Pasar Kakao Yang Makin Menantang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
cara menanam coklat
budidaya coklat

Meski 1.000 pekebun dihubungi, Ujang Dharsono, pengepul di Banjarsari, Kabupaten Ciamis, hanya mampu mengumpulkan 6,5 ton biji kakao kering per pekan. Padahal, permintaan sebuah industri pengolahan di Tangerang, Banten, tak terbatas. Itulah sebabnya ia angkat tangan ketika Singapura meminta pasokan 200 ton dan Surabaya 50 ton per pekan.

Ujang Dharsono memang mengandalkan pasokan kakao dari pekebun mitra yang tersebar di Banjarsari, Ciamis. Harap maklum, pria kelahiran 1969 itu hanya mengelola 1 ha lahan berpopulasi 1.100 pohon. Itu pun baru berumur 3 tahun sehingga yang berbuah 300 pohon.

Bacaan Lainnya

Setiap pekan ia cuma memetik 900 buah setara 20 kg biji kering. Selebihnya ia membeli biji kering dari mitranya dengan harga Rp9.000 sampai Rp 10.500 per kg. Biji-biji itu lantas dikirim ke pabrik di Tangerang. Labanya memang kecil, Rp200/kg. Namun, secara akumulasi laba bersih yang ditangguk mencapai Rp5,2-juta per bulan.

Yoseph Kurniawan, pekebun di Kalijaya, Kabupaten Ciamis, juga mencecap manisnya berkebun kakao. Dari lahan 1 ha, pria 35 tahun itu memetik 240 kg biji kering yang dijual Rp 10.000 sekilo.

Dari harga komoditas kakao itu laba bersih per bulan mencapai Rp2,4-juta. Nun di Sribawono, Lampung Selatan, Paidin pun menikmati keuntungan dari kakao. Dari 1 ha lahan, ia menuai 1.335 kg per tahun.

Dengan harga jual Rp9.000/kg, pendapatannya dari usaha budidaya Theobroma cacao Rpl 1,2-juta per tahun. Ia hanya menggelontorkan Rp750.000 sebagai biaya produksi per ha per tahun.

Pohon Coklat Makin Gencar dibudidayakan

pasar coklat
budidaya tanaman coklat

Mudahnya pemasaran dan harga komoditas kakao yang lumayan memadai menjadi alasan pekebun menanam kakao. Wajar di berbagai daerah banyak pekebun mengubah lahan sawah menjadi lahan kakao.

Contoh, di Desa Banjarsari, Ciamis, pada 2002 tercatat 400 pekebun dengan total luas penanaman 3.000 ha. Tiga tahun berselang muncul 1.000 pekebun yang mengelola 6.000 ha.

Secara nasional, luas lahan kakao juga meningkat. Pada 2002 total jenderal pertanaman kakao 914.051 hektar dengan produksi 571,155 ton.

Setahun berselang melambung menjadi 917.634 ha (572.640 ton). Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan, luas lahan kakao pada 2005 meningkat hingga 960.000 ha (620.000 ton).

Pekebun tertarik membudidayakan anggota famili Sterculiaceae itu juga lantaran umur produksinya panjang. “Satu kali tanam, untungnya bisa dinikmati 40 tahun,” kata Ir Sasongko, IPM, sekretaris jenderal Asosiasi Industri Kakao Indonesia.

Modal besar hanya diperlukan saat awal penanaman saja terutama bibit, pupuk kandang, obat-obatan, pembuatan lubang, dan penyiangan.

Perawatan kakao relatif mudah, tak perlu pemupukan dan penyemprotan hama secara intensif layaknya tanaman sayuran. Bahkan penanamannya bisa dilakukan tumpangsari dengan komoditas seperti pisang, durian, atau jati. “Keuntungan dari komoditas lain lebih dari Rp 1-juta seminggu,” kata Yoseph yang menumpangsarikan tanaman kakao dengan kelapa, durian, petai, dan pisang.

Terkendala Seretnya pasokan Di Pasaran

menanam coklat
budidaya kopi coklat

Walau penanaman kakao terus meluas, produksinya belum cukup memasok kebutuhan industri. Harap maklum, pada saat bersamaan industri pengolah kakao juga tumbuh 30% per tahun.

PT Industri Cocoa Utama yang berinvestasi US$20-juta di bidang pengolahan, baru sanggup memproduksi 35.000 ton cocoa cake dan cocoa butter per tahun. Itu hanya untuk melayani permintaan satu importir di Denmark.

Perusahaan yang berdiri sejak 2 tahun silam di Kendari, Sulawesi Tenggara, itu belum sanggup memenuhi permintaan importir lain yang totalnya mencapai 28.000 ton per tahun.

Pantas bila kakao menjadi rebutan industri pengolah. PT Bumitangerang Mesindo, misalnya, sanggup menyerap kakao dalam jumlah tidak terbatas. “Kami siap menampung berapa pun pasokan biji kakao sesuai spesifikasi,” ujar Yeni Wati dari Bumitangerang.

Spesifikasi biji kakao yang dimaksud adalah berkadar air maksimal 7,5%, jumlah biji 90 per 100 gram, jumlah pengotor maksimal 4%, double bean sedikit, berwarna cokelat gelap, tak bercendawan, berserangga, atau berkecambah.

Pabriknya di Cibodas, Tangerang, kini mengolah 40 ton biji kakao kering setiap hari. Angka itu 2 kali lipat dibanding volume pengolahan ketika kali pertama berproduksi pada 2002, yaitu 20 ton/hari. Bahan baku diperoleh dari pekebun di Sulawesi Tengah, Bali, Kalimantan Barat, dan Papua.

Pabrik itu semakin merasakan kesulitan pasokan. Oleh karena itu, Bumi tangerang juga mengimpor bahan baku berupa biji kakao kering dari Ghana dan Papua Nugini.

Hingga saat ini Bumi tangerang memasarkan produk olahan setengah jadi seperti cocoa liquor, cocoa butter, cocoa cake, dan cocoa powder.

Karena pasokan bahan baku tersendat, Bumitangerang hanya mampu memenuhi separuh permintaan produsen makanan, kosmetik, dan obat-obatan di Belanda, Italia, dan Perancis. Hal serupa juga dialami oleh 13 industri kakao lain seperti PT Davomas Abadi, PT Maju Bersama, dan PT Kakao Mas Gemilang.

Seretnya pasokan menyebabkan mesin hanya beroperasi separuh dari kapasitas terpasang. Dari total kapasitas terpasang nasional 283.000 ton setahun, baru 50% digunakan untuk berproduksi. Padahal, harga komoditas kakao Indonesia menjadi tambang emas meraup devisa.1

Pada 2004 nilai ekspor cocoa liquor US$844,203, cocoa cake US$2.726.180, cocoa butter US$53.475.296, dan cocoa powder US$15.332.921. Setahun berselang nilainya meroket: cocoa liquor US$1.671.701, cocoa cake US$7.125.971, cocoa butter US$118.435.774, dan cocoa powder US$27.071.147

Kendala hama penggerek

budidaya coklat unggul
Biji coklat berkualitas

Seretnya pasokan bahan baku antara lain lantaran serangan hama penggerek buah kakao melanda hampir semua pertanaman di tanahair. budidaya coklat banyak terdapat di daerah Malang, Kediri, dan Banyuwangi luluh-lantak akibat ganyangan Conopomorpha cramerella, biang kerok penggerek buah2. Meski momok itu kini sudah dapat diatasi tapi produksi belum sebanding dengan kebutuhan.

Di sisi lain akibat minimnya teknologi pascapanen berdampak rendahnya mutu kakao. Misalnya kadar air biji mencapai 10% akibat penjemuran hanya 2 hari.

Itu artinya banyak kakao yang tidak masuk industri. Industri pengolah umumnya mensyaratkan kadar air biji hanya 4%. Wajar bila harga yang diterima pekebun akhirnya lebih rendah, hanya Rp7.500 sampai Rp8.000 per kg. Mutu dan harga komoditas kakao sebetulnya dapat ditingkatkan dengan fermentasi, sehingga ketika diekspor bebas dari cendawan dan serangga.

“Kakao paling bagus jika sudah difermentasi,” kata Aloysius Wayandanu dari PT Bumitangerang Mesindotama. Selain bebas serangga dan cendawan, kakao fermentasi beraroma wangi.

Harga jual per kilonya, Rp 1.500, lebih mahal ketimbang biji kakao kering. Namun, teknologi itu belum lazim di Indonesia. Padahal dengan kakao fermentasi, eksportir bisa menekan resiko kerugian akibat transportasi.

Biji busuk, bercendawan, dan menjadi sarang serangga setelah menempuh perjalanan 40 hari ke pelabuhan Philadelpia, Amerika Serikat kerap dialami para eksportir.

Akibatnya, harga diturunkan US$250 sampai US$300 setara Rp2.375.000 sampai 2.850.000 per ton dari harga dasar biji kakao. “Mutu jelek, menyebabkan kualitas hasil olahan jelek,” kata Bambang Eka Suwastika, direktur Tradezone Indonesia, eksportir kakao sejak 2003.

Tingginya bea masuk di negara importir juga menjadi hambatan pemasaran kakao. Contoh, tarif bea masuk Cina untuk cocoa butter olahan dari Indonesia 22%, sedangkan dari Malaysia 0%. Demikian tarif bea masuk Eropa untuk cocoa cake Indonesia 6,1%, asal Afrika 0%.

Menurut Sasongko, itu karena pemerintah Indonesia tak pernah melobi kedua importir utama kakao tersebut.

Harga komoditas kakao Tetap tinggi di pasaran

cara menanam pohon coklat dari biji
Biji coklat kering untuk kebutuhan industri

Seiring dengan meningkatnya konsumsi cokelat, pasar kakao ‘ tetap terbuka. Di Eropa, konsumsi cokelat rata-rata lebih dari 1,87 kg/ kapita/tahun.

Konsumsi tertinggi di Belgia: 5,34 kg/kapita/tahun, diikuti Eslandia, Irlandia, Luxemburg, dan Australia berkisar 4,05 sampai 4,88 kg/kapita/ tahun. Tingkat konsumsi cokelat per kapita masyarakat Eropa setiap tahunnya meningkat 3%.

Selama ini, Indonesia memasok 2,46% pasar kakao ke pasar Eropa. “Jika mutu kakao ditingkatkan, Eropa masih menerima berapa pun biji maupun olahan kakao, terutama cocoa butter” ujar Sasongko.

Selain itu, Malaysia Cocoa Board dan Asosiasi Cokelat Cina akan mengalihkan impor biji kakao ke Indonesia jika standar mutu ditingkatkan. Biji kakao Indonesia tanpa pestisida dan cokelat yang dihasilkan memilki titik leleh tinggi sehingga tak mudah lumer. Dengan kelebihan itu, kakao kita hanya perlu sedikit sentuhan untuk meraih pasar.

  1. “Promoting Sustainable Cocoa Production in Indonesia.” Millennium Challenge Corporation, https://www.mcc.gov/resources/doc/evalbrief-061220-idn-cocoa-production. Accessed 26 Feb. 2021.
  2. Niogret, Jerome, et al. “Development and Behavioral Ecology of Conopomorpha Cramerella (Lepidoptera: Gracillariidae).” Florida Entomologist, vol. 102, no. 2, June 2019, pp. 382–87. bioone.org, doi:10.1653/024.102.0214.

Pos terkait