Madu, Tentu Bukan Pondoh

Salak madu
Salak madu matang di pohon

Cobalah sebut nama pondoh. Orang pasti langsung teringat pada salak asal Yogyakarta. Buah kebanggaan Kota Gudeg itu pantas digemari karena bercitarasa manis meski masih muda. Lalu, sebutlah nama madu. Pasti banyak orang bertanya-tanya, salak apa lagi ini? Padahal, dibanding pondoh, madu yang juga asal Yogyakarta tak kalah istimewa. Selain manis, juga juicy karena daging mengeluarkan cairan cokelat kental seperti madu. Pantas disebut salak madu.

Harap mafhum bila salak madu belum banyak dikenal. Gregori Garnadi Hambali, kolektor salak di Bogor, pun baru mendengar nama itu. Musababnya, keberadaan anggota keluarga Palmae itu memang baru diketahui pada pertengahan 2004.

Nun, di Dusun Balerante, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, staf Dinas Pertanian Kabupaten Sleman menemukan buah kulit bersisik itu di antara pohon pondoh. Makanya wajar bila semula si madu dianggap varian pondoh.

Sekilas Mirip salak Pondoh

salak yang sudah hampir matang

Sekilas penampilan madu mirip pondoh. Namun, bila sosok buah dicermati lebih teliti terlihat perbedaannya. Sisik pada kulit tersusun teratur membentuk garis lurus dari pangkal ke ujung buah. Sedangkan sisik salak pondoh pun gading, jenis unggul dari Yogyakarta teratur dengan susunan seperti genteng.

Namun, pembeda paling jelas, ketika daging buah ditekan keluar cairan kental seperti madu. Cairan itu tak dijumpai pada salak pondoh dan gading. Lantaran mengandung cairan seperti madu, salak madu lebih juicy dan manis. Tingkat kemanisannya mencapai 22,97° briks.

Hasil penelitian Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, pun menunjukkan sifat fisik dan kimia madu memang berbeda dengan pondoh. Sebagai pembanding, salak gading juga disertakan. Salak madu berbobot 88,55 g/buah; pondoh, 84,64 g/ buah; dan gading, 71,07 g/buah. Uniknya, bobot salak madu yang ditanam di Dusun Sukomartani, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel berketinggian 500 m dpi rata-rata hanya 51,08 g per buah. Diduga semakin rendah daerah penanaman, bobot menyusut. Madu lebih cocok ditanam pada ketinggian 700 sampai 750 m dpi.

Namun, kandungan vitamin C salak madu kalah jauh dibanding pondoh dan gading. Kandungan vitamin C madu di Dusun Sukomartani 9,05 mg/100 g dan di Dusun Balerante 8,09 mg/100 g. Sementara pondoh 19,63 mg/100 g dan gading 17,11 mg/100 g.

Budidaya Salak madu makin Berkembang

Salak Madu, keluar cairan cokelat ketika ditekan

Kini penanaman salak madu terus menyebar di Kecamatan Turi dan Tempel yang terkenal sebagai sentra buah bersisik itu. Penanaman terutama di Dusun Balerante dan Dusun Sukomartani. Pekebun melirik madu karena harga jual buah eksotis itu relatif tinggi ketimbang pondoh. Saat panen raya, harga madu di pasaran Rp20.000/kg; pondoh hanya Rp2.500 sampai Rp3.000/kg.

Peminat dari daerah lain bukan tidak ada. Namun, saat ini ketersediaan bibit hanya untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Sleman. Harga bibit madu, Rp3.000 per batang, lebih mahal ketimbang pondoh dan gading yang masing-masing Rp2.500 per bibit.

Salak madu panen raya pada Desember sampai Februari, panen kedua sering disebut panen kecil pada Juni. Hasil panen tak hanya dinikmati warga Kota Gudeg. Kenikmatan salak madu pun dirasakan peminat asal kota-kota di seputaran Jawa Tengah hingga Jakarta dan Surabaya. Bila kebun-kebun salak madu terus meluas, tak hanya pondoh yang jadi kebanggaan warga Yogyakarta.

Sifat Fisik Salak Madu (Balerante) Salak Pondoh (Balerante) Salak Madu(Sukomartani) Salak Gading
Bobot buah utuh (g) 88,55 84,64 51,08 71,07
Tebal kulit (mm) 4,73 4,12 3,66 2,43
Rasio panjang lebar buah utuh 1,51 1,45 1,23 1,6449,00
Bobot daging buah (g) 56,25 54,24 30,74 6.39
Tebal daging buah (mm) 4,97 5,88 3,93 9.40
Bobot daging buah 12,35 13,51 8,26 12,63
Bobot biji (g) 19,95 16,89 12,07 5,88