya penelitian semua saya tanggung,” ucap Sartono.

Di sela-sela kesibukannya mengurus benih, pria yang mengaku tak suka mendengar musik itu masih sempat menemani siswa sekolah dasar di sekitar Blitar melongok greenhouse. Agar puas, ia juga memberi buah tangan benih untuk ditanam di rumah masing-masing. “Mereka perlu diajar dari kecil mencintai hasil kerja sendiri,” tuturnya. Itulah sifat “Otorii”.

Pos terkait