Meteor, Perkutut Jawara Baru Indonesia

Meteor memang luar biasa. Sepanjang konkurs yang digelar hingga Desember tahun lalu, ia sudah 26 kali merebut posisi jawara. Pertama kali ikut kontes di Kostrad Cup, Februari di Cilodong, Depok, langsung menyabet juara pertama. “Prestasi yang cukup spektakuler lantaran burung masih muda,” kata Gwan An, panggilan akrab Andrianto Lembono.

Pamor Meteor sebagai perkutut juara semakin menanjak. Turun di kelas best of the best pada konkurs HUT ke-58 RI di Bumi Serpong Damai, Tangerang, ia langsung menunjukkan keperkasaannya. Pada babak pertama ia menorehkan angka tertinggi. Saingannya seperti New Altis, Kobe Bryant dan Umi Kalsum dibuat tak berkutik. Mahkota juara pun diboyong burung andalan Selancar Bird Farm Surabaya itu.

Mental bertanding Meteor terus teruji di berbagai kontes. Tidak hanya di bawah terik matahari, guyuran gerimis pun tetap membuat perkutut ring WAT itu semakin gacor. Konkurs Piala Siliwangi V di Indramayu, Juni 2004, menjadi bukti keandalannya. Sejak dikerek, ternakan Wayang Bird Farm (WBF) Tasikmalaya itu langsung meninggalkan lawannya. Padahal cuaca yang tak bersahabat sempat membuat beberapa peserta lain “melempem”.

Trah unggul

Meteor, anakannya laku Rp50 juta/ ekor

Wajar kalau anak VP-577 Golden Dragon dan betina WAT-91 Darussalam itu menjadi buah bibir hobiis di seantero nusantara. Sang empunya kandang, Hendry Sobbandry, membelinya seharga Rp 140-juta. VP-577 asal VP Bird Farm adalah pejantan pilihan.

Induk betina dipilih anakan WBF asal ACC 1167A-9 dan WAT 485 Longkung. Walaupun bukan burung juara, trah Darussalam terkenal menurunkan suara tengah yang menekan dan irama stabil. Sampai saat ini kandang Golden Wayang yang menelurkan Meteor banyak diincar orang. Hobiis harus rela inden anakannya seharga Rp25 juta.

Sejak piyik, Meteor sudah menunjukkan kualitas burung juara. “Saat berumur 4 bulan diprediksi burung inijMeteor, red) bakalan jadi juara,” ujar Gwan An pada Trubus saat ditemui di konkurs HUT ke-47 P3SI di Cilodong, Depok, Juni tahun ini Meteor pindah kandang ke Surabaya pada pertengahan tahun.

Soemarjoto, pemerhati perkutut di Jakarta juga mengakui, Meteor memiliki jenis suara yang khas. ’’Suaranya perpaduan antara ayu dan kristal, jarang di Indonesia ada perkutut yang memiliki jenis suara seperti Meteor,” ujarnya.

Keistimewaan lain, ’’Meteor itu tipe fighter dan mampu bertanding di segala cuaca. Perkutut lain suaranya tidak stabil. Minggu ini manggung bagus, minggu depan mandeg.” kata Abdus Syukur, mekanik Selancar BF Surabaya.

Prestasi tinggi membuat meteor diburu kolektor. Peternak besar dari Thailand Selatan, Vichai, pernah menawar hampir Rp 1-miliar untuk memboyong sang jawara. Namun, Gwan An tak berniat melepasnya.

Perawatan intensif

Selain trah juara, Meteor menjadi yang terbaik karena dirawat intensif. Satu minggu sebelum bertanding dikarantina. Sangkar dikerek setiap hari untuk melatih mental. Pola makan diatur supaya tidak kelebihan bobot tubuh yang akan berpengaruh pada kualitas suara. Tiga hari menjelang lomba, diberikan jamu khusus, agar suara tambah merdu.

Walaupun begitu, Meteor pernah mogok bunyi di kontes Agrobur Cup di Bali pada tahun lalu. Nyaris hanya di babak akhir ia unjuk gigi. “Mungkin sedang tidak mood,” duga Abdus.

Kini sang jawara disandingkan dengan betina Selancar Bumi Putera (Roberto x WAT Darussalam). Roberto adalah perkutut yang pernah kondang di era 2000-an. Harga inden anakannya Rp-50 juta per ekor. Sudah 11 anakan yang dihasilkan. Dua di antaranya tetap dipelihara di kandang selancar BF karena kualitasnya mirip Meteor. Sisanya sudah laku dijual. Sayang, keinginan untuk menyaksikan anakan Meteor beraksi di lomba harus ditunda, karena sampai sekarang belum ada yang diikutsertakan di kontes.