Site icon Budidaya Tani

Masihkah Bisnis Burung Kicauan Menjanjikan

Lomba Burung Jaguar Cup yang digelar di Bumi Serpong Damai, Tangerang tergolong sukses meraih peserta. Lebih dari 2.000 tiket peserta terjual dalam even besar berskala nasional itu. Namun, dalam even-even kecil di daerah, ajang laga kicau mania ternyata mulai kehilangan greget. Padatnya acara lomba disinyalir menjadi pemicu sepinya peserta.

Anis merah, hwa mei, dan murai batu memang masih menjadi trend di kalangan kicau mania. Terbukti dalam berbagai lomba, kelas burung-burung itu masih menyerap banyak peserta. Dalam even besar sekelas Jaguar Cup misalnya, kelas anis merah terpaksa harus digelar dalam 5 babak penyisihan lantaran membludaknya peserta.

Hal yang sama juga berlaku untuk kelas hwa mei dan murai batu. Dalam even besar masih menyerap lebih dari 100 peserta. Di even-even lokal pun, ketiganya di atas 60 ekor. Cucakrawa, cucak ijo, poksay, dan campuran lokal, pesertanya tak lebih dari 40 orang. Padahal, 2 sampai 3 tahun lalu, kelas ini diikuti banyak peserta.

Sepi peminat

Lacakan Kami ke berbagai kota di Jawa memang memperlihatkan sepinya perdagangan burung. Lihat saja di Pasar Burung Kartini, Semarang. Kalau dulu sebuah kios bisa meraup omzet Rp3-juta per hari, kini hampir tak ada pembeli yang datang. Contoh Sukardi, pedagang burung yang pernah mengelola lebih dari 10 kios di sana. “Saking sibuknya melayani pembeli, dulu saya harus menggaji 11 karyawan,” paparnya. Setahun terakhir hanya 2 kios saja yang dikelola seiring sepinya pembeli. Malah seekor burung belum tentu terjual dalam sebulan.

Di Jawa Timur, kiblatnya para kicau mania fanatik, kegiatan lomba pun tak semarak dulu. “Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah peserta lomba burung makin menyusut,” papar Sutedjo, hobiis di Surabaya.

Lomba yang digelar PBI Surabaya Desember lalu contohnya, hanya diikuti sekitar 400 peserta. Lomba yang digelar P3BS, organizer lain di hari yang sama, pesertanya juga tak lebih dari 1.000 ekor. Padahal, tahun-tahun sebelumnya mencapai lebih dari 1.000 gantangan.

Menurunnya jumlah peserta lomba menurut Joko Triono, ketua Surabaya All Stars, menandakan adanya kejenuhan di kalangan pemain. “Kemasan lomba yang monoton tanpa standar penilaian baku membuat banyak pemain kecewa,” paparnya. Karena itu, meski di luar arena bisnis burung masih cukup marak, di dalam arena justru lesu.

Karena alasan itu pula Joko kini mulai melonggarkan keikutsertaannya di arena lomba. Biasanya di satu kontes ia membawa sampai 24 ekor untuk turun dalam 3 atau 4 babak penyisihan. Kini, Tim Solahart yang dipimpinnya paling banter hanya membawa 12 burung saja.

Selain kemasan lomba yang monoton, padatnya jadwal lomba juga menjadi penyebab. Joko memperkirakan, kekuatan burung kontes, di Jawa Timur hanya sekitar 1.400 sampai 1.600 ekor. Kalau ada 2 organisasi yang menggelar lomba berbarengan, atau berdekatan waktunya di satu wilayah, peserta tentunya akan terbagi.

Anis diminati

Adanya penurunan peserta lomba burung di Jawa Timur diakui Mr. King, salah satu pelaksana lomba. “Kalau dulu kicau mania Surabaya terkenal fanatik di arena kontes, beberapa bulan terakhir agak sepi,” papar pengurus Persatuan Burung Seluruh Indonesia (PBSI) itu. Ini tampak dari jumlah peserta dalam beberapa even terakhir yang digelar. Paling tinggi hanya 700 tiket peserta yang terjual.

Meskipun hanya menggaet 700 peserta, ia tak surut langkah. Menurutnya, untuk even regional seperti yang digelarnya, peserta sebanyak itu masih cukup baik. Apalagi beberapa -jenis burung kondisinya masih cukup baik. Contoh anis merah dan murai batu, masih memiliki banyak peminat. Burung lain seperti cendet, kini juga mulai menonjol.

Menurut pelaksana lomba terbaik 2002 versi salah satu media lokal itu, kejenuhan hobiis hanya terjadi pada burung yang tidak memiliki banyak variasi suara. Ambil contoh cucak hijau, jarang sekali yang memiliki variasi. Tak heran jika kelas itu menurun penggemarnya. Hal yang sama juga terjadi pada cucakrawa dan poksay.

M. Bashori, hobiis di Yogyakarta juga berpendapat sama. “Dulu anis merah juga tidak disenangi karena burung teler itu tidak ada variasinya. Bunyinya hanya tet-tet-tet saja,” tegas Bashori. Setelah diketahui bisa diisi suara lain, 4 tahun terakhir ia makin diminati.

Sekarang anis bisa manggung dengan beragam suara yang panjang dan berulang-ulang. Karena perkembangan burung makin bagus, kompetisi pun makin ketat. Apalagi ia tergolong burung yang sulit dipelihara, sehingga ada kebanggaan bagi mereka yang bisa menghasilkan anis juara.

Pendapat senada dilontarkan pula oleh Bambang Wisnu Handoyo, hobiis di Yogyakarta. Menurutnya, burung-burung yang memiliki banyak variasi masih digemari. Lihat saja anis merah. Irama lagunya yang bervariasi enak didengar.

Selain alunan suara memukau, gaya panggung anis juga enak dilihat. “Gaya teler yang diperlihatkan saat manggung membuat orang tergila-gila,” papar ketua ABC Bird Club, Yogyakarta itu. Begitu pula murai batu, selalu berjoget sambil bernyanyi.

Karena alasan itulah Bambang tidak meragukan prospek kicauan. Menurutnya, burung kicauan digemari berbagai kalangan, dari umur muda hingga orang tua. Apalagi tak sulit mendapatkan kicauan kualitas kontes. “Kalau dirawat baik, burung berharga Rp 100.000 pun sudah bisa manggung,” tegasnya.

Dari pengamatan Bambang, burung-burung silangan juga menunjukkan perkembangan cukup baik. “Dulu burung silangan yang dikenal hanya blaken, silangan blacktrout dan kenari,” urai Bambang. Saat ini sudah muncul jenis moken – burung silangan mosambique dan kenari, dan sengken yang merupakan silangan jenis senger dan kenari.

Meskipun sekarang baru blaken yang populer di arena lomba, tapi adanya silangan-silangan baru membuat hobiis memiliki banyak pilihan. Lihat saja blaken, pada 1998 tak banyak penggemarnya. Saat ini penggemar blaken meningkat tajam.

Burung Murah makin marak

Meskipun kecewa dengan pelaksanaan lomba yang monoton, Joko Triono setuju jika lomba kicauan tetap digalakkan. Pasalnya, kegiatan lomba akan menggairahkan peternak dan hobiis. Lihat saja keTiari. Sebelum dikonteskan harganya hanya Rp20.000 sampai Rp50.000 per ekor. Setelah banyak dilombakan harganya meningkat. Bakalan saja kini berharga Rp 100.000 sampai Rp 150.000.

Tergiur keuntungan malah banyak hobiis berbisnis burung. Contohnya Bambang. Pada 1996 ia membeli bakalan murai batu seharga Rp90.000. Berselang 2 minggu ia melepas seharga Rp2,5-juta setelah menjuarai salah satu lomba di Semarang.

Lomba juga ikut mengangkat bisnis-bisnis penunjang lain. “Tak kurang dari 100.000 orang ikut makan dari bisnis burung kicauan,” taksir Joko. Joko menduga, uang yang bergulir di dunia kicauan mencapai Rp50-milyar.

Perhitungannya, untuk mengikuti 1 lomba saja, ia harus mengeluarkan minimal Rpl,5-juta sampai Rp2-juta. Antara lain untuk biaya pendaftaran, transportasi, dan akomodasi. Belum lagi untuk pembelian pakan, sangkar, asesori, dan gaji perawat yang menghabiskan hingga Rp8-juta per bulan untuk 24 burung kesayangan.

Pendapat Joko tak salah. Sebab, dari bisnis pakan burung saja, Hartono Pumomosidi, produsen pakan bermerek Kroto Kristal mampu meraup pendapatan hingga Rp900-juta per bulan. Begitu pula M. Bashori, yang setiap bulan melempar 50 sangkar eksklusif berharga jutaan rupiah ke pasaran.

Karena itu munculnya beberapa organizer lomba seperti KAMOS dan P3BS di Surabaya. Mereka mengemas lomba dengan biaya pendaftaran murah mendapat acungan jempol. Sebab, “Dengan tiket hanya Rp25.000/burung, banyak peserta dapat diserap,” paparnya.

Pada tahap awal lomba dengan tiket murah memang hanya dilirik kalangan bawah. Namun, bila lomba dikemas dengan aturan yang lebih fairplay, hobiis kelas atas pun pasti tertarik. Contohnya, dalam lomba yang digelar KAMOS pertengahan Januari lalu, beberapa pemain lama mulai muncul di arena.

Lomba dengan tiket murah seperti itulah yang kini marak di Surabaya dan beberapa kota lain di Jawa Timur. Lomba sekelas latihan bersama itu malah kini diikuti lebih dari 1.000 peserta. Mampukah pelaksana lomba murah mengangkat pamor kicauan? Kita lihat saja nanti

Exit mobile version