Budidaya Tani
lengkeng bangkok

Lengkeng Dataran Rendah Siap Serbu Pasar

Lengkeng bangkok Rp950/ons. Tulisan yang menggantung di pintu masuk sebuah pasar swalayan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Agustus lalu bagai magnet ampuh untuk memikat hati konsumen. Buktinya, tangan-tangan pengunjung langsung menyerbu keranjang-keranjang lengkeng di sana. Kami pun tak ketinggalan mempreteli buah untuk dimasukkan ke dalam kantung plastik. Dalam sekejap 3 keranjang ludes tak bersisa.

Sejak 5 tahun terakhir lengkeng impor memang marak menyerbu pasar lokal. Sekadar contoh, PT Mitra Sarana Purnama. Perusahaan di Cimanggis, Depok, itu mengimpor 20 ton/ minggu untuk memasok pasar swalayan lokal terbesar di Indonesia itu. Hal sama berlaku di PT Linggaroran Cold Storage di Jakarta Utara. Setiap bulan perusahaan itu mendatangkan minimal 4 kontainer dari Thailand. Satu kontainer berisi 2.000 karton setara 20 ton.

Seorang pengelola toko buah di kawasan Slipi, Jakarta Barat mengakui, lengkeng salah satu buah impor yang penjualannya baik. “Berapa pun volume yang masuk, pasti habis terjual,” papar pria yang enggan disebut namanya itu. Sejak Agustus lalu 2—3 dus karton berbobot 10 kg habis terjual setiap hari di tokonya.

kebun kelengkeng
Berapapun tersedia lengkeng pasti habis di pasaran

Biasanya impor berlangsung pada Juli hingga September. Waktu itu pekebun di negeri Siam memang sedang panen besar. Semula itu hanya untuk mengisi pasar swalayan dan toko buah. Kini lengkeng impor juga ditemui di lapak-lapak pedagang pinggir jalan. Di sana penjualan tak kalah kencang. Maklum harga lebih murah ketimbang di toko.

Kebun kelengkeng mulai marak

Gencarnya serbuan lengkeng impor dilirik sebagai peluang oleh beberapa pekebun. Sebut saja Ibrahim Suherdi, pekebun di Singkawang, Kalimantan Barat. Pada 1999 purnawirawan TNI AU itu menanam 200 bibit asal Malaysia di lahan 1 ha. Dua ratus lengkeng dataran rendah pun diselipkan di tengah kerimbunan jeruk siem seluas 500 ha andalan PT Mitra Jeruk Lestari di Sambas.

“Di pasar swalayan Pontianak, lengkeng sangat laris,” papar Ibrahim. Maklum, di Bumi Khatulistiwa itu lengkeng bagaikan buah langka. Yang lazim dijajakan di pasar, mata kucing lengkeng hutan dari pedalaman Kalimantan. Buah khas Kalimantan itu mirip lengkeng, tapi berdaging tipis dan kurang manis. Makanya begitu lengkeng impor masuk pasar, langsung ludes diserbu pembeli.

Nun di Banyumanik, Semarang, Lie Ay Yen secara bertahap mendatangkan bibit diamond river sejak awal 2002. Untuk itu halaman rumah nan luas yang sebelumnya ditanami durian, mangga, belimbing, dan anggrek dirombak total. Langkah itu diikuti Triman yang menanam 100 bibit lengkeng pingpong di Blitar.

Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta serius untuk menjadikan Kecamatan Pajangan, Kulonprogo, sebagai sentra lengkeng dataran rendah. Lahan tandus di sekitar Gua Selarong dihijaukan dengan 2.000 bibit pada 1995. Pun pekarangan rumah penduduk di Desa Kajorankidul, Kajoranlor, dan Guwasari. Misalnya 6 pohon di kediaman Sualip, mantan camat Pajangan.

Keduanya sebenarnya lengkeng lokal asal Bandungan, Ambarawa, yang sudah beradaptasi dengan lingkungan panas seperti di Pajangan. Ridwan memboyongnya pada 1967 sebagai peneduh di pekarangan. Ternyata, pada umur 7 tahun pohon sudah berbuah. Bahkan kualitas buah lebih baik dibanding di daerah asal. Diameter buah 2—2,5 cm, daging tebal, dan berbiji kecil. Wajar jika Dinas Pertanian DIY tertarik mengembangkan. Saat ini tak kurang dari 3.000 pohon umur produktif tertanam di Pajangan.

Menurut Prakoso Heryono, penangkar di Demak, sejak 3 tahun terakhir banyak orang tertarik menanam lengkeng introduksi. Para pekebun membidik pasar yang selama ini diisi oleh produk impor. Lengkeng pendatang jadi pilihan karena cocok ditanam di dataran rendah dan berumur panen cepat.

Saat Kami berkunjung ke kebun Ibrahim pada Agustus tahun silam 200 pohon sedang disarati buah. Setiap cabang perlu disangga bambu supaya tidak patah. Padahal, umur tanaman di kebun berketinggian 100 m dpi itu baru 3 tahun.

Lima belas pohon pingpong tak ketinggalan memamerkan 5—10 buah meski baru berumur 8 bulan.

Diamond river di kebun Lie Ay Yen pun jenis yang berbuah cepat dan berproduksi tinggi di dataran rendah (baca boks: Sungai Berlian di Lengkeng Cina). “Di Malaysia, diamond river berumur 3 tahun berproduksi hingga 70 kg per pohon,” papar pengusaha terkenal di Semarang itu.

Kewalahan melayani order

Kondisi itu bertolak belakang dengan citra lengkeng lokal yang mesti ditanam di dataran tinggi dan berumur panen lama.

Lokal ambarawa baru berbuah pada umur 10—12 tahun. Makanya sejak diproduksi pada 2001 bibit lengkeng pingpong hasil tangkaran Prakoso selalu ditunggu pekebun.

Sampai saat ini jumlah yang diproduksi Nonot—sapaan akrab Prakoso—baru 400 bibit. Padahal, permintaan dari pekebun di Yogyakarta, Semarang, Kudus, Purwodadi, Blitar, Malang, dan Denpasar lebih tinggi. “Triman misalnya, pesan 500 batang tapi saya hanya memberikan 100 batang,” tuturnya.

Begitu pula pesanan seorang pelanggan di Lombok, Nusa Tenggara Timur. Dari 1.000 bibit yang diminta— setara lahan 2,5 ha, hanya 50 bibit yang dikirim pada 2002 lalu. Putra mantan Kapolres Demak itu mengaku kewalahan memenuhi permintaan karena stok entres terbatas.

Tak heran bila beberapa pekebun “nekat” mengimpor sendiri bibit, seperti Lie Ay Yen. Pada 2002 ayah kandung wakil sekjen DPP PAN dan anggota DPR RI, Alvin Lie, itu mendatangkan 1.100 bibit diamond river dari Johor, Malaysia. Sayangnya, kala itu tak ada satu pun yang hidup. Padahal, ia sudah mengusung konsultan asal negeri jiran itu untuk membantu penanaman. Ratusan juta rupiah melayang sia-sia.

buah lengkeng
Kebun kelengkeng

Meski begitu eksportir produk makanan kaleng itu tak putus asa. Awal 2003 Lie Ay Yen mendatangkan lagi 700 bibit dari sana.Seratus bibit tambahan dari Cina dan Taiwan sebulan silam baru saja didatangkan. Kini total 460 pohon tumbuh subur di pekarangan rumah seluas 2 ha itu. Untuk mempermudah b^iidaya, kebun dilengkapi fasilitas penyiraman menggunakan sprinkler.

Langsung ludes

Wajar Lie Ay Yen pantang surut. Peluang mengisi pasar yang selama ini diisi lengkeng impor sebuah keniscayaan. Niat Ibrahim Suherdi membagi-bagikan gratis hasil panen perdana pada pertengahan 2001 kepada para kerabat terpaksa ditunda. Pasar swalayan di Pontianak dan Singkawang langsung meminta pasokan begitu mendengar lengkeng bangkok di kebun berproduksi. Padahal hasilnya baru 10— 20 kg per pohon. Dengan harga Rp 10.000 per kg, kelahiran Solo 71 tahun silam itu mengantungi Rp30-juta dari 200 pohon. Itu memacu Ibrahim memperluas penanaman. Total jenderal ada 285 pohon tertanam di lahan seluas 1,5 ha.

Penduduk di wilayah Kecamatan Pajangan, Kulonprogo, pun tak perlu susah-susah menjual buah. Setiap musim panen Juli—Agustus banyak bakul datang ke desa dan membeli dengan harga tinggi. Contohnya musim panen lalu, lengkeng selarong begitu ia dinamai laku Rp11.000/kg di kebun. “Di eceran dijual Rp 15.000,” papar Sualip.

Dari pohon berumur 7 tahun dapat dipetik 20—60 kg, di atas 10 tahun, minimal 150 kg. Artinya, dari 6 pohon di halaman rumah saja, Sualip bisa memperoleh minimal Rp9-juta. Tambahan penghasilan yang cukup menggiurkan. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment