Budidaya Tani

Mengecap Manisnya Bisnis Kapri Manis

Dua tahun sudah Suwarno, petani di Lembang, Bandung, kepincut kapri manis. Setiap 2 minggu, di lahan 3000 m2 dibenamkan modal Rp8-juta. Dengan harga jual Rp12.000 per kg dari penjualan 1.400 kg kapri, ia bisa meraup keuntungan bersih Rp8,8 juta. Keuntungan itu diperolehnya ketika harga terendah. Saat harga melambung hingga Rp25.000 per kg, laba yang ditangguk kian besar.

Pekebun itu total mengelola 7,5 ha di Lembang, Bandung. Lahan berketinggian 1.100 dpi dibagi menjadi beberapa petak. Setiap 2 pekan ayah 3 anak itu menanam 4 kg benih. Dengan demikian panen berkesinambungan.

Dari lahan 3.000 m2, kelahiran Bandung 40 tahun lalu itu berpenghasilan Rp16.800.000. Biaya produksi hanya Rp8-juta, termasuk sewa lahan dan ongkos tenaga kerja. Setelah dikurangi biaya produksi, laba bersih yang diraup Rp8,8-juta dalam waktu 110 hari. Padahal harga kapri manis sempat menjulang hingga Rp25.000 per kg. Itu biasanya terjadi saat musim hujan. Bisa dipastikan, keuntungannya melambung.

Harga tinggi

Siap kirim ke pasar swalayan

Yang juga mencecap manisnya berkebun kapri manis adalah Dede Wihaija. Sejak 1997, petani sayur dan buah itu tak pernah absen menanamnya. Ketika Trubus mengunjungi kebunnya, Juni, ia sedang menggarap 7 ha di Lembang, Bandung. Harga tinggi memang menjadi daya tarik. ”Tak ada harga sayuran yang setinggi kapri manis,” kata pemilik toko saprotan Buana Tani itu.

Baik Dede maupun Suwarno tak kesulitan memasarkan sayuran polong itu. Mereka mengirimkannya ke pasar swalayan dan pedagang lain di Bandung.

Selain pasar lokal, kapri manis juga diekspor. PT Horti Bima Internasional (HBI), misalnya, rutin mengekspor 6 ton per pekan ke Taiwan. Harga yang diterima dari importir di Taiwan Rp 15.000 per kg. Pasokan antara lain datang dari pekebun di sekitar Malang. HBI membeli sekilo kapri dari petani Rp5.000 per kg.

Selama ini HBI mengembangkan kemitraan dengan 50 petani. Benih senilai Rp5 juta untuk luasan 1 ha-dipasok perusahaan dan akan diperhitungkan ketika panen. Menurut Suyati, manager farm HBI, biaya untuk menghasilkan 1 kg kapri manis hanya Rp3.700. Artinya dengan harga jual Rp5.000 per kg, plasma masih menikmati laba.

Standar mutu yang diharapkan: polong utuh, panjang 10 sampai 12 cm dan bebas hama penyakit. Selama ini 70% pasokan plasma memenuhi kriteria. Yang tak memenuhi kriteria dilempar ke pasar domestik. Untuk kualitas itu, plasma hanya menerima Rp2.000per kg.

Masa penanaman kapri manis antara Indonesia dengan negara tujuan ekspor, berbeda. Di Indonesia kapri manis ditanam ketika musim hujan usai, antara Maret Oktober. Saat itu, di Taiwan, kapri manis justru sedang tidak berproduksi. Itu sebabnya HBI mengekspor ke Taiwan hanya Juni Oktober setiap tahun. Pada November sampai Februari, kekosongan diisi sayuran lain seperti sawi bunga dan pakcoi.

Pemain Pemain baru

Serapan pasar lokal relatif kecil lantaran segmen pasarnya khusus. Dede Wiharja dan Suwamo, misalnya, antara Juni-November, setiap hari hanya memasok 100 kg ke pasar swalayan atau pemasok lain. Di luar bulan itu, Dede memasok 400 kg per hari. CV Putri Segar juga rutin memasarkan 30 kg per hari sejak 4 tahun lalu. Beberapa pasar swalayan di Jakarta menjadi konsumennya. Ia menjual Rp 18.000 per kg.

Meski begitu bukan berarti tak ada hambatan membudidayakan kapri manis. Terutama saat musim hujan. Embun tepung menjadi momok yang belum dapat diatasi. Dede Wiharja, misalnya, pada 1988, sekitar 30% lahan dari 2.000 m2 luluh-lantak akibat serangan embun tepung.

Namun jika dapat mengatasi kendala itu, peluang besar di depan mata. Itu dibuktikan Dede “Di saat itu, sedikit yang berani tanam,” ungkap Dede Wiharja. Luas areal pun ditambah, sehingga pasokan Dede meningkat menjadi 400 kg/ hari. Yang menggembirakan keuntungan berlipat. Harga kapri saat itu biasanya Rp25.000 per kg.

Peluang kapri mulai ditangkap perusahaan besar. Pemain baru pun mulai bermunculan. Di Nusa Tenggara Barat, ada PT Sampoerna Agro. Porsinya diakui Jacobus B Kaluli, manajer farm, baru satu greenhouse seluas setengah ha. Namun, perusahaan yang mengelola sayuran dan buah 250 ha itu, sudah menjual ke Jakarta, Bali, dan Surabaya. “Kita masih uji manis dan renyah. Tak tertutup kemungkinan ekspor,” tutur Jacobus B Kaluli. Di Malang, menurut Suyati, selain HBI kini ada 4 perusahaan/eksportir kapri manis.

Kendala lahan

Untung seratus persen

Kendala yang dihadapi rata-rata pekebun ialah soal lahan. Kapri manis tidak bisa ditanam di tempat sama berturut-turut. Biasanya pekebun di Lembang merotasi dengan brokoli, lettuce, dan buncis. “Minimal satu tahun baru bisa kembali ke tempat semula,” ungkap Hadis Mulyana, teknisi lapang Buana Tani milik Dede Wiharja.

Akibat persyaratan itu Horti Bima Internasional kesulitan memenuhi pasokan. Untuk memasok 6 ton kapri manis per minggu, dibutuhkan lahan lebih dari 50 ha. Kesulitan HBI bertambah, ketika kebun yang terletak di Nongkojajar, Malang itu, dihujani abu yang disemburkan Gunung Semeru.

Kecuali soal lahan, panen yang tidak tepat waktu sering membuat pekebun merugi. Panen raya kapri manis di Indonesia dimulai April. Pada bulan itu, harga kapri menurun. Puncak harga terendah terjadi pada Mei dan Juni, yakni Rp12.000/kg. Menurut Dede hal ini karena Malang, salah satu sentra besar, panen raya. Padahal, ekspor ke Taiwan belum waktunya.

Untuk melipat gandakan keuntungan, ada baiknya pekebun mengikuti cara yang diakukan Dede Wiharja. Menanam di musim hujan. Asal, hama dan penyakit dikontrol secara ketat. Fungi dan insektisida yang biasanya diberikan 2 kali pada musim kemarau, harus 4 kali pada musim hujan.

Pandu Dwilaksono