Mereka Yang Tersungkur Karena Sarang Walet

Walet tak melulu melahirkan cerita mengenakkan bagi peternaknya. Kisah getir pun banyak dialami para peternak yang kurang beruntung. Pada awalnya mereka memang tergiur mahalnya harga liur walet. Namun, akhirnya mereka justru tersungkur. Padahal segala upaya ditempuhnya agar walet mau menghuni rumah yang telah dibangun.

Hampir sewindu menunggu, walet tak juga menyambangi rumah yang dibangun Lahardo Palamarta. Bangunan tiga lantai berukuran 12m X 5m itu senyap dari cericit walet. Jangankan burung berliur mahal, kapinis atau seriti pun tak melirik bangunan di Sukamandi, Subang, itu.

Padahal, “Berbagai upaya sebetulnya sudah saya lakukan seperti menebar kotoran walet[1]. Saya juga sudah melabur dinding bangunan dengan putih telur bebek untuk mengurangi bau semen dan menimbulkan bau amis,” papar Palamarta. Hasilnya? Gagal total.

Perhitungkan Sebelum Membangun Di Wilayah Sentra walet

Lokasi rumah yang dibangun Palamarta pada 1992 itu sebetulnya sangat strategis. Di sekelilingnya sudah berdiri puluhan rumah walet dan berpenghuni. Namun, tetap saja walet-walet itu ogah mampir.

Pengusaha keramik tersebut sudah menghabiskan dana sekitar Rp100-juta untuk membeli tanah dan mendirikan rumah. “Ketika itu mungkin saya tak berpikir panjang,” tuturnya dengan nada kecewa.

Laba yang diperoleh dari perdagangan keramik dirasakannya sangat tipis. Sehingga saat pelanggannya seorang kontraktor bercerita tentang sarang walet ia pun tergiur. Harga sarang walet ketika itu Rp5-juta per kilogram.

Sarang walet itulah yang diharapkan sebagai pelipur lara atas sepinya perdagangan keramik kala itu. Namun, penantian yang panjang membuat Palamarta berniat menjual rumah walet itu.

Palamarta tidak sendirian mengharap walet yang tak kunjung datang. Tubagus Sunarya Saleh seperti dikisahkan menantunya Harun, juga begitu. Rumah walet berukuran 25m X 15m di Rangkasbitung, Lebak, Jawa Barat, milik Saleh pun setali tiga uang.

Mungkin bagai menanti ara hanyut menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba menyebabkan Saleh menjual rumah waletnya. Enam tahun jelas bukan waktu singkat untuk sebuah penantian. “Dulu sebetulnya seriti sudah masuk. Tapi karena di sekitar rumah walet ada diesel, seriti kabur lagi. Mungkin karena suara gaduh ya?,” tanya Harun meminta persetujuan Kami.

kelembaban rumah walet
Kurang lembab

Ditunggu sekian lama, seriti tak pernah singgah lagi. Seriti memang bukan gelombang laut yang senantiasa rindu akan pantai. Bagi walet tak ada jaminan mereka kembali ke asal.

Perlu Perhitungan Matang

Sukses beternak walet sehingga meraup ratusan dolar memang menjadi impian setiap peternak. Namun, tampaknya bukan hal mudah buat merengkuh impian itu. Staf Kelurahan Haurgeulis sentra walet di Indramayu, Jawa Barat Suhendi sangat setuju dengan pernyataan itu. “Saya sudah menunggu lima tahun, tapi seriti pun belum masuk,” tutur ayah dua anak itu.

Ia bukannya berpangku tangan menanti keajaiban datang. “Saya sudah melabur tembok dengan putih telur bebek dan memberikan perangsang walet,” kata pria berusia 34 tahun itu. Untuk melabur tembok gedung berlantai tiga berukuran 7m X 5,5m itu ia menghabiskan 100 butir. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 280m2 itu menghabiskan dana Rp20-juta.

“Untungnya saya membangun dengan cara menyicil. Ada dana ya saya membangun. Kalau habis berhenti dulu. Jadi tak terasa,” kata Suhendi. Walau lama menanti kedatangan walet, Suhendi tak putus asa. Ia masih optimis pada tahun keenam walet bakal bertandang ke rumahnya.

Kisah sedih di peternakan walet pun menimpa Sobari. Pedagang daging di pasar Haurgeulis, Indramayu, itu melego rumah walet berkualitas dengan harga Rp105-juta. Pasalnya, walet yang dinanti selama lima tahun tak juga muncul.

Rumah walet itu terdiri atas dua lantai berukuran 12m X 8m dengan tinggi 7m. Harga jual itu boleh dibilang lebih dari cukup bila dibandingkan dengan biaya pembuatan yang mencapai Rp90-juta pada 1992.

Bila Anda melintas di Pamanukan, Subang dari arah Cikampek, di sisi kanan jalan tampak rumah walet mewah. Bangunan kokoh itu bercat putih, dilengkapi menara, dan terletak di pinggir sungai. Pemiliknya sebut saja Alfredo berniat menjualnya setelah sepuluh tahun menunggu walet tak kunjung tiba.

Hindari Rumah Walet Langsung huni

Nasib lebih tragis dialami Narayana Nirasa  ini nama samaran mungkin untuk menghindari penantian panjang, Narayana Nirasa langsung membeli rumah yang sudah terisi walet. Harga mahal bukan masalah walau ia harus merogoh kocek dalam-dalam yakni Rp400-juta.

Lagi pula sebelum dibeli, walet itu sudah berproduksi. Harapan besar untuk memanen kembali beberapa bulan kemudian tentu menggayut di benak Narayana.

Namun, apa lacur setelah dibersihkan rumah walet di Sindanglaut, Cirebon, Jawa Barat, itu malah sepi. Walet bereksodus entah ke mana. Tak seekor pun sudi menetap di rumah walet itu. Bagai api padam dan puntung pun hanyut, semua asa Narayana musnah.

Kepergian walet itu tentu saja menorehkan kecewa. Rumah walet tersebut kini kosong melompong. Narayana memang berniat menjual, tapi tak mungkin rumah walet dengan harga Rp 400-juta. Sebab, harga pasaran di Cirebon paling banter hanya Rp50-juta. Narayana betul-betul tersungkur. Harapan memanen sarang walet itu laksana bunga yang layu sebelum berkembang. Oalah,…apes nian nasib mereka.

Biang Kerok Kegagalan

Berbagai upaya ditempuh peternak untuk memikat kehadiran walet. Namun, anggota keluarga Apodidae itu tetap mangkir. Mengapa semua fasilitas yang ditawarkan peternak ditampik walet?

Langkah Lahardo Palamarta dan Suhendi melabur rumah waletnya dengan putih telur tak membuahkan hasil. Habis berapa butir telur pun walet tak bakal datang, bila, “Kondisi udara terlalu kering. Beberapa ekor walet mungkin masuk, tapi mereka tak mau bersarang,” tutur DR Boedi Mranata.

Temperatur memang salah satu syarat mutlak agar walet betah. “Panas sedikit saja, dijamin walet pasti kabur,” ujar doktor Biologi lulusan Universitas Hamburg itu. Suhu ideal untuk walet 28°C. Lebih lengkap Fatich Marzuki peternak walet di Surabaya menyebut istilah kacasusu. Itu lo singkatan dari kelembapan, cahaya, suhu, dan suara koloni.

Penebaran kotoran seperti dilakukan banyak peternak sebetulnya bukan untuk merangsang indera penciuman walet. Menurut banyak pakar, walet tak mampu mencium. Namun, “Kotoran walet itu bersifat higroskopis. Ia bisa menyerap air dan menyimpannya. Dengan demikian kondisi ruangan tetap lembap,” papar Boedi Mranata.

Itulah sebabnya pembersihan kotoran secara berlebihan dan serentak juga memicu beremigrasinya walet. Soalnya,kondisi ruangan tak lagi seimbang. Kotoran dapat dibersihkan tapi sebaiknya bertahap dan digantikan dengan kolam air.

Lubang Keluar Masuk Walet Terlalu kecil

Rumah Lahardo Palamarta di Subang tak dilirik walet kemungkinan juga lantaran sempitnya lubang masuk. Dengan ukuran bangunan 12m X 5m minimum terdapat 2 lubang masuk. Untuk memancing walet masing-masing lubang berukuran 80cm X 60cm atau 60cm X 40cm.

Dengan lubang besar tersebut diharapkan seriti masuk lebih dulu. Sebab seriti jauh lebih berani ketimbang walet. Selain itu ia juga menyukai kondisi lebih terang. Lubang besar berarti cahaya yang masuk ke rumah pun semakin banyak.

Hal itu ditempuh lantaran menurut Boedi Mranata pada umumnya di Jawa rumah walet dihuni dulu oleh seriti. Bila seriti sudah bersarang peternak dapat menggantikan telur seriti dengan telur walet. Jika telur sudah menetas dan walet besar, “Kita dapat memperkecil lubang tersebut,” kata peternak walet itu.

Sedangkan kasus kaburnya seriti di rumah Sunarya Saleh bukan karena suara gaduh. Di jalan-jalan besar kendaraan lalu-lalang tak membuat seriti kabur. Yang penting asap diesel tak sampai masuk ke rumah. Adaptasi walet cukup lama sekitar satu bulan. Bila kondisinya sesuai, ia akan bersarang tapi jika sebaliknya walet akan kabur.

Referensi

[1] 24 Penyakit Karena Burung Walet. http://lipi.go.id/berita/single/24-Penyakit-Karena-Burung-Walet/2732. Accessed 28 Oct. 2021.

Halaman terakhir diperbaharui pada 28 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.