Mangga Chokanan: Lahir di Thailand, Besar di Malaysia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Mangga Chokanan

Tobias Wangga dan 2 rekannya bergegas menghampiri truk yang parkir di depan gudang. Kesibukan pun dimulai. Puluhan keranjang masing-masing berisi 60 kg mangga chokanan diturunkan. Di sudut gudang tampak Ahmed memeriksa buah satu per satu dan menyeleksi berdasarkan kelasnya. Hasil sortir ditumpuk di dalam keranjang plastik kemudian ditutup kertas koran siap dipasarkan. Itulah kesibukan pedagang buah di Perak, Malaysia.

Mangga Chokanan memang berjaya di negeri jiran. Bahkan pamornya melanglang buana hingga Singapura dan Eropa, mengalahkan arumanis dan golek yang lebih dulu jadi unggulan. Maklum, rasanya manis, tekstur halus, daging tebal, sedikit berserat, dan harum. Sosoknya pun cantik dengan kulit kuning menyala.

Bacaan Lainnya

Kini mangga introduksi dari Siam itu jadi primadona di pasar lokal Malaysia. Chokanan tak pernah absen di kios buah. Di pasar malam Chowkit, Kualalumpur, ia selalu dipajang di deretan terdepan untuk menggoda konsumen. Pemandangan serupa juga Kami lihat di tempat peristirahatan tol menuju Penang dari Bidor, Perak.

Pantas jika chokanan berlimpah di Malaysia. Ia memang dibudidayakan secara intensif. Lihat saja kebun chokanan di pinggir jalan raya di antara kebun kelapa sawit di Pahang. Dari luar kebun berpagar kawat duri itu tampak deretan pohon setinggi 1 m memamerkan dompolan buah Mangga Chokanan berwarna hijau semburat kuning. Tidak dijumpai rumput di sana, tanda kebun rajin disiangi.

Untung besar Dari menjual Mangga

Mangga Chokanan
Chokanan menempati barisan terdepan di kios buah

Mangga Chokanan paling mudah ditemui di Kualabikam, Bidor, Perak. Negeri (setara provinsi di Indonesia-red) di utara Kualalumpur itu sumber mangga yang dijajakan di Chowkit dan Singapura. Kami menyaksikan kesibukan di gudang milik Lim Poh Kuang. Setiap hari ia memasok 5,4 ton chokanan ke Kualalumpur dan negeri berlambang singa.

Untuk memenuhi permintaan itu, buah dipasok dari pekebun di sekitar Bidor, selain dari kebun sendiri. Oleh sebab itu gudangnya tak pernah sepi disinggahi truk yang mengangkut mangga. Siang itu terlihat 3 pegawai sibuk menurunkan puluhan keranjang plastik berisi 60 kg chokanan dari truk. Lalu ditumpuk di sudut gudang. “Mangga yang tiba hari ini tidak bisa langsung disortir. Lantaran getahnya bisa merusak penampilan buah,” ujar Tobias, staf Lim.

Toh, itu tidak mengurangi rutinitas kesibukan di gudang. Ahmed, karyawan lain, memeriksa buah satu per satu dari keranjang plastik.

Di kebun Mangga Chokanan dibandrol Rp9.200/kg untuk grade AA atau isi 3 sampai 4 buah. Grade A isi 4 sampai 5 buah Rp6.900/kg; B isi 7-9 Rp3.900/kg; dan apkir Rp2.300/ kg. Eksportir menginginkan mangga berukuran jumbo atau AAA (2 sampai 3 buah per kg). Hampir 99% mangga yang ditampung masuk grade AA dan A. Tak susah memasarkan Mangifera indica itu. Pedagang datang langsung ke gudang.

Pekebun yang belum punya pasar tak perlu khawatir. Federal Agricultural Marketing Authority (FAMA) membantu memasarkan. Itu yang dialami Mustofa, pekebun di Sungai Besar, Selangor, Sabah Bemam. Meski cuma dibandrol Rp2.300/ kg ia sudah untung. Maklum biaya produksi bisa ditekan dan pestisida didapat cuma-cuma dari FAMA. Dengan produksi 25 ton/ha, Mustofa bisa meraup laba Rp41.400.000 per tahun.

Pos terkait