Budidaya Tani
Biwati

Pamerkan Buah Loquat di Kaki Arjuna

Cita rasa loquat yang manis asam dengan aroma tajam begitu membekas di benak Vincent Edi Jasin. Terkesan dengan cicipan pertama di Cina, ia mengulangnya di kala berkunjung ke Jepang.

Ketika melihat pohonnya tumbuh di halaman rumah seorang sahabat di Kalifornia, serta-merta ia merayu agar bisa memboyong ke tanah air. Sebagai ganti 5 pohon dragon fruit daging merah miliknya ia relakan.

Pertama kali Vincent merasakan buah Eriobotrya japanese itu saat disuguhi rekan di Cina. Sambil minum teh dan ngobrol santai, tangan mereka mengupas kulit buah berwarna kuning oranye. Hap…, daging kuning dan lembut sebesar pinang dimasukkan ke mulut. Rasanya manis menyegarkan karena berair banyak.

Perkenalan ayah 2 anak itu dengan loquat berlanjut di Jepang, Di sebuah toko buah di Tokyo, ia melihat anggota famili Rosaceae itu disusun dalam kotak kecil berisi 6 buah. Warnanya kuning kemerahan. Ketika dikupas, air segera menetes membasahi tangan.

Genjah

Rasa biwa sebutannya di Jepang manis tanpa masam. Dibandingkan loquat jepang, “Saya lebih senang loquat cina karena lebih segar,” tutur direktur PT Dianbatara Perkasa, perusahaan spare part motor dan mobil di Surabaya.

Lima pohon yang didapat dari rekan di Kalifornia semula ditanam di Wonosalam, Jombang, pada ketinggian 350 m dpi. Rupanya, suhu terlalu panas sehingga pertumbuhan merana, bahkan 3 pohon mati. Yang masih selamat dipindahkan ke Claket, Trawas, Mojokerto, pada ketinggian 1.000 m dpi.

biwa umur setahun
Koleksi Vincent, biwa umur setahun sudah berbunga dan berbuah

Tak sampai 1 tahun tanaman di kaki Gunung Arjuna itu mulai berbunga. Padahal, tinggi masing-masing baru 50 dan 70 cm. Vincent berharap pada akhir tahun ia bisa memanen buah.

Tradisi minum teh

Cina dipercaya sebagai daerah asal lo kwat (baca luh-kwat) sebutan dalam bahasa Kanton. Lo, nama sejenis pohon dan kwet, oranye. Sehingga ia diartikan pohon berbuah oranye. Masyarakat di lembah Sungai Daduhe sudah menanam sejak awal masehi. Di daerah yang terletak di bagian tenggara Cina itu ditemukan 14 spesies dari genus Eriobotrya dengan 100 varian. Spesies asli itu berbuah kecil dengan rasa manis masam.

Meski buah bisa dimakan segar, penduduk negeri Tirai Bambu itu lebih suka memanfaatkan loquat sebagai penghias halaman rumah. Pohon setinggi 3 sampai 6 m tetap hijau pada musim salju. Begitu musim dingin berakhir, bunga-bunga pun bersemi.

Buah yang kecil dan lebat dipanen pada April. Bila berjalan-jalan di Cina tenggara pada waktu itu halaman rumah penduduk tampak semarak dengan buah berwarna kuning oranye. Biwa jadi buah pertama yang dinikmati setelah salju mencair.

Varietas baru
Varietas baru lebih manis dan besar

Ketika varietas berbuah besar dan manis ditemukan,ini yang Vincent cicipi mulailah loquat berkembang. Muncullah tradisi makan buah oranye itu sambil minum teh yang berlangsung hingga sekarang. Daun dan buah dimanfaatkan pula sebagai obat untuk mengatasi gangguan pencernaan dan batuk.

Mendunia

Lantaran banyak manfaat, Jepang pun tertarik mengembangkan sejak 1.000 tahun silam. Di negeri Matahari Terbit itu, biwa tumbuh sebaik di Cina karena iklim sesuai. Karena bentuk buah mirip plum ia kerap disebut japanese plum. Sebagian lain menyebut japanese medlar.

Pada abad ke-18, penyebaran loquat meluas hingga ke Hawaii, Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Afrika, Indonesia, dan Australia. Di Hawaii ia tumbuh di lereng-lereng gunung karena bijinya diterbangkan burung. Malah karena terlalu agresif tumbuh, ia kerap dianggap gulma.

Di Eropa, biwa banyak ditanam di Perancis, Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Portugis. Di Perancis populer dengan sebutan neflier du japon, atau bibassier. Masyarakat negeri pizza menyebutnya nespola giapponese; Jerman: japanische mispel atau wollmispel, Spanyol: nispero, nispero japones, atau nispero del japon, dan Portugis ameixa amarella atau ameixa do japao. Meski menyebar ke segala penjuru dunia, populasi terbanyak tetap di negara Tirai Bambu mencapai 70%.

Varietas Lokal

Dari jenis lokal Cina muncul varietas unggul baru di Jepang, Israel, India, Amerika Serikat, Australia, pun Cina. Di negeri Sakura jumlahnya mencapai 800 varietas, meski yang unggul hanya 46 jenis. Beberapa varietas unggul baru yang sesuai selera masyarakat mulai dikebunkan.

“Konsumen Jepang suka biwa yang bila kulitnya dibuka, air segera menetes,” ujar Vincent. Keluarlah akko 1, akko 13, kasunoki, mizuho, dan tanaka. Cina bolehjadi pemilik populasi terbesar di dunia, tetapi dari segi produksi Jepang memimpin dengan 17.000 ton/musim.

India tak ketinggalan menghasilkan varietas ahdar, ahmar, asfar, golden yellow, improved, large agera, large round, matchless, pale yellow, safeda, dan thames -ride. Di Australia ada glenorie superb, herd’s mammpoth, mammoth, swells enormity, dan victory.

Kalifornia mengandalkan golden red, pineapple, dan premier. Mesir golden ziad, maamora golden yellow, Israel: saint michell dan mfin 8. Florida mengunggulkan Oliver, Brazil: precoce de itaquera dan mizuho.

Varietas baru lebih manis dan besar

Dengan adanya varietas-varietas baru itu kini loquat bisa dimakan sebagai buah meja. Ia disejajarkan dengan plum, pir, apel, dan aprikot. Bisa juga dijadikan salad, jus, atau wine. Ia pas sebagai penghias tart menggantikan aprikot atau dikalengkan setelah kulit dikupas. Dibuat sirup juga oke.

Dari Belanda

Bila di negara-negara lain berkembang varietas baru, Indonesia tetap puas dengan buah peninggalan Belanda. Bibit dari negeri Kincir Angin itu yang pertama kali ditanam di Kebun Raya Cibodas pada akhir abad ke-18. Dari sana, kerabat mawar itu menyebar ke daerah dingin lain seperti Garut dan Brastagi.

Di tanah Sunda ia disebut lokat atau lokwat; Berastagi, biwah. Sosok buah di 2 daerah itu lonjong dengan rasa masam. Makanya, penanaman tidak meluas. Ceritanya akan lain bila loquat milik Vincent nanti berproduksi. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment