Budidaya Tani

Naga Merah Menguak Pasar

Setumpuk dragon Fruit di lemari pendingin pasar swalayan Hokky baru saja selesai ditata. Para pengunjung yang sejak tadi sabar menanti segera mendekat lantaran tertarik daging merah buah dibelah yang menggiurkan. Dalam sekejap Hylocereus costaricensis dalam rak itu ludes berpindah ke masing-masing keranjang pembeli. Padahal, harga jual relatif mahal Rp24.000 per kg terdiri atas 2 3 buah.

Pada waktu hampir bersamaan pemandangan 1 serupa terlihat di pasar swalayan Hero di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Sepuluh karton masing-masing berisi 12 kg naga merah berdaging putih membukit di dekat rak buah-buahan impor. Keluar dari dus buah kaktus H undatus ditata rapi bersanding dengan apel, jeruk, dan pir. Tak sampai 2 jam isi seluruh dus tandas.

Wajar saja buah naga laris manis. Waktu itu sekitar awal Februari, suasana Imlek masih terasa. Kaktus madu sebutan di Malaysia banyak dicari etnis Tionghoa untuk dijadikan buah persembahan kepada para dewa, la diyakini membawa berkah sehingga selalu diletakkan di altar diapit 2 patung naga berwarna hijau. Dari kebiasaan itu muncul istilah thang loy bahasa Vietnam yang artinya buah naga.

Cuma pelengkap

Menurut Amin Tanjung, pemilik Hokky, lonjakan penjualan menjelang Imlek mencapai 30 sampai 40% dibanding hari-hari biasa. Buah naga pun dipersembahkan kepada para dewa pada tanggal 1 dan 15 setiap bulan dalam upacara sembahyang. Buah naga salah satu favorit di samping jeruk.

Wajar bila Hero memprioritaskan penyediaan buah naga di toko-toko dekat pemukiman warga keturunan Tionghoa. Misal toko di Sunter, Mal Taman Anggrek, dan Pondok Indah di Jakarta, Pajajaran, Bogor, Kopo, Bandung, serta Samarinda. Selain alasan budaya, keterbatasan pasokan jadi kendala memenuhi permintaan di seluruh toko.

Di luar itu dragon fruit dicari sebagai buah segar. Kandungan gizi dipercaya penyeimbang gula darah, pencegah kanker usus, dan penurun kolesterol, la juga kaya vitamin dan mineral dengan 48% kandungan energi sehingga dijuluki wonderfully nutrious. Ia tetap dijajakan meski tidak ada perayaan berkaitan dengan etnis Cina.

Salah satu toko buah di Jakarta Barat sanggup menjual 150 sampai 200 kg per bulan di luar Imlek. Di sana buah naga dimasukkan kategori fancy fruit berbarengan dengan kiwi, asam manis, dan plum. Artinya ia hanya sebagai buah pelengkap. Namun, harus selalu tersedia karena konsumen tetap mencari meski jumlah pembelian sedikit.

Pasar swalayan Alfa dan Chandra di Lampung juga menyediakan buah naga. Sebanyak 20 kg per minggu dragon fruit habis dibeli konsumen Gelael di Semarang. Di toko itu ia sering kosong di rak. “Sehari saja kadang langsung ludes,” kata salah seorang staf.

Lokal Makin dicari

Buah naga di toko-toko itu sebagian besar impor. Hokky memasukkan dari Vietnam sejak 1994. Semula hanya 1 ton per bulan, itu pun tidak rutin. Kini pasokan rutin 2 ton per bulan. Negara di kawasan Indocina itu memang produsen terbesar. Selain Vietnam, Thailand dan Singapura juga eksportir buah surga itu.

Menurut data Badan Karantina Tumbuhan impor buah naga baru tercatat pada 2000 sebanyak 500 kg dari Vietnam. Jumlah itu melonjak pada 2001 sebanyak 25 ton dalam 27 kali pengiriman. Duapuluh lima di antaranya dikirim via Singapura. Pada 2003 tercatat 15 ton buah naga asal Vietnam masuk.

Di tengah-tengah dominasi impor, panen dari kebun lokal mulai menyeruak pasar. Jumlahnya memang masih sangat terbatas dan belum kontinu. Sepanjang Desember Maret gerai Hokky diisi dragon fruit asal 2 kebun di Pasuruan dan Jombang. Jenisnya dragon fruit berdaging putih harga pada Maret Rp 18.500 per kg, berdaging merah, Rp24.000.

Sosok buah mirip impor. Malah warna lebih cerah dan penampilan lebih segar. Lagipula lebih manis lantaran buah dipetik matang pohon. “Makanya kalau ada yang lokal saya pilih lokal,” tutur Amin. Daya tahan impor hanya 2 sampai 3 hari sebelum surai menghitam. Sementara produksi lokal tahan hingga 5 hari, bahkan 2 minggu bila disimpan di lemari pendingin.

Hero membutuhkan produksi lokal untuk mengisi kekurangan pasokan impor. Saat ini Hero hanya mendapat pasokan 0.2 sampai 1 ton per bulan. Jumlah itu untuk dibagi-bagi ke 6 gerai. Praktis jumlah pasokan sangat minim ketimbang permintaan konsumen. Sekadar contoh gerai di Mal Taman Anggrek membutuhkan 400 sampai 500 kg menjelang Imlek lalu.

Tren berkebun

Cegah kanker, penyelmbang gula darah

Peluang itu antara lain ditangkap Vincent Edi Yasin. Pengusaha suku cadang kendaraan itu membuka kebun 2 ha di Wonosalam. Jombang sejak 2002. Total jenderal terdapat 500 dragon fruit berdaging merah yang dirambatkan di 125 tiang beton.

Januari silam pemilik WAL Nature Farm itu menuai hasil. Selama panen raya yang berakhir pada Maret ia memasok 100 kg per 2 minggu ke Hokky. mengirimkan 800 kg senilai Rp20.000 per kg.

Sapta Surya memperluas kebun dari 3 ha menjadi 13 ha. Selain dragon fruit berdaging putih, kebun di jalur wisata menuju Gunung Bromo itu ditanam H polyrhizus berdaging merah tapi berukuran kecil dan Selenicereus megalanthus si kulit kuning berdaging putih.

Masih di Jawa Timur, Soebijanto menanam 600 H undatus. Panen perdana diperkirakan pada Agustus. Langkah ayah 2 anak itu diikuti Jatmiko yang menanam 300 pohon, Mustamin 450 pohon. Bukan tanpa alasan para pekebun pepaya itu beralih menggeluti buah naga. Harga jual tinggi salah satu daya pikat, lagipula umur produksi panjang.

Yang melirik peluang itu tak melulu investor perorangan. Pemda Kabupaten Jember membuka kebun seluas 2 ha di Kecamatan Arjasa. Buah naga berdaging putih ditanam merambat pada kayu gamal lebih murah ketimbang tiang beton dengan jarak tanam 3 m x 2,5 m. “Buah naga bernilai ekonomis cukup bagus sehingga diharapkan bisa menjadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah, red),” urai Hari Widjajadi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jember. Akhir tahun ini ia berharap sudah menuai hasil.

Banjir

Tren berkebun pun marak di luar Jawa Timur. Di Lampung dikebunkan buah naga berdaging putih. Hasil panen sudah dijajakan toko buah milik Akuang di Muarakarang, Jakarta Utara. Saat Trubus berkunjung ke kebun Jolo Sutro Nusantoro milik Sapta Surya, Mangindaan baru saja membeli 50 bibit. “Ini untuk saya coba dulu sendiri, kalau berhasil bani disebarkan pada masyarakat sekitar,” kata pastor GMIM Tenga, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa itu.

Seorang investor asal Singapura melayangkan permintaan bibit dragon fruit berdaging merah kepada Multi Inovasi Mandiri (MIM) produsen bibit di Mojokerto. Dari 100 ha rencana penanaman di Batam, baru terealisir pengiriman 10.000 bibit setara 1,5 ha. Meski tidak terdata dengan baik, bibit dari kebun milik Mr Liuw di Tangerang sudah menyebar ke berbagai daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa pemerintah daerah mulai mengikuti jejak Kabupaten Jember. Sebut saja Pemda DI Yogyakarta yang melakukan studi banding ke kebun diRembangan sebelum memulai penanaman. Dengan umur panen dari bibit rata-rata 1 tahun 2 bulan Vincent memperkirakan 2 tahun ke depan pasar banjir dragon fruit lokal.

Bisnis bibit

Toh, sampai sekarang belum ada pekebun yang mengaku sudah menuai untung. Maklum budidaya buah naga di Indonesia terbilang baru. Gemerincing rupiah justru mengalir deras ke kantung para pembibit. “Permintaan bibit sekarang sedang kencang,” kata Hariyanto, pemilik MIM. Setahun silam permintaan hanya 5.000 bibit per bulan, sejak awal 2003, 40.000 per bulan, yang sanggup dipasok 25%.

Sepanjang Januari hingga pertengahan Maret MIM memasarkan 25.000 bibit ukuran 10 sampai 30 cm. Padahal harga terbilang mahal dihitung per cm. Bibit buah naga berdaging putih ditawarkan Rp2.000, daging merah, Rp5.000, kulit kuning, Rp6.000 per cm. Wajar omzet penjualan selama 2002 mencapai angka 9 digit. Stok 25.000 sampai 30.000 bibit di lahan 3.000 m2 di kebun Liuw pun ludes dalam 3 bulan.

Wajar saja pembibit menangguk banyak untung. Usaha itu nyaris tanpa modal dan perawatan. Bahan bibit bisa diambil dari batang, sulur, dan tunas tanaman. Dipotong dengan panjang tertentu lantas ditancapkan di media campuran pasir dan kompos. Sekitar 2 minggu kemudian akar keluar, bibit siap dijual.

Para pekebun tak membantah bisnis bibit menggiurkan. WAL Nature Farm sudah memasarkan 6.000 bibit masing-masing setinggi 15 sampai 20 cm seharga Rp30.000. Itu habis dalam waktu 2 bulan. Dari hasil penjualan itu Vincent mengaku investasi Rp200-juta yang dibenamkan saat membuka kebun sudah tertutup.

Perlu Modal besar

Tak berarti bisnis dragon fruit tanpa batu sandungan. Kebun milik sebuah perusahaan di antara jalur Surabaya Malang kini ditumbuhi ilalang. Padahal ia salah satu pionir yang mendatangkan bibit asal Taiwan. Penampilan H undatus di Batu kelihatan kurus dan ruas pendek-pendek. Kaktus merambat itu hanya cocok tumbuh pada daerah berketinggian 0 sampai 500 m dpi, Batu sekitar 600 m dpi. Di dataran tinggi mestinya S megalanthus yang jadi pilihan.

Ketersediaan sumber air hal mutlak karena dragon fruit rakus air. Kekurangan air menghambat pertumbuhan tanaman. Lantaran kemarau panjang pada 2002 ruas-ruas buah naga di kebun Rembangan menjadi pendek-pendek.

Selain pemilihan jenis dan kecocokan lokasi, biaya investasi tinggi jadi halangan. Itu terutama untuk pembuatan tiang beton. Dengan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m berarti pekebun harus menyediakan 1.600 tiang beton per ha untuk merambatkan 6.400 bibit. Dengan biaya Rp 10.000 sampai Rp20.000 per tiang pekebun sudah merogoh kocek Rpl6-juta Rp32-juta. .

Belum lagi harga bibit mahal. Bila digunakan bibit berukuran 10 cm seharga Rp2 000 per cm, berarti dibutuhkan biaya Rpl2,8-juta. Investasi kian membengkak bila jenis tanah tidak sesuai syarat hidup kaktus. Vincent terpaksa mendatangkan bertruk-truk pasir lantaran buah naga tumbuh subur di lahan berpasir dengan porositas dan drainase baik.

Pasar lokal sebagai penampung hasil panen masih diperdebatkan. “Konsumen terbatas hanya pada kalangan tertentu di kota-kota besar,” ujar Amin. Penampilan menarik, tapi rasa asam tidak cocok di lidah. Konsumen lokal lebih suka rasa manis.

Embel-embel nilai gizi bagi kesehatan tak serta-merta membuat buah naga diterima pasar. “Jumlah konsumen yang mengerti hal itu tak banyak,” lanjut pria bersahaja itu. Ia memperkirakan peluang meningkatkan pasar hanya 50% dari kondisi saat ini. Kalau investor latah tanpa perhitungan, pasokan bakal tak terserap pasar.

Pasar ekspor

Dilirik para Investor

Mengandalkan pembelian masyarakat keturunan tidak bisa diandalkan. Menurut pemilik sebuah toko buah di Jakarta Barat, buah naga merupakan pilihan kedua setelah jeruk. “Kebiasaan etnis Tionghoa di sini, setelah disembahyangkan, buah diambil lagi untuk dikonsumsi,” tuturnya. Lantaran dragon fruit kurang manis dan harga mahal banyak yang tidak membeli lagi. Vincent mengaku saat ini ia membidik konsumen yang penasaran dan suka coba-coba.

Banyaknya kerikil tidak lantas mengendurkan niat para pekebun. Pasar ekspor terbentang luas. “Saya pernah surfing di internet. Di sana disebutkan bahwa 2.000 ha kebun di Vietnam hanya cukup untuk memenuhi 30% kebutuhan pasar Asia,” kata Sapta Surya. Sayang permintaan dari importir di Taiwan belum sanggup ia layani karena produksi. Selain Asia, Eropa dan Amerika Serikat pasar potensial.

Meski demikian optimisme menggarap pasar lokal tetap ada. Asalkan buah yang ditawarkan benar-benar manis. Promosi kandungan gizi pada masa yang akan datang bisa mengangkat penjualan. Pasalnya, konsumen yang mengidamkan hidup sehat secara alami kian bertambah.

Kalaupun menjual sebagai buah segar sulit, dragon fruit bisa ditawarkan sebagai tanaman bagus-bagusan. Tiga empat tanaman ditumbuhkan di dalam pot. Dirawat selama 1 tahun menghasilkan buah menggelantung di ujung-ujung sulur. Itu laku dijual minimal Rp 1,5-juta per pot. Terbukti 200 pot berbuah lebat di gerai MIM di Mojokerto ludes dalam sekejap.

 

Yudi Anto