Budidaya Tani
budidaya jamur

Pasar Jamur Tiram Kian Terbentang Luas

“Jamur tiram tak sulit dipasarkan,” kata Maman Rusmana, ketua Asosiasi Sentra Jamur Tiram Cisarua, Lembang. Pernyataa itu bukan tanpa alasan. Dari sana setiap hari 40 sampai 80 ton jamur tiram habis terserap pasar di berbagai kota. Namun, belum semua permintaan terpenuhi. Harry Tjurigo, produsen di Ciloto, Cipanas, juga hanya sanggup mengirim 400 sampai 600 kg dari 2 ton yang harus dipasok ke Jakarta setiap hari.

Matahari belum keluar dari peraduannya. Namun, sepasang mata pekerja di kumbung itu sudah asyik mengamati jamur yang keluar bag log. Jamur siap panen pun segera dipetik. Dalam sekejap tiram itu masuk tray untuk dibersihkan, lalu disortir sesuai kelas mutu. Sesaat kemudian ia dikemas dalam kotak styrofoam berkapasitas 3 kg.

Bagai berburu waktu, jamur putih dalam kemasan itu pun langsung diangkut ke dalam mobil yang menanti di luar kumbung, siap dikirim ke Jakarta. Paling tidak 2 kali sehari rumah jamur di Ciloto, Jawa Barat, itu memasok pelanggan di ibukota. Pagi sebelum sang surya terbit dan sore menjelang malam.

Pasokan makin ditunggu

Harry Tjurigo, pemilik rumah jamur itu memang terikat kontrak. Ia diminta memasok 2 ton/hari tiram selama 2 tahun, tapi hanya sanggup dipenuhi 25%-nya. Produksi 14 kumbung berkapasitas total 165.000 log itu hanya mencapai 400 sampai 600 kg/hari.

Saat Budidaya Tani berkunjung akhir Agustus, malah hanya sekitar 200 kg saja yang siap panen. Padahal, selain pasokan wajib, permintaan masih datang dari pedagang lain. “Total jenderal order yang masuk mencapai 6 ton/hari untuk pasar Jakarta,” papar Teguh Yuwono, penanggungjawab rumah jamur.

Tak jauh dari tempat itu, Herry juga kewalahan memenuhi permintaan. Dari 3 kumbung berkapasitas masing-masing Matahari belum keluar dari peraduannya. Namun, sepasang mata pekerja di kumbung itu sudah asyik mengamati jamur yang keluar bag log.

Jamur siap panen pun segera dipetik. Dalam sekejap tiram itu masuk tray untuk dibersihkan, lalu disortir sesuai kelas mutu. Sesaat kemudian ia dikemas dalam kotak styrofoam berkapasitas 3 kg.

Bagai berburu waktu, jamur putih dalam kemasan itu pun langsung diangkut ke dalam mobil yang menanti di luar kumbung, siap dikirim ke Jakarta. Paling tidak 2 kali sehari rumah jamur di Ciloto, Jawa Barat, itu memasok pelanggan di ibukota. Pagi sebelum sang surya terbit dan sore menjelang malam.
panen jamur

Pasokan ditunggu

Harry Tjurigo, pemilik rumah jamur itu memang terikat kontrak. Ia diminta memasok 2 ton/hari tiram selama 2 tahun, tapi hanya sanggup dipenuhi 25%-nya. Produksi 14 kumbung berkapasitas total 165.000 log itu hanya mencapai 400 sampai 600 kg/hari.

Saat Budidaya Tani berkunjung akhir Agustus, malah hanya sekitar 200 kg saja yang siap panen. Padahal, selain pasokan wajib, permintaan masih datang dari pedagang lain. “Total jenderal order yang masuk mencapai 6 ton/hari untuk pasar Jakarta,” papar Teguh Yuwono, penanggungjawab rumah jamur.

Tak jauh dari tempat itu, Herry juga kewalahan memenuhi permintaan. Dari 3 kumbung berkapasitas masing-masing 7.000 log, mantan pengusaha garmen itu hanya sanggup memproduksi 40 sampai 50 kg/ hari. Artinya hanya 10% yang bisa dipenuhi dari total permintaan pedagang di Pasar Cisarua, Bogor, dan Jakarta yang mencapai 500 kg per hari.

Jamur tiram memang bak kacang goreng. “Banyak pasar menanti pasokan,” papar Maman Rusmana. Malah, jamur produksi 180 anggota Asosiasi Sentra Jamur Tiram (ASJT) Cisarua, Lembang tak cukup memenuhi permintaan.

Tak heran jika jamur dari petani lain di seputaran Lembang dan Pangalengan ditampung. “Seratus ton per hari pun masih sanggup kami pasarkan,” lanjut ketua ASJT itu.

Hal sama dirasakan Haji Iskandar, juga di Cisarua. “Sejak terjun 4 tahun silam, saya tak sulit melempar tiram ke pasar.” tuturnya. Malah, untuk memenuhi permintaan ia membina 8 petani. Setiap petani memiliki 20.000 log dengan produksi 40 sampai 50 kg/hari.

Pun Rahmat, petani jamur di Parongpong, Bandung. Ia merekrut 8 anggota. Para anggota kelompok Citra Jamur Lestari itu cukup menyiapkan kumbung. Bag log dipasok Rahmat dari hasil panen ditampung. Itu semata-mau untuk memenuhi permintaan pasa-Sukabumi dan Bandung masing-masing 300 kg dan 200 kg per hari. Sebab produksi dari 9 kumbung milik sendiri hanya 100 kg/hari.

Kurang pas

Iwan Wilyanto, pengusaha jamur kuping di Yogyakarta “terpaksa” ikut bermain jamur tiram lantaran ada permintaan pasar. Awal 2020 CV Wanandi Multifarm miliknya mendapat order 2 ton tiram per hari dari Jakarta. Selain segar, diminta juga tiram dalam bentuk tepung.

Sayang, lokasi usaha di kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta, kurang pas sehingga ia menggandeng Harry Tjurigo. “Selain lebih dekat dengan pasar, Ciloto lokasi kumbung Harry lebih pas untuk budidaya tiram dibanding Kaliurang,” ungkapnya. Ciloto berketinggian di atas 1.200 m dpi sehingga cukup sejuk untuk penanaman jamur tiram. Kaliurang di bawah itu.

Iwan bertanggung jawab memasok bibit. Sejak Maret lalu 4.000 sampai 4.500 log tiram diproduksi setiap hari. “Sesuai kontrak, minimal kami harus memasok 50.000 sampai 60.000 log per bulan ke Ciloto,” ungkap ayah 2 putra itu. Bibit dikirim 3 sampai 4 kali seminggu, sekali kirim 5.000 sampai 8.000 log.

Meski lokasi tak cocok CV Wanandi Multifarm tetap memproduksi jamur tiram di 2 kumbung berkapasitas masing-masing 8000 bag log. Itu untuk memenuhi pasar lokal seputaran Yogyakarta. Di sana tiram juga cukup laris. Buktinya, hasil panen 50 kg/hari dengan mudah dipasarkan. “Setiap hari ada pedagang lokal yang mengambil ke sini,” ungkap R. Budi Antoro, manajer produksi.

Prospek yang Menguntungkan

Budidaya jamur tiram memang menggiurkan. “Keuntungannya jauh lebih tinggi dibanding sayuran,” kata Maman Rusmana yang pernah ikut menanam sayuran. Menurutnya, dengan harga Rp3.000/kg sebenarnya ia sudah balik modal.

Sebab, setiap bag log menghasilkan minimal 0,4 kg per periode. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg tiram, hanya diperlukan 2,5 bag log saja.
Ditambah biaya perawatan lain, ongkos produksi hanya senilai Rp2.500 sampai Rp3.000. Tak heran dengan harga jual Rp4.500/kg pun banyak yang tertarik merrfbudidayakan. Apalagi untuk mengusahakannya bisa di lahan sempit. Untuk skala keluarga, 8.000 sampai 10.000 bag log, hanya butuh ruangan 8 m x 3 m.

Perhitungan Harry dengan harga Rp5.000 per kg, petani jamur memperoleh untung hingga 100% selama 4 bulan. “Selain untung tinggi perputaran uang juga berlangsung cepat,” ucapnya. Apalagi harga tiram sejak dulu relatif stabil.

Tak salah bila Winarti Kusumohardjo meliriknya. Petani tiram di Pondoklabu, Jakarta Selatan, itu memanfaatkan lahan pekarangan seluas 250 nr untuk menanam tiram. Ia membangun kumbung seluas 2 m x 4 m berkapasitas 1.000 bag log. Usaha yang digelutinya sejak 2001 itu membawa hasil. Setiap hari 3 sampai 5 kg jamur tiram dipanen. Dengan harga jual Rp10.000 sampai Rp12.000 per kg, minimal Rp30.000 per hari masuk dompetnya.

Bibit jamur makin laris

Banyaknya orang melirik budidaya tiram juga tercermin dari penjualan bag log di Wanandi Multifarm. Dari rata-rata produksi 120.000 bag log/bulan semuanya terserap pasar. “Sekitar 60% dari total produksi dipakai sendiri, selebihnya dipasarkan ke Surabaya, Wonosobo, Semarang, Purwodadi, dan Denpasar,” ujar
Iwan.

Permintaan bibit tiram dari berbagai kota juga mengalir ke produsen bibit di seputaran Bandung, Cianjur, dan Lembang. Contohnya Rahmat, setiap hari memproduksi bibit 1.500 bag log. Selain untuk memenuhi kebutuhan anggota, ia juga mengisi pasar Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Menurut Rahmat, dengan harga Rp 1.000 sampai Rp1.300/kg, keuntungan yang diraup minimal 50%. Sebab, biaya produksi bag log hanya Rp600/kg. Jadi tidak hanya jamur tiram yang menggiurkan. Usaha memproduksi bag log-nya juga menjanjikan. (Fendy R. Paimin/Peliput: Sardhi Durvatmo dan Nyuwan SB)

Yudi Anto

Add comment