Menanti Sang Entuyut Munculkan Kantong

Nurseri milik Rob di Sri Lanka memakai net 75—80% sehingga nepenthes banjir kantong

“Dua bulan lalu saya membeli N. ampullaria. Tapi hingga saat ini kantongnya tidak muncul juga. Yang ada keluar daun baru. Padahal N. hookerianayang dibeli sebulan lalu sekarang sudah keluar kantong. Begitu pula N. ventrata saya. Mohon bantuan.” Pertanyaan itu dilontarkan Adhityo Wicaksono dimilis nepenthes Indonesia. Memunculkan kantong memang menjadi obsesi hobiis

Bagi hobiis merawat entuyut sebutan di Kalimantan sangat mengasyikkan. Apalagi bila kantongnya keluar. “Kayak ngerawat bayi aja. Selalu kangen ingin nengok terus,” ujar salah satu anggota milis. Namun, kebahagiaan itu tidak mudah dicecap lantaran nepenthes kerap mogok berkantong.

Saat calon kantong keluar pun para hobiis masih ketar-ketir. Tak jarang calon kantong mengering seperti terbakar. Atau tangkainya menghitam merembet ke arah kantong. Kalau sudah begitu, mau tak mau calon kantong dibuang karena tak bakal berkembang.

Faktor cahaya

N. ampullaria butuh naungan agar muncul kantong

Menurut M. Apriza Suska, pemilik Suska Nurseri di Bogor, cahaya dan kelembapan yang tidak tepat musabab kantong mogok muncul. “Kuncinya cahaya dan kelembapan mesti seperti di habitat aslinya,” ujarnya. Contoh Nepenthes mirabilis dan N. gracilis. Di alam keduanya dijumpai terkena sinar matahari penuh sepanjang hari. Artinya bila ingin memunculkan kantong, kedua entuyut itu mesti diletakkan di tempat terkena sinar surya penuh.

Lain bila yang dikoleksi N. ampullaria. Si kantong bulat telur itu lebih banyak ditemukan di daerah yang tidak terkena matahari langsung. Makanya agar rajin berkantong, ia dipelihara di tempat ternaungi. Choon Thin Yat dari EQ Resources perusahaan kultur jaringan dan pembesar nepenthes di Perak Malaysia, menggunakan net berkerapatan 50% untuk memunculkan kantong ampullaria.

Yang juga butuh naungan adalah N. bicalcarata. Di tempat asalnya, bicalcarata memang hidup di bawah tajuk pohon. Trubus menyaksikan Abdul Kadir, kolektor di Pontianak Kalimantan Barat, merawat periuk hantu bertaring itu di bawah net berkerapatan 70%.

Kantong semar yang kekurangan sinar matahari tumbuh meninggi, etiolasi. Daun lebar, memanjang, dan berwarna hijau gelap. Kelebihan sinar matahari membuat daun kecokelatan. Yang pasti keduanya menyebabkan kobe-kobe sebutan di Papua mogok keluar kantong.

Lalu bagaimana bila yang dirawat beragam nepenthes dengan kebutuhan cahaya berbeda? Rob Cantley dari Borneo Exotic di Sri Lanka mengambil jalan tengah dengan menggunakan net 75 sampai 80% untuk semua jenis. Pilihan itu karena dari pengalaman pensiunan kepala polisi antiteroris di Hongkong itu semua nepenthesnya bisa rajin berkantong.

Beberapa spesies dataran rendah seperti N. ampullaria, N. mirabilis, dan N. gracilis toleran terhadap perubahan cahaya. N. ampullaria, masih bisa mengeluarkan kantong di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Namun, itu perlu diimbangi dengan pengaturan kelembapan.

Periksa kelembapan

Choon Tin Yat dan Rob Cantley sepakat minimal kelembapan 70 sampai 80%. Berbagai cara dapat ditempuh untuk mencapainya. A. Bermawi di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, rutin menyiram 2 sampai 3 kali sehari. Masih di lokasi yang sama, pekebun lain, Saga Attak, membuat kolam air berukuran 2 m x 2 m berkedalaman 10 cm. Di sana setiap pot direndam selama 2 sampai 3 jam setiap pagi dan sore.

Supaya tidak repot, Abdul Kadir merendam N. bicalcarata dan N. ampullaria dalam parit berisi air. Melvin Roza di Jakarta, menggunakan pot berwadah air untuk koleksinya seperti N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. hookeriana.

Choon menyarankan untuk menjauhkan nepenthes dari areal terbuka. “Angin bisa membuat kelembapan turun karena penguapan,” ujarnya. Karena itu pula Drs Suparta Diut di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, membangun tembok setinggi 2 m mengelilingi nurseri untuk memecah angin.

Pengaturan kelembapan dan cahaya perlu diiringi perlakuan pemupukan. Selama tanaman “bayi” hingga “remaja”, Choon memberi pupuk cair organik 1/8 dosis anjuran. Frekuensinya seminggu 2 kali dengan cara pengabutan. Perlakuan itu diberikan sampai daun tumbuh sepanjang 15 sampai 20 cm. “Atau besarnya sampai yang diinginkan,” katanya.

Setelah itu, pemupukan dikurangi menjadi 2 minggu sekali. Cara itu ampuh memacu keluarnya kantong.