Orchid Show: Vanda Deja Vu

Bunga berwarna biru cerah bermotif bintik-bintik biru tua membuat penampilan robert delight ‘purple blue’begitu menawan. Biru membedakan vanda itu dari saudaranya yang ungu. Kuntum bunga selebar piringan cakram memenuhi tangkai sepanjang 30 cm. Wajar bila si biru kebanggaan Gatot Sugiharto, kolektor vanda di Malang, itu meraih juara pada Surabaya Orchid Show.

Robert delight ‘purple blue’ digantung bersama belasan pot vanda di teras belakang rumah di kawasan JI Gatot Subroto, Malang. Selain sang juara, juga tampak fuchs delight x kasem delight, gordon delight x fuchs gold, dan ascda suksamran gold ‘kuning’.

Saat mekar, vanda-vanda itu silih berganti memperindah teras belakang. Ketika Trubus berkunjung ascda dong chai pusavat “trotol” kuning dan ascda fuchs gold x charless good fellow tengah memamerkan bunga yang indah. Lain waktu mungkin giliran Fuchs delight ping. Yang jelas mereka harus antre “bertatap muka” dengan sang empunya. Hobiis yang lebih dikenal dengan Sin Tjung itu mengoleksi sekitar 500 pot vanda. Dialah kolektor vanda terlengkap di Indonesia.

Kalau yang dipajang di teras belakang rumah hanya vanda berbunga, koleksi lain dipelihara di kebun di samping pabrik kayunya di kawasan Simpang Sonokeling, Malang. Dengan populasi 500 pot, kebun seluas 6 m x 15 m terlihat amat padat. Daun-daun tanaman saling bersenggolan. Akar-akar yang menjuntai hingga 1 m kerap melekat ke pot lain menambah sesaknya kebun.

Ascda Fuchs Gold x V. Rasri

Meski begitu tanaman tetap rajin berbunga. Setiap kali hendak pulang ke rumah, Sin Tjung mampir memilih beberapa pot yang berbunga. Kehadiran anggrek bagi hobiis sejak 1972 itu menjadi kebutuhan. Ia bisa duduk berjam-jam hanya sekadar untuk menikmati setangkai bunga yang tengah mekar.

Dua tahun

Anggrek berbunga bulat itu mulai dikumpulkan pemilik Lusiana Orchid itu. Waktu itu, ia dan isteri, Lusiana, mengunjungi pameran East.Java Orchids Show di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Ketika melihat vanda berbunga besar dan semarak, kenangan lama kembali menggelitik. Sebelum 1985 ia sempat mengebunkan anggrek seluas 1,6 ha. Sayang, karena sibuk berbisnis, hobi itu kemudian ditinggalkan. Satu per satu anggrek dijual dan diberikan cuma-cuma kepada kenalan.

Namun, begitu melihat vanda nan elok, kelahiran Malang 51 tahun silam itu langsung jatuh cinta. Berawal dari pameran anggrek itulah, niat untuk mengoleksi vanda tak terbendung lagi. Semua kenalannya sesama hobiis di wanti-wanti agar menghubungi dia pada kesempatan pertama saat membawa anggrek dari luar negeri. “Begitu tiba kami langsung meluncur untuk melihat dan memilih,” ujar Sin Tjung. Ia sangat khawatir didahului orang lain. Lusiana hapal betul pada angrek-angrek koleksinya. Tidak hanya sifat-sifatnya tapi juga harga masing-masing saat membeli.

Sebagai kolektor, pasangan suami isteri itu sangat telaten merawat vanda. Tak heran, penampilan anggrek koleksinya begitu prima. Terbukti robert delight ‘purple blue’ yang dilombakan meraih juara pada Surabaya Orchids Show. Anggrek itu kemudian ditawar hobiis dari Jakarta senilai Rpl-juta, tapi ditampiknya. “Tidak mudah mendapatkan jenis istimewa,” kata Sin Tjung (Syah Angkasa).

Halaman terakhir diperbaharui pada 15 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.