Budidaya Tani

Lezatnya Pasar Tomat Ekslusif momotaro

Satu setengah jam sudah, 6 orang itu memanjakan lidah di sebuah restoran. Mereka mengelilingi meja bundar dibalut taplak kuning yang dapat berputar. Bebek peking, hotplate, udang panggang garam, dan sup telah dinikmati kelezatannya. Setelah itu seorang pramusaji datang membawa beragam buah yang dirangkai mirip burung yang tengah mengerami telurnya. Dalam waktu singkat, telur-telur berupa tomat cherry tandas disantap menutup makan siang bersama.

Garpu-garpu kecil untuk mengambil cherry tersedia di tepi sarang burung. Begitulah tomat kerap menjadi menu penutup saat jamuan makan. Tentu saja bukan sembarang tomat yang layak disajikan oleh restoran atau hotel untuk menjamu tamu kehormatan. Hanya tomat eksklusif yang biasanya disajikan seperti cherry, beef, momotaro, dan recento.

Disebut tomat eksklusif antara lain lantaran dikembangkan dalam tempat khusus berupa greenhouse, sedikit yang mengebunkan, serta harganya relatif tinggi dan stabil. Contoh momotaro. Di tingkat pekebun sekilo momotaro terdiri atas 3 sampai 4 buah harganya mencapai Rp17.000.

Sebuah harga yang pantas dinikmati pekebun tomat eksklusif. Harga tinggi itu belum pernah turun dalam 5 tahun terakhir.

Cherry Momotaro
Cherry Momotaro, sekilo Rp1 8.500

Malahan setiap tahun harga terus membumbung. Bandingkan dengan tomat noneksklusif yang harganya cuma Rp4.000. Lagi pula harga itu seolah tak pernah lelah, terus naik turun.

Produksi Makin Meningkat

Momotaro yang rasanya masam, memang tak disukai masyarakat Indonesia. Namun, bagi ekspatriat Jepang, momotaro terasa lezat. Salah satu produsen momotaro adalah PD Grace di Lembang, Kabupaten Bandung. Perusahaan yang berdiri pada 2000 itu memilih momotaro karena harganya paling mahal di antara tomat eksklusif lainnya. Harga satu kilogram yang terdiri atas 3 buah mencapai Rp12.000 sampai Rp13.000.

Grace mengelompokkan 3 kelas berdasar bobot buah. Kelas L (large) berbobot 350 g/buah; M (medium), 200 sampai 350 g/buah, dan S (small) <200 g/buah. Dengan biaya produksi Rp6.500 sampai Rp7.000 per tanaman, PD Grace meraup omzet Rp60 sampai Rp65-juta per bulan. Dari produksi 4 kg per tanaman, yang termasuk kelas L mencapai 5 sampai 7 buah; M 4 sampai 5 buah; dan S 2 sampai 3 buah. “Pasar tomat eksklusif sudah jelas, walaupun masih pada kalangan terbatas,” ungkap Wilarto, manajer.

Setiap bulan Grace memasok 5 ton ke pasar swalayan jepang di Jakarta. Itu pun belum memenuhi permintaan 5,5 sampai 6 ton. Hal sama dialami Saung Mirwan. Produsen sayuran eksklusif itu memasok 100 kg sehari. Padahal ketika pertama membudidayakan momotaro pada 2003, volume yang dipasarkan hanya 10 kg sepekan. Beberapa pekebun yang dihubungi budidayatani secara terpisah mengungkapkan, permintaan momotaro terus tumbuh 20% per tahun. Itu juga berlaku bagi tomat eksklusif lain seperti beef.

Total penanaman momotaro PD Grace di 25 greenhouse itu 1.000 tanaman. Produksi 1 ton/bulan dari 400 tanaman per greenhouse. Bandingkan dengan penanaman tomat noneksklusif di luar greenhouse. Populasi rata-rata 14.000 sampai 16.000 per ha dengan produksi 2 sampai 3 kg per tanaman. Kontinuitas panen dijaga dengan mengatur pola tanam. Pada musim kemarau produksi 6 ton/bulan, tetapi di musim hujan hanya 4 ton karena serangan phytopthora.

Laba tomat eksklusif dinikmati pula oleh PT Joro. manajer produksi Nanang Suryana mengebunkan beef sejak 2003 di Bandung. Dari 1.000 tanaman yang dibudidayakan, ia rutin mengirim 200 kg per dua hari ke Bogor. Itu hanya permintaan 1 konsumen, sehingga permintaan dari tempat lain sulit dipenuhi.

Pasar swalayan Papaya di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, turut memajang momotaro. Menurut A Liong, penyedia sayur dan buah, volume penjualan Papaya 100 kg momotaro tiap pekan. Itu pun selalu meningkat, karena pada awalnya hanya memasarkan 20 kg per minggu. Tomat yang diinginkan ukuran 3 buah per kg. Di pasar swalayan itu harga momotaro Rp18.500/kg.

Kewalahan Melayani pesanan

Dua tahun lalu PT Saung Mirwan hanya memasarkan 500 kg beef per hari. Lihat saja sekarang, ia kewalahan melayani permintaan tomat berdaging buah tebal itu. Beberapa swalayan membutuhkan 3 ton per hari, tetapi perusahaan di Gadog, Bogor, itu cuma sanggup memenuhi separuhnya. Perusahaan yang dirintis oleh Ir Theo Hadinata itu membudidayakan beef dalam 2 greenhouse.

Ukuran setiap greenhouse 8 m x 60 m dengan populasi 1.200 tanaman. Dari populasi itu Saung Mirwan menuai rata-rata 6 ton per greenhouse. Saung Mirwan tak menemukan kesulitan memasarkan karena memenuhi standar mutu yang diminta konsumen. Menurut manajer Produksi PT Saung Mirwan, Bambang Siswantoro, biaya produksi per tanaman Rp4.000. Padahal produksi mencapai 5 kg per tanaman.

Wisata agro

Selain momotaro dan beef, tomat eksklusif lain yang banyak diminta pasar adalah cherry. Sosoknya mini, seukuran kelereng, menyesaki tangkai buah. Saung Mirwan baru sanggup melayani permintaan 1 ton dari permintaan 2 ton per pekan. Meski berukuran mini, tetapi cherry memberi laba maksi.

Di tingkat pekebun harga sekilo cherry Rp5.000, sementara biaya produksi per tanaman hanya Rp4.000. Produksi sebatang tanaman sekitar 2,5 sampai 3 kg sehingga biaya produksi hanya Rp 1.300 sampai Rp 1.600 per kg. Artinya pekebun meraup laba bersih Rp3.400 sampai Rp3.700 per kg.

Yang juga membidik tomat mungil adalah PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Agrowisata atau populer dengan Kusuma Agrowisata. Sejak 2000 perusahaan di Batu, Jawa Timur, itu mengembangkan juliet. Menurut manager operasional Kusuma Agrowisata, Teguh Suprijanto, tomat juliet dipilih lantaran produktivitas tinggi, rasa manis, daging tebal, dan daya tahan lama. Harga jual mencapai Rp10.OOO sampai Rp15.000 per kg dengan volume 250 kg per minggu. Pasar-pasar swalayan di Malang dan Surabaya menyerap pasokan itu.

Selain dijual segar, Kusuma Agro menyiapkan wisata petik tomat untuk para pelancong. Pengunjung meningkat kala liburan maupun akhir pekan. Harga per paket Rp 15.000 dengan 8 sampai 10 buah juliet. “Problem yang dihadapi tidak terlalu banyak dan pasar tomat makin membaik,” ujar Teguh.

tomat greenhouse
Ditanam intensif di greenhouse

PT DIF Nusantara di Denpasar, Bali, memilih recento dan cerysita. Kedua tomat eksklusif itu diminta hotel dan restoran di Bali. Dalam sepekan DIF memasarkan 400 sampai 500 g. Kendala yang dihadapi konsumen Bali belum bjsa membedakan tomat produksi greenhouse dan tomat lokal. “Untuk itu ke depan kami akan meyakinkan konsumen tentang kelebihan tomat eksklusif ini,” kata Suranta, bagian produksi sayuran.

Kendala di lapangan

Bertanam tomat eksklusif tak melulu menggembirakan jika tak mengerti penanganannya. Setidaknya itulah yang dialami Eman Suparman, pekebun tomat di Lembang, Bandung. Gempuran white fly alias kutu putih dan layu fusarium jadi momok. Dampaknya buah menjadi kecil dan produksi melorot. Tomat recento yang dipilihnya hanya mampu menghasilkan 4,5 kg dari keadaan normal 5 kg/tanaman.

Modal Rp 15-juta yang dicemplungkan untuk penanaman seluas 1.500 m2 hanya mampu kembali Rp13-juta dari hasil penjualan 15 ton. Diduga tanaman tidak cocok dengan kondisi lokasi penanaman. Namun, pasar recento tetap terbuka lebar. “Berbisnis tomat eksklusif akan tetap prospektif,” ujar Eman.

Kendala cuaca juga berpengaruh terhadap produksi tomat. Bila musim hujan, tanaman menjadi rentan. Namun, karena nilai jual relatif tinggi, kendala yang dihadapi tidak terlalu berarti. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment