Budidaya Tani

Pamelo Special Dari Negri Gajah Putih

“Ini murah hanya 70 baht,” tutur Orawan sambil menimang-nimang p amelo seukuran kepala bayi. Wanita paruh baya itu tengah merayu calon pembeli yang baru turun dari mobil agar tak berpaling ke pedagang lain. Di sepanjang jalan Nakhonpathom menuju Bangkok berjejer tak kurang 50 pedagang kaki lima menjajakan buah yang sama.

Dibanding jeruk besar sejenis di tanah air, harga 70 baht atau setara Rp14.000 per buah terbilang mahal. Di Jakarta, pedagang yang kerap membawanya dalam keranjang di atas sepeda hanya menjual Rp7.500 per buah. Padahal bobotnya sama, 1 sampai 1,2 kg/buah. Artinya lebih mahal ketimbang sebuah durian berukuran sedang dengan bobot 2 sampai 3 kg. Harga durian di Nakhonpathom Rp4.000 sampai Rp5.000/kg.

Tak heran jika pamelo menjadi pilihan banyak pekebun untuk diusahakan. Bahkan beberapa pekebun mengganti tanaman durian dengan pamelo. Ketika Kami berkunjung ke negeri Gajah Putih itu, akhir Juli, sejauh mata memandang onggokan jeruk di atas dus memenuhi setiap ruas jalan. “Agustus memang panen raya pamelo, sehingga Anda bisa melihat pamelo terhampar di mana-mana,” ungkap Suraphong Bun Peat, pekebun di Don Pak, Nakhonpathom.

Pamelo Thong ter favorit

Pamelo dibudidayakan di sebagian besar provinsi Thailand. Sebut saja Nakhonnayok, Pracinburi, Ley, Chiangrai, Suratthani, Trat, dan Chonburi. Pekebun mengusahakan dalam skala luas baik secara perorangan maupun berkelompok. Kami menemukan kelompok tani pamelo di Don Pak, Nakhonpathom. Lahan seluas 144 ha berisi 31.500 pohon tengah digelayuti buah. “Ini milik 40 anggota,” ujar Mongkhan Khemcan, ketua kelompok.

Tanaman berumur rata-rata 10 tahun itu dipelihara intensif. Jarak tanam teratur 6 m x 7 m. Parit selebar 40 cm membelah baris tanaman. Itu persyaratan standar kebun pamelo untuk mencegah genangan air yang mematikan tanaman. Dengan parit itu pula kebutuhan air tercukupi, terutama saat tanaman berbuah.

Mongkhan dan teman-teman mengatakan beruntung bisa menanam pamelo. Menurut mereka tidak semua daerah cocok untuk pengembangan jeruk besar itu. Bahkan untuk jenis-jenis tertentu menghendaki lokasi spesifik. Itulah sebabnya masing-masing daerah punya jenis pamelo andalan. Don Pak, misalnya, agroklimatnya sesuai untuk jenis thong di.

“Kebetulan thong di jenis yang paling diminati,” tambah pria 52 tahun itu.

Di Thailand ada sekitar 15 jenis pamelo yang banyak dibudidayakan. Diantaranya khao yai, khao -tang kwa, khao phuang, dan khao hom. Namun, yang paling populer thong di dan khao namphung. Thong di (thong = emas, di = bagus) penampilannya menarik. Daging kuning kemerahan, berair, manis agak masam disukai importir. Sedangkan khao namphung (khao = putih, namphung = madu) berdaging putih, berair, dan manis tanpa asam lebih untuk konsumsi lokal.

Bernilai Ekonomis tinggi

Dirawat intensif

Dibanding durian, kepopuleran pamelo memang masih kalah. Namun, dari segi omzet cukup menggiurkan. Buktinya, Seam Chimchanawech, pekebun di Nonthaburi bergeming dari pamelo. Dulu ia mengebunkan durian. Ketika kebunnya luluh lantak dilanda banjir, ia menggantinya dengan pamelo.

Awalnya hanya menanam 10 pohon. Setelah ternyata pasar bagus dan nilai jual cukup tinggi, 3 ha bekas lahan durian semuanya ditanami pamelo.

Bun Peat Surapong setiap tahun memetik 40 sampai 60 buah dari pohon berumur 6 tahun. Bobot rata-rata 1 kg. Harga setiap kilogram Rp 10.000. Kalau 1 ha ditanami 220 pohon, pendapatan pekebun Rp88-juta sampai Rp 130-juta/tahun. Tapi itu belum memperhitungkan sewa lahan dan gaji pengelola,” tutur Bun.

Pria berkulit gelap itu memasarkan 50% pamelonya ke eksportir dan sebagian lagi ke pedagang lokal. Harga sama, cuma untuk ekspor perlu persyaratan khusus, bobot buah 1 kg, kulit mulus, dan tua. Sementara pasar lokal, bobot tidak ditentukan, yang penting penampilan tidak terlalu buruk. Itu semua bisa dipenuhi dengan perawatan intensif. Misal, pemupukan 2 kali setahun, sejak pentil buah muncul disemprot pestisida seminggu sekali, dan dipangkas setelah panen.

Karena kualitas cukup baik pamelo Thailand melanglang buana ke Kanada, Hongkong, dan RRC. “Di sana pamelo dijual di pasar-pasar swalayan,” ungkap Wajaree, eksportir buah-buhan. Pemilik Wajamon Co. Ltd di Talad Thai, Pathumthani, itu setiap tahun mengirim 40 kontainer ke mancanegara. Setiap kontainer berisi 100 boks masing-masing berisi 10 sampai 20 buah. Ia mendapat pasokan buah berkulit tebal itu dari provinsi Nakhonpathom, Samutsongkhram, dan Pathumthani.

Pandu Dwilaksono