Losarang: Sarang Lele Indramayu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Ratusan kolam jadi panorama desa Losarang

Matahari tepat di atas ubun-ubun. Lele se-balong (1 kolam sampai red) hasil giringan sudah diseleksi. “Tinggal tunggu bakul yang akan datang nimbang,” tutur Rusmin, peternak di Desa Losarang, Kecamatan Losarang, Indramayu. Di desa pinggir pantai utara Jawa itu, panen lele jadi kegiatan rutin setiap hari.

Losarang memang satu dari tiga desa di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu yang dikenal pusatnya budidaya ikan lele. “Sekitar 60% dari 200 hektar tambak lele ada di sana,” tutur Tolib, kepala desa Losarang. Selebihnya di Desa Krimun dan Puntang. Sehingga, desa yang mayoritas penduduknya petani penggarap itu jadi sentra terbesar.

Bacaan Lainnya

Tak aneh jika kolam lele dengan air kehijauan mendominasi panorama pedesaan. Kolam lele 200 m2 sampai 500 m2 dengan kedalaman 1 sampai 1,5 m2 tersebar di mana-mana. “Lele dipilih karena ikan itu tahan dengan keterbatasan air,” tutur A. Hakim, Kepala Sub Dinas Perikanan Indramayu. Budidaya lele dirintis sejak 1990-an. Saat ini tercetak 385 hektar lahan lele di seluruh Indramayu.

setelah budidaya udang dilanda masalah, banyak petambak yang nyebur (berpindah red) ke lele. Sekarang 100-an hektar lebih dari 830 hektar lahan desa menjadi kolam. Selain pembesaran, sebagian penduduk membenihkan lele.

Tren Clarias fuscus alias lele dumbo di Losarang masih berlanjut. Buktinya, sampai sekarang masih ada yang buat kolam. Losarang sangat cocok untuk budidaya lele. Walaupun tanpa irigasi

Ternak lele Untuk pemula Antirugi

panen lele
Setelah digiring, seleksi, siap ditimbang

Dengan 2 kolam 12 m2 x 24 m2, peternak di desa yang berjarak 25 km dari ibukota Kabupaten Indramayu itu sudah bisa menghidupi keluarga. Walaupun panennya 2 bulan sekali, penghasilan peternak lele melebihi buruh yang rata-rata Rp1O-ribu/hari. Sehingga mereka pilih nyebur ke lele daripada kerja kemana-mana.

Bagi masyarakat Losarang, beternak lele lebih menguntungkan ketimbang menanam padi. “Hasil 1 hektar sawah sama dengan hasil lele 3 balong (500 m2/ balong sampai red),” tutur Rusmin. Dari 10.000 bibit, dipanen 1 ton lele. Pendapatan minimal Rp5,6-juta.

Jika harga Rp6.500 sampai Rp6.600/kg, keuntungan lebih tinggi lagi. Peternak Losarang hanya menggunakan pelet buatan pabrik sebagai pakan. Sehingga, tinggi rendahnya harga pakan sangat mempengaruhi keuntungan usaha.

Contoh, pada 1996-an harga pakan Rp30.000/kg. Sedangkan ikan famili Clariidae itu hanya Rp2.500/kg. “Saat itu untungnya cukup besar,” tutur Rusmin tanpa menyebut nilainya.

Ketika pakan Rp80.000/30 kg sedangkan lele Rp4.500/ kg, walaupun berkurang peternak masih mengenyam untung. Terakhir harga terendah Rp5.600/kg, sedangkan pakan tertinggi Rp103.000/kg.

Dengan biaya bibit lele mencapai Rp 1-juta, pakan Rp3,4-juta, dan tenaga kerja Rp300.000, pendapatan minimal Rp5,6-juta/2 bulan. Benih lele yang ditebar di kolam biasanya umur 40 hari. Harganya Rp 100/ekor. Bibit umur 15 hari lebih murah, Rp4/ekor, tetapi riskan perubahan cuaca, risiko mati tinggi.

Produksi Saingi Parung

Harga lele di Losarang tak lepas dari pasang surut. Pada musim kemarau, Juni sampai Agustus, harga merosot. Desember sampai Maret, harga merangkak naik. “Setelah itu nyangger, sedikit demi sedikit turun karena musim ikan laut,” papar Rusmin.

Harga tertinggi Rp6.500/kg dan terendah Rp5.600/kg. “Tinggi rendahnya harga tergantung nota bandar di Jakarta,” tutur Wahyudin yang sudah 3 tahun dagang lele. Ia bekerjasama dengan seorang bandar di Semper, Jakarta Utara.

Selain musim ikan laut, panen lele di Parung, Bogor faktor lain penurun harga. Saat panen lele Losarang melimpah, permintaan berkurang karena pasokan ikan dari Parung. Bandar Jakarta memilih wilayah Bogor itu karena ongkos transpor lebih murah.

Sebaliknya saat musim hujan, budidaya lele di Parung bermasalah. Sehingga, bandar lari ke Losarang. Saat musim hujan budidaya lele di Losarang justru bagus. Karena permintaan meningkat harga naik. Sehingga, “Di Desember sampai Februari omzet bagus,” tambah Wahyu.

Permintaan lele asli Taiwan itu tak pernah mandeg. “Sekali angkut kami bisa membawa 1,3 sampai 1,8 ton lele,” tutur Wahyudin, yang mengkoordinir 25 peternak Losarang. Menurutnya masih ada 4 orang bakul lain yang beroperasi. Lebih dari 4 ton lele bedol kolam dari Losarang setiap sore.

Jumlah itu bisa meningkat, “Tergantung permintaan bandar di Jakarta,” tutur Wahyudin yang juga berprofesi guru. Selain dari Losarang lele dijemput dari desa sekitar, Krimun dan Puntang.

Untuk mengikat peternak, pengepul memberi pinjaman pakan 2 minggu sebelum panen. Pengepul mendapat keuntungan dengan mengambil fee, Rp 10-ribu/kuintal serta selisih penjualan ke bandar. Ongkos transpor ke Jakarta Rp350.000/truk/rit.

Untuk menutup biaya itu harga yang diberikan ke peternak minimal selisih Rp800/kg. Jadi kalau nota bandar Rp6.300, harga di tingkat peternak Rp5.500 sampai Rp5.600/kg.

Lele yang diminta ukuran 7 sampai 10 ekor/ kg. Di luar itu lele dikembalikan dan dijual ke pemilik warung makan sekitar Indramayu dengan harga Rp3.000/kg. Pasar utama lele Losarang utamanya Jakarta dan sedikit ke Bandung. Sekali waktu permintaan juga datang dari Semarang.

Dari yang di pasarkan saat ini, potensi lele dari Losarang masih lebih besar. “Kalau pembayarannya lancar, berapapun permintaan saya layani,” tantang Wahyudin.

Pos terkait