Budidaya Tani
lobster air tawar

Menyiasati Permintaan Bibit lobster Air Tawar Yang Kian Melangit

Senyum Bernard Raharjo senantiasa mengembang sejak triwulan terakhir ini. Bulan lalu saja sekitar 10.000 benih lobster air tawar ukuran 2 inci ludes diborong pembeli. Dengan mematok harga Rp2.500 sampai Rp3.500/ekor, peternak di Meruya, Jakarta Barat, itu minimal meraup pendapatan Rp25-juta. “Pesanan yang belum terlayani masih banyak. Barangnya sekarang lagi kosong,” ujar Bernard.

Pada waktu yang bersamaan pemilik Biru Aquarium itu sudah berusaha menggenjot produksi Benih lobster air tawar. Jumlah induk dan kolam diperbanyak. Setahun silam penghobi mancing trolling di laut itu hanya memiliki belasan set induk.

Semua dipelihara di sebuah empang di Serpong. Kini di 4 empang baru di Tanjung Pasir dan Pamulang, Tangerang, dan Bogor, lebih dari 100 set induk sedang dipacu bertelur.

Hasilnya, Bernard setiap pekan bisa memanen 3.000 bibit. Total jenderal dalam sebulan sarjana komputer dari universitas swasta terkenal di Jakarta itu minimal menghasilkan 10.000 bibit. “Sebetulnya saya dapat saja menjual lebih dari jumlah itu, tapi kalau semua dijual saya bisa-bisa tidak punya persediaan lagi,” ujar pria berusia 37 tahun itu.

Permintaan Bibit Meledak Di Pasaran

panen lobster
Lobster/crayfish siap panen

Nun di Yogyakarta, Johan Effendi tak kalah pusing menerima pesanan lobster. “Sejak diekspos Trubus, permintaan lobster naik sampai 200%,” ujar ketua Asosiasi Pembudidaya Lobster Air Tawar Indonesia (APLATI) itu. Dari farm seluas 200 m2 di Kopen, Yogyakarta, pengusaha restoran Jepang itu setiap bulan ( hanya sanggup melepas sekitar 8.000 bibit.

Itu belum termasuk sekitar 4.000 benih lobster air tawar dari beberapa plasma di seputaran Kota Gudeg itu.

Dari lacakan Trubus di beberapa kota besar seperti , Jakarta,Surabaya,Yogyakarta, dan Lombok, hampir semua pendeder sepakat jika saat ini permintaan bibit untuk pembesaran sangat tinggi.

“Kenaikan hingga 200% saja masih belum bisa mencukupi pasar,” ujar Sugeng Widiarso dari Vijan Farm di Pamulang, Tangerang. Hal senada diungkapkan Riswan Rismawan di Bekasi. “Sekarang berapa pun produksi bibit lobster pasti habis,” ujar pemilik Harapan Fish Farm itu.

Kenyataan itu seringkali membuat kelabakan peternak. Maklum tak jarang pembeli sudah menyetor uang, tapi barang tidak ada. “Istilahnya utang bibit,” ujar Cuncun Setiawan dari Bintaro Fish Farm

di Tangerang. Tak heran untuk menutupi kekurangan produksi, peternak berani menerapkan sistem jemput bola.
“Sekarang kalau ada yang menjual 500 sampai 1.000 bibit Lobster air tawar saja langsung didatangi tempatnya. Dulu mana mau,” ujar Cuncun.

Cara lain ditempuh Riswan. Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung itu ‘memaksa’ plasmanya untuk mencetak bibit Lobster air tawar sebanyak-banyaknya. “Jika sebelumnya 1 plasma menyetor 1.500 bibit per minggu, sekarang kalau bisa 2 sampai 3 kali lipat,” ujarnya. Konsekuensinya selain ikut memasok indukan, Riswan juga menaikkan harga beli.

Wajib Kontrol Harga Pasar benih lobster air tawar

Permintaan besar memang mendorong meroketnya harga bibit udang lobster air tawar. Hingga Februari 2006, harga bibit ukuran 2 inci di tingkat peternak berkisar Rp 1.000 sampai Rp 1.500/ekor.

Memasuki Maret sampai April 2020 harga itu meningkat menjadi Rp2.000 sampai Rp3.500/kor. Bahkan pada beberapa kasus seperti di Surabaya, harga bisa melambung mencapai Rp5.000/ ekor.

Untuk satu set induk harga meningkat rata-rata 30 sampai 40%. Induk berukuran 10 cm misalnya semula Rp400.000 sampai Rp450.000 kini dijual Rp650.000 sampai Rp700.000/set.

“Sekarang belum ada yang bisa mengontrol harga,” ujar FX Santoso pemilik Santoso Farm di Surabaya. Contohnya harga jual bibit udang lobster air tawar ukuran 2 inci di Yogyakarta. Di sana harga mulai dibedakan berdasarkan kelamin. Jantan misalnya dijual Rp2.750/ ekor.

Betina 3 sampai 4 kali lipat lebih tinggi, Rp7.000 sampai Rp12.000/ekor. “Betina lebih mahal karena ia bertelur. Tapi tidak semua peternak di sini menjual seperti itu. Ada yang tetap pukul rata menjual Rp5.000/ ekor,” ujar Johan Effendi.

Ukuran lobster yang dijual pun ikut berubah. Jika sebelumnya ukuran bibit yang dijual harus 2 inci, kini 1 inci pun sudah diambil calon peternak. “Pembeli biasanya tak sabar menunggu, jadi ukuran kecil juga disikat,” ujar Sugeng. Padahal ukuran itu sangat riskan. Selain rentan mati, kualitas belum teruji. benih lobster air tawar yang berukuran kuntet misalnya tidak mudah terdeteksi saat berukuran 1 inci.

Booming Yang Merusak harga pasar

Menurut FX Santoso, pasar bibit yang menggiurkan itu semata-mata tumbuh karena promosi yang gencar. Iming-iming lobster mudah dibudidayakan, tak perlu lahan luas, dan memberi pemasukan tambahan yang tidak sedikit seakan menyihir orang untuk mencoba mengusahakan. “Booming ini yang sebetulnya saya takutkan karena bisa menjebak,” ujar alumnus Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Meski demikian bagi Johan, Sugeng, dan Bernard, kondisi itu perlu disikapi secara arif. “Booming bibit bisa kapan saja terjadi, tapi selama pembesaran konsumsi menjadi tujuan akhir tidak apa-apa. Yang harus diwaspadai sebenarnya kehadiran pemain dadakan yang merusak harga,” ujar Johan. Mereka itu yang benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “Kalau mau menjadi orang kaya baru, inilah saatnya,” ujar Bernard.

Dwilaksono Pandu

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed