Budidaya Tani

Mengecap Gurihnya Bisnis Kedelai Jepang

Setiap pekan setidaknya Rp2,25-juta mengalir ke rekening Bobon Turbansyah dari perniagaan edamame alias kedelai jepang. Laba yang diraup pemasok sayuran di Lembang, Kabupaten Bandung, itu sebetulnya bisa lebih besar jika ia mampu memenuhi tingginya permintaan. Belasan pasar swalayan di Jakarta dan Bandung membutuhkan 1,8 ton edamame setiap pekan. Bobon cuma sanggup memenuhi 750 kg.

Polong edamame itu dikirim setiap Ahad, Selasa, dan Kamis. Volume sekali kirim hanya 250 kg. Pria 52 tahun itu mendapatkan pasokan dari 40 pekebun mitra yang mengelola lahan 5 hektar. Tak semua hasil panen mereka lolos sortir. Menurut Bobon hanya separuh hasil produksi yang sesuai standar mutu seperti bebas ulat dan warna polong hijau segar.

Bobon membeli edamame lolos sortir dari pekebun Rp5.000 dan menjualnya ke pasar swalayan Rp 10.000 per kg. Ia mengutip laba Rp5.000 setiap kilo. Biaya produksi yang dikeluarkan hanya Rp500 per 250 gram. Itu meliputi biaya kemas, styrofoam, label, dan plastik kemas. Artinya, laba bersih yang ditangguk alumnus Universitas Parahyangan itu mencapai Rp3.000 per kg. Total jenderal laba bersih mencapai Rp2,25-juta per pekan.

Menurut yah 4 anak itu, jumlah permintaan edamame meningkat dari tahun ke tahun. Ketika pertama kali membudidayakan anggota famili Fabaceae itu pada 3 tahun silam, permintaan hanya 100 kg sekali kirim. Permintaan melonjak menjadi 600 kg sejak 2 tahun lalu. Oleh sebab itu, PD Grace yang ia kelola merangkul puluhan pekebun mitra, dari 8 menjadi 40 plasma. Jumlah itu masih akan ditingkatkan pada tahun ini.

Permintaan Makin Meningkat

Berkebun edamame, untung besar di lahan sempit

Yang juga mencecap gurihnya berbisnis edamame adalah PT Saung Mirwan, pemasok sayuran eksklusif di Megamendung, Kabupaten Bogor,Jawa Barat. Menurut Hugo Ari Sukarno, manajer pemasaran, “Kami butuh pasokan 4 ton edamame per minggu.” Jumlah itu untuk memenuhi permintaan pasar-pasar swalayan di Jakarta. Dari jumlah itu baru sekitar 2 ton yang terpenuhi oleh pekebun mitra. Sedangkan kekurangan 2 ton per pekan didatangkan dari produsen di Jember, Jawa Timur.

Perusahaan yang didirikan oleh Ir Tatang Hadinata itu memasok pasar swalayan khas Jepang seperti Sogo, Papaya, Koko, masing-masing 200 sampai 300 kg per pekan. Selain pasar swalayan, Saung Mirwan juga mengirimkan penganan kaya lechitin dan isoflavon itu ke restoran-restoran jepang yang mencapai 400 kg per minggu. Total jenderal Saung Mirwan melayani permintaan 16 ton sebulan Perusahaan itu membeli dari pekebun plasma Rp5.000 per kg.

Dengan harga jual Rp8.000/kg, total omzet Rp128-juta.Menurut Adeng Permana, manajer kemitraan, sebagian besar atau 80% pasokan dalam bentuk curah alias tanpa kemas; yang dikemas hanya 20% . Itu jelas menekan biaya produksi, sehingga laba bersih yang diraih relatif besar. Sebagai gambaran, biaya kemas berbobot 250 g mencapai Rp500 atau Rp2.000 sekilo.

Sejak diperkenalkan di Indonesia belasan tahun lalu, popularitas sayuran khas Jepang itu memang meroket. Sepuluh tahun silam, konsumen edamame hanya para ekspatriat Jepang. “Permintaan hanya 30 sampai 50 kg per minggu,” kata Hugo. Namun, kini lidah masyarakat kita terbiasa dengan edamame. Rasa lezat dan mudahnya mengolah sampai tinggal mengukus sampai menjadikan kerabat polong-polongan itu banyak dicari orang. “Tingginya permintaan itu lantaran meningkatnya pengetahuan konsumen tentang kandungan gizi edamame,” ujar o Hugo.

Selain pasar lokal, edamame juga diekspor. Eksportir terbesar adalah PT Mitratani Dua Tujuh. Perusahaan itu mengelola lahan 2.000 ha di Jember, Jawa Timur. Dari lahan itu, Mitratani mengekspor 1.700 ton edamame beku per tahun. Ekspor itu untuk memenuhi kebutuhan edamame Jepang yang pada 2001 mencapai 70.000 ton per tahun. Selain Indonesia, pasar Jepang juga diperebutkan Cina (50%), Taiwan (35%), dan sisanya dipasok Thailand, Vietnam, dan Indonesia (2,4%).

Belum terpasok

Tak semua permintaan yang masuk ke Saung Mirwan dapat terlayani. Permintaan Carrefour, misalnya, hingga hari ini belum dapat dipenuhi. Pasar swalayan dari Perancis itu meminta hingga 4 ton per hari. Sayang, lantaran terbatasnya pasokan, Hugo hanya sanggup mengirim maksimal 1 ton per hari.

Tingginya permintaan keruan saja berkah bagi para pekebun. Sebut saja Ugan Sugandi, pekebun di Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Lahannya tak seberapa luas, hanya 3.000 m2. Dari lahan itu ia menuai 250 kg edamame setiap hari selama sepekan. Edamame siap petik pada umur 60 hari setelah tanam. Total volume panen rata-rata 1,5 ton.

Dengan harga jual Rp5.000 per kg, omzet Ugan Rp7,5-juta per musim tanam. Menurut perhitungan pria 37 tahun itu, total biaya produksi di lahan 3.000 m2 mencapai Rp2,5-juta. Artinya, laba bersih Ugan Rp5-juta per musim tanam atau Rp2,5-juta per bulan.

Yang juga meraup untung dari edamame adalah Slamet Sunarno, distributor edamame segar danbeku di DesaTegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Pasokan edamame diperoleh dari PT Mitratani Dua Tujuh. Edamameyang dipasarkan Slamet Sunarno kualitas ke-2 yang tak dapat diekspor. Harga beli edamame segar kelas dua Rp3.000/ kg. Sedangkan yang beku Rp7.000. Setiap hari, Slamet menjual 150 kg edamame curah dan 50 kg beku.

Yang segar dikemas dengan styrofoam berbobot 500 g edamame beku, dikemas dalam plastik kedap udara berbobot sama. Kedua produk edamame itu dijual ke pemasok sayuran di Surabaya. Harga jual edamame segar Rp5.000 dan beku Rp9.000 per kg. Dari harga jual itu, Slamet mengutip laba Rp2.000 per kg. Jadi, total laba yang diraup Slamet mencapai Rp400.000 per hari atau sekitar Rp12-juta per bulan.

Benih edamame sulit didapat

Di balik laba besar, perniagaan edamame, banyak hambatan. Menurut Mastur Fuad, pekebun di Cianjur, Jawa Barat, “Kesulitan saat ini masalah benih.” Benih bermutu mesti diimpor dari Jepang atau Taiwan dengan harga Rp100.000/ kg. Benih itu menghasilkan 80% polong berbiji 3. Sedangkan benih lokal diambil dari penanaman sebelumnya sebagian besar polong hanya berisi 2 biji. Harga benih lokal
Rp30.000 per kg.

Akhir musim tanam lalu, Mastur gagal mengadaptasikan benih impor asal Taiwan Akibatnya, tanaman menjadi kerdil dan urung berbuah.

“Musim tanam saat ini terancam gagal panen,” katanya. Artinya, ia bakal kehilangan pendapatan sekitar Rp750.000 per pekan. Hambatan lain, “Penanaman pada musim kemarau,banyak ulat yang menyerang,” kata Bobon. Serangan ulat muncul sejak Bobon berhenti menggunakan pestisida kimia.

Selain itu, kemarau panj ang menyebabkan para pekebun kesulitan air sehingga kedelai yang dihasilkan kurang bernas. Akibatnya, kualitas edamame dari pekebun mitra jadi menurun. “Jumlah apkir mencapai 50%,” ujar Bobon. Meski sarat kendala, banyak pekebun tak surut langkah menanam edamame. Ugan misalnya, ia berencana memperluas lahan. Harap mafhum, di balik kendala itu edamame menjanjikan laba besar.

Pandu Dwilaksono