Budidaya Tani

Mengendus Keuntungan Minyak Jahe

Sejak menyuling jahe pada 1999, kesibukan Achdiat makin bertambah. Kalau semula lebih banyak berdiam di rumah, kini hari-harinya banyak dihabiskan untuk mencari bahan baku. Tak jarang ia harus menyusuri jalan-jalan desa di wilayah Boyolali, Salatiga, hingga Solo, hanya untuk mendapatkan rimpang jahe. Maklum, 1 ketel penyulingannya di Semarang menanti pasokan 80 sampai 100 kg/hari.

Menurut Achdiat, pasar minyak jahe cukup baik. Volume pasokan masih jauh di bawah permitaan. Pasalnya, “Belum banyak orang yang tertarik mengusahakan penyulingan jahe,” paparnya. Buktinya di Jawa Tengah hanya Achdiat sendiri yang melakukan. Padahal, dilihat dari keutungan cukup lumayan. Dari 1 ketel paling tidak penyuling meraup untung Rp 4-juta per bulan.

Rinciannya, dengan 1 ketel berkapasitas 80 kg dapat disuling sekitar 2 ton bahan baku. Dengan rendemen 2% diperoleh 40 kg minyak jahe sebulan. Jika harga jual saat ini Rp400.000/kg, pria 40 tahun itu beromzet Rp16-juta. Sementara biaya produksi tak lebih dari Rp12-juta.

Minyak jahe asal Indonesia
Minyak jahe asal Indonesia dihargai lebih tinggi

Besar keuntungan itulah yang memotivasi Achdiat terus menggeluti usaha penyulingan minyak jahe. “Karena belum bayak pesaing pemasarannya cukup mudah,” ujarnya. Banyak perusahaan obat dan makanan yang meminta pasokan meskipun jumlah terbatas. Ia berencana menambah 1 unit ketel untuk meningkatkan produksi.

Komoditas Baru

Minyak jahe memang masih tergolong mainan baru bagi eksportir minyak asiri. Di kalangan penyuling kurang diminati. Karena, “Rendemen minyak yang hanya 2 sampai 3% membuat orang kurang tertarik,” papar TR Manurung, ketua Asosiasi Perdagangan Minyak Asiri Indonesia. Apalagi teknik penyulingannya belum banyak dipahami.

Menurut Manurung, pasar dunia baru mengenal minyak jahe Indonesia sejak pertengahan 1990. Adalah PT Djasulawangi, eksportir di Jakarta yang memperkenalkan produk baru itu ke pasaran. Ketika itu Djasulawangi mencium aroma harum minyak jahe di pasar ekspor. Tak ingin kehilangan peluang, ia mengirim sampel kepada pelanggannya. Tak dinyana, gayung pun bersambut. Sejak itu pula ia aktif memasok ginger oil itu ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Minyak jahe memang bukan komoditas andalan eksportir minyak asiri. “Hanya 2 sampai 3 ton yang kami ekspor setiap tahun. Permintaan ke Indonesia tidak terlalu banyak,” papar Suwandi, bagian ekspor Djasulawangi. Yang meminta pasokan hanya kalangan tertentu. Itu karena pasar dunia lebih mengenal minyak jahe asal India atau RRC. Kedua negara itu sudah lama menjadi pemasok utama minyak jahe dunia.

Perlu strategi promosi yang tepat

Diakui Manurung pangsa pasar minyak jahe Indonesia masih terbatas. Kontribusi minyak jahe paling tinggi hanya 0,3% dari total ekspor minyak asiri Indonesia. Laju pertumbuhan permintaan juga lambat. Namun, “Bukan berarti peluang pasarnya tak ada,” papar direktur PT Sarana Bela Nusa itu. Permintaan pasar terus mengalir meski dalam jumlah terbatas.

Kurangnya promosi diklaim sebagai penyebab. “Sebagai barang baru di pasaran, belum banyak yang mengenal minyak jahe asal Indonesia,” tutur Manurung. Apalagi sifat fisika dan kimia berbeda dengan minyak jahe India atau RRC, sehingga dianggap tidak sesuai standar. Wajar bila konsumen ragu untuk menggunakannya.

ekstrak Jahe merah
Jahe merah hasilkan rendemen terbaik

Untuk meraih pasar lebih luas di luar negeri butuh proses dan waktu panjang. Merebut pasar dari produsen lain tidak mudah. Makanya, “Perlu dibuat standar khusus,” ujar Sofyan Rusli, ahli minyak jahe di Balittro, Bogor. Itu berarti peralatan industri dan formulasi produk harus diubah.

Harga jual cukup tinggi

Sebetulnya kualitas minyak jahe Indonesia lebih baik ketimbang yang ada di pasar dunia. “Kadar sitratnya lebih tinggi sehingga lebih pedas,” kata Manurung. Aromanya juga jauh lebih harum. Oleh karena itu beberapa konsumen yang sudah mengenal produk dengan baik cenderung memilih minyak jahe asal Indonesia sekalipun lebih mahal.

“Harga minyak jahe kita 3 kali lipat asal RRC,” tutur Suwandi. Di pasar dunia minyak jahe Indonesia ditawarkan dengan harga minimal US$70 sampai US$80; RRC, US$20 sampai US$30. Sayangnya, peluang itu tidak dilirik oleh pengusaha besar. Lebih-lebih penyuling skala rumahan.

Akibatnya, realisasi ekspor minyak jahe tersendat-sendat. Pada 1997 bahkan Indonesia tak bisa ekspor sama sekali. Bagaimana tidak, untuk memenuhi permintaan pelanggan sebanyak 50 kg saja, PT Sarana Bela Nusa harus membeli dari eksportir lain. Alasannya, sulit mendapatkan minyak jahe kualitas ekspor.

Di pasar dalam negeri minyak jahe juga memiliki peluang. Banyak industri makanan, obat-obatan, dan pabrik jamu membutuhkannya. Untuk memenuhinya, banyak yang mendatangkan dari luar negeri. Di antaranya dari Amerika Serikat, RRC, Jerman, dan Belanda. Data BPS mengungkapkan rata-rata impor dari 1993 sampai 1999 mencapai 1.600 kg/tahun. Malah, pada 1995 impor minyak jahe sempat melambung hingga 5.131 kg atau senilai USS53.963.

Limbah

PT Sidomuncul mencoba melirik peluang pasar dalam negeri itu. Sejak Maret 2002 pabrik jamu terbesar di Indonesia itu mulai memproduksi minyak jahe. Bahan baku yang dipakai ampas jahe emprit, sisa ekstraksi pembuatan jahe instan. “Kami bermaksud memanfaatkan limbah jahe yang terbuang disuling menjadi minyak,” papar Dian Risdianto, Manajer Divisi Lingkungan dan Proses.

Ternyata ampas jahe masih mengandung minyak asiri. Serta-merta perusahaan itu membuka pabrik penyulingan di Ungaran, Jawa Tengah. Dari 7 ketel penyulingan berkapasitas bahan 150 kg yang dipunyai, 3 unit di antaranya untuk menyulingan minyak jahe.

Dian tidak memaksimalkan kapasitas produksi lantaran kendala bahan baku. Pasalnya, “Pemakaian jahe di Sidomuncul sangat tergantung musim,” papar alumnus Fakultas Teknik Kimia ITB itu. Pada musim kemarau kebutuhan jahe perusahaan itu hanya sekitar 15 ton/bulan. Pada musim hujan, kebutuhan mencapai 30 sampai 40 ton.

Oleh karena itu penyulingan dengan 3 ketel hanya berlangsung 1 kali sehari. Atau membutuhkan bahan baku sekitar 12 ton/ bulan. Pada musim hujan, penyulingan bisa berlangsung hingga 3 kali sehari. Ampas yang terolah sebanyak 20 sampai 30 ton/ bulan. Dengan rendemen 0,7%, berarti produksi musim kemarau mencapai 84 kg; musim hujan, 200 sampai 250 kg.

Sidomuncul memproduksi minyak jahe untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Di antaranya untuk aroma terapi dan bahan campuran balsem tolak angin. Namun, jika ada kelebihan dilempar ke industri sejenis dengan harga jual Rp500.000 sampai Rp600.000 per kg. Andai 50% yang dijual, berarti hasil pengolahan limbah itu memasukkan omzet minimal Rp21-juta/bulan ke kas perusahaan.

Bahan murah

PT Djasulawangi juga hanya menggunakan jahe putih lokal. Sejak awal memang minyak hasil sulingan jahe putih itulah yang diperkenalkan ke pasar dunia. “Aroma dan rasa pedasnya berbeda dengan negara lain. Tapi karena sudah dikenal ia pun bisa diterima pasar,” paparnya.

Jahe putih jadi pilihan lantaran harga lebih murah dibanding jahe gajah atau merah. Perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta itu mendapatkan pasokan bahan baku dari pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ia mematok harga pembelian Rp 1.000 sampai . Rp1.500 untuk setiap kg jahe putih Makanya, meski rendemen hanya 0,2 sampai 0,3%, kegiatan penyulingan di Sukabumi itu masih cukup menguntungkan. Apalagi minyak jahe keluaran Djasulawangi dihargai di atas US$80/kg.

Untuk menekan biaya produksi. Balai Penelitian Tanaman Rempah dar. Obat (Balittro), Bogor menyarankan penggunaan jahe kualitas rendah. Di pasar, jahe kualitas rendah hanya dihargai Rp1.000/kg; kualitas bail Rp2.500/kg. Hasilnya, kendati kada-minyak lebih rendah, tapi memberikan keuntungan lebih besar. (Yudi Anto)

Yudi Anto

Add comment