Budidaya Tani

Mereka Yang Tergoda Kamboja Jepang

Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah sederhana di salah satu pelosok Jakarta. Sang penumpang, seorang wanita paruh baya berkulit bersih, turun mgmasuki halaman rumah yang terletak di kepadatan gang sempit itu. Yang ia cari sesosok adenium berukuran 20 cm. Setelah setengah memaksa akhirnya kamboja jepang berbunga putih milik seorang haji itu jatuh ke tangannya.

Di lain waktu perempuan cantik itu terbang menuju Bangkok, Thailand. Yang dituju sebuah pameran akbar setiap 1 sampai 10 Desember yang memamerkan ribuan adenium berpenampilan prima. “Wah bagus-bagus banget. Ada adenium yang tajuknya seperti payung, penuh semua dengan bunga tanpa daun,” tuturnya berbinar. Pada pameran untuk memperingati hari kelahiran Raja Bhumibol Aduljadej itu selalu tampil adenium jenis baru. Itu kesempatan untuk melengkapi koleksi kamboja jepang miliknya.

Meski enggan disebut kolektor berat, nyatanya Alun wanita cantik itu kerap rela memburu adenium ke berbagai tempat. Kalau sedang mencari tanaman, ia datangi semua nurseri-nurseri lokal yang ada.

Yang paling seru memang kisah perburuan adenium putih itu. Ia rela masuk hingga pelosok-pelosok Jakarta demi mendapatkan bunga impian. “Habis aneh, biasanya kan bunganya merah atau pink,” kata kelahiran Pontianak 58 tahun silam itu. Begitu menemukan langsung saja dibeli meski harga terhitung mahal, Rp 100.000, untuk tanaman setinggi 20 cm. Bentuk tajuk pun tak keruan karena diokulasi secara sembarang.

Bawa sendiri

Alun peburuan hingga ke Thailand

Nurseri di luar negeri juga kerap disambangi istri pengusaha cat mobil itu. Dari sekitar 50 pot, sebagian besar koleksi Alun memang asal Amerika Serikat, Thailand, dan Taiwan. Bulan lalu ibu 3 anak itu baru saja memboyong 3 adenium baru asal Thailand. Sayang ketika Trubus berkunjung hanya 1 tanaman yang berbunga. Adenium setinggi 30 cm itu memamerkan bunga merah nan cemerlang.

Sisanya masih dalam tahap pemulihan. Maklum waktu dibawa dari negeri Siam, mawar gurun itu dibongkar dari media. Setelah bersih, tanaman dibungkus koran berlapis-lapis. Daun-daun diikat agar tidak patah. Baru dimasukkan koper. Begitu tiba di tanah air, buru-buru tanaman dibongkar. Lalu diberi media baru dan zat antistres agar kondisi kembali prima.

Toh tak melulu harus Alun sendiri yang memburu ke negara produsen. Ia kerap memesan lewat para pemilik nurseri yang kebetulan bepergian ke luar negeri. Setiap kali Yosef Ishak, pemilik sebuah nurseri di Bogor, melancong ke Amerika Serikat, Alun pasti minta dibawakan jenis baru.

“Saya senang adenium dari sana karena bunganya kecil-kecil tapi semarak. Motifnya pun macam-macam. Lagipula bentuk bonggol aneh-aneh karena dibesarkan langsung dari biji,” ujar istri Santosa itu. Bunga keberuntungan sampai -fook hoi hwa, sebutannya di Cina dan Taiwan sampai asal Thailand umumnya berbunga besar dan berasal dari okulasi.

Pot dinding

Kamboja jepang mempermanis dinding

Kehadiran mawar-mawar gurun itu membuat penampilan halaman depan rumah mewah di kawasan Meruya, Jakarta Barat, istimewa. Adenium berbonggol besar ditata di beberapa sudut dikelilingi tanaman lebih kecil. Yang lain disusun dalam rak besi berwarna hijau yang ditata di atas lapangan rumput. “Habis makin lama halaman rumah saya penuh tanaman. Jadi supaya tetap rapi walaupun padat saya susun bertingkat,” kata wanita yang hobi merajut itu. Adenium bersanding dengan euphorbia, kembang sepatu, dan anggrek.

Gara-gara kehabisan tempat pula akhirnya sebagian kamboja jepang naik ke dinding rumah. Rak-rak mungil berbentuk cantik ditempelkan di dinding batu di dekat gerbang. Adenium dalam pot-pot plastik dimasukkan ke dalam rak itu. Hasilnya dinding batu jadi kelihatan “manis”. Ide itu ia lihat waktu menengok salah satu putra di Amerika Serikat. Lima puluh adenium lokal berbunga merah pun menghias sekeliling teras di lantai atas.

Penggemar anjing itu sendiri yang merawat. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas lain sebagai ibu rumahtangga dan sore hari, Alun berkeliling kebun. Memupuk, memangkas, hingga mengganti media jadi rutinitas. Meski ada tukang kebun khusus, ia sesekali masih menyiram sendiri.

Maklum ia nyaris kehilangan salah satu adenium kebanggaan. Itu jenis lokal tapi tajuknya melebar seperti payung dan berbonggol besar. Gara-gara tukang kebun berlebihan menyiram, bonggol busuk. Untung masih bisa terselamatkan,” tutur perempuan yang hobi melukis itu sambil menunjuk adenium setinggi 2 m di pot besar. Anggota famili Apocinaceae itu salah satu obyeknya.

Utak-atik sendiri

Keindahan adenium tak hanya mempesona kaum hawa. Nun di Surabaya Ir Husny Bahasuan mengoleksi 100 jenis berbeda. Kerabat plumeria berbonggol besar dan semarak bunga dalam pot-pot keramik menghias halaman rumah di kompleks Bintang Dwiponggo. “Yang kondisinya prima sengaja ditaruh di rumah biar setiap kali pulang ketja adenium yang pertama kali terlihat,” tutur pria 44 tahun itu.

Mayoritas tanaman justru ditempatkan di kebun pribadi berjarak waktu 10 sampai 15 menit dari kediaman serta di Tretes dan Trawas, keduanya di Mojokerto. Di sana adenium dibungakan sebelum diboyong kembali ke kediaman.

Toh bukan berarti Husny angkat tangan merawat. Di tengah kesibukan sebagai direktur perusahaan produsen sarung Behaestex, paling tidak 2 sampai 3 kali seminggu ia sempatkan untuk menyambangi kebun di dekat rumah. Sampai di sana gunting pangkas jadi sahabatnya.

Pria berkumis itu memang gemar mengutak-atik sendiri tanaman. Beragam adenium bersosok mini yang dibeli dari nurseri-nurseri diokulasi dengan bonggol lokal. Karya itu kerap jadi buah tangan kala menengok sang ayah yang juga penggemar tanaman hias di Surabaya.

Obat stres

Husni, Adenium pelepas stres

Gara-gara melihat tanaman hias dalam pot berwarna merah cemerlang di sebuah pameran di Jakarta 6 tahun silam, Husny kepincut kamboja jepang. “Pohonnya kecil tapi colorfull sekali. Bentuknyajadi seperti bonsai petit green tapi berbunga,” ujarnya. Dari si penjaja ia tahu kalau itu adenium. Tak segan ia borong 3 jenis yang semarak bunga ke Surabaya.

Berawal dari perkenalan itu Husny mulai mengoleksi. Yang jadi incaran jenis-jenis baru. Awalnya tak mudah lantaran sabi star itu belum banyak dikenal. Gayung bersambut kala ia bertemu dengan Chandra Gunawan, pemilik Godong Ijo Nursery, dalam pameran sama 3 tahun silam. Dari nurseri di Sawangan, Depok, itulah jenis-jenis baru asal Thailand dan Amerika Serikat diperoleh.

Saking semangat menambah koleksi, suatu ketika 30 pot berbagai ukuran diborong sekaligus. Dengan kisaran harga Rp30.000 sampai Rp60.000 per pot ia merogoh kantung Rp 1 sampai Rp2-juta. Harga lebih mahal karena bentuk bonggol tiada duanya.

Kini total 400 pot ia miliki. Umumnya jenis berbonggol besar. Kehadiran si mawar gurun itu jadi pelepas ketegangan usai seharian berkutat dengan kesibukan di perusahaan.

Pandu Dwilaksono