Penanganan Arwana Yang Sekarat Terserang Bakteri

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Tengah malam di salah satu tepi Sungai Landak, Pontianak, Kalimantan Barat. Sunyi senyap menyelimuti rumah panggung berlantai papan. Mendadak, keheningan itu terkoyak oleh teriakan orang. “Terbalik… terbalik… ada ikan terbalik!”

Lima orang pekerja berhamburan dari kamar atas menuruni anak tangga, lalu dengan cekatan menanganinya. Semua kehebohan itu untuk menyelamatkan nyawa 3 ekor superred masing-masing seharga Rp50-juta yang sekarat di akurium berukuran 3 m x 3 m x 1 m.

Bacaan Lainnya

Rumah panggung itu berubah menjadi Emergency Room. Para karyawan Elkindo Farm langsung menyiapkan berbagai perlengkapan. Sebagian mendorong tabung oksigen. Lainnya mengambil selang, obat-obatan, dan akuarium baru.

“Kondisinya benar-benar parah. Padahal minggu depan akan dimasukkan ke kolam,” ujar Edo Tristanto, pemilik Elkindo Farm itu. Tanpa membuang waktu Edo bersama staf khusus segera memberi pertolongan.

Berikan Oksigen murni Dalam Aquarium

Kondisi arwana sepanjang 60 cm itu sangat mengkhawatirkan. Insang tidak bekerja normal. Matanya seakan melesak ke dalam. Warna sisik pun pudar. Diagnosis awal menunjukkan ikan kahyangan itu terserang bakteri.

Musibah itu jamak terjadi bila ikan menempuh perjalanan jauh seperti Jakarta ke Pontianak. Perubahan suhu disinyalir penyebab utama serangan. Kondisi itu akan semakin parah jika kualitas air ikut berubah. “Biasanya hanya 10 sampai 20% yang selamat, sisanya pasti mati,” tutur Edo.

Para “juru rawat” segera mendekatkan arwana ke dinding akuarium. Selang sepanjang 2 sampai 3 m seukuran bolpoin turut dimasukkan dalam akuarium. Selang itu tersambung tabung oksigen.

Dari sana 2 sampai 3 ppm oksigen murni dialirkan. Gelembung udara dari ujung selang itu kemudian diletakkan tepat di bawah insang arwana. “Pada saat terbalik insang kekurangan oksigen, sebab itu perlu dibantu oksigen murni,” kata Halim Setiadi, staf Elkindo Farm.

Oksigen murni terus diberikan hingga ikan terlihat normal. Hati-hati mengatur gelembung udara. Cukup kecil saja dan tidak terlalu kencang. Gelembung yang terlalu banyak malah mempersulit ikan bernapas. Efek lain pH air naik sehingga ikan stres.

Setelah pertolongan pertama dilakukan, ikan dimasukkan ke dalam akuarium khusus berukuran 1 m x 0,5 m x 0,4 m. Sebelum digunakan, kotak kaca itu dibasuh larutan Porstek dengan takaran penutup botol sirup agar steril.

Pembersih itu dapat diganti dengan larutan kalium permanganat (KMNOJ dosis 3 sampai 5 g/m3 air. Akuarium dibilas air hingga benar-benar bersih dan tidak berbau.

Air yang sudah diendapkan selama 1 malam lalu diisikan ke akuarium. Air perlu diendapkan agar pH, kesadahan, dan suhu sesuai kebutuhan siluk. Idealnya Scleropages formosus1 itu membutuhkan pH 6 sampai 6,5 dan suhu 28 sampai 30°C. Suhu terlalu tinggi, di atas 30°C, menyebabkan jumlah oksigen terlarut di air rendah. Agar suhu stabil biasanya dipakai heater atau pemanas.

Berikan Larutan Antibiotik Dalam Aquarium

ikan arwana
Campurkan larutan anti biotik ke dalam air aquarium

Sebelum superred sakit itu dicemplungkan, ketinggian air diatur minimal setinggi 15 sampai 20 cm dari dasar akuarium. “Kalau air terlalu banyak ikan bisa melayang,” ujar Halim. Untuk meningkatkan ketahanan tubuh, Halim menambahkan antibiotik ke dalam akuarium.

Ia mencampur Dumoksilin dosis 1.000 mg/m’ dengan Amoksilin sebanyak 1 mg/m3. Keduanya dilarutkan dalam akuarium. Untuk antibiotik tunggal dapat dipakai Metrodiasol dosis 1 g/100 liter air.

Selama masa penyembuhan, sebanyak 20 sampai 40% air diganti 3 hari sekali untuk membuang kotoran dan amonia terlarut. Pengecekan pH,1 suhu, dan kesadahan air tetap dipantau. “Kualitas air sesudah dan sebelum penggantian harus sesuai agar ikan tidak stres,” kata Edo.

Setiap kali mengganti air, antibiotik ditambahkan sesuai dosis awal. Pakan tidak perlu diberikan lantaran biasanya ikan akan menolak. “Arwana bisa bertahan hidup 2 sampai 3 bulan tanpa pakan,” kata Edo.

Keberhasilan pengobatan terlihat 2 sampai 3 hari kemudian. Mata tampak kembali normal, sisik merah terang, dan mampu berenang seperti sediakala. Saat itu pakan seperti cacing sutera dapat diberikan sedikit demi sedikit. Namun, bila 2 sampai 3 hari ikan tidak menunjukkan gejala sembuh, dalam 1 sampai 2 minggu ia akan mati.

Tindakan preventif dianjurkan untuk mencegah serangan bakteri. Sebelum ikan masuk ke akuarium atau kolam, ia perlu dikarantina terlebih dahulu. Air yang digunakan harus bersih, steril, dan telah disirkulasi.

Antibiotik seperti Oksitetra dosis 1 g/100 1 air dapat diberikan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu 20% air rutin diganti setiap hari.

Ikan yang akan dikirim ke luar kota, sebaiknya benar-benar sehat. Cirinya, sungut tidak bengkak dan sisik merah terang tidak berdiri. Mata juga tidak masuk ke dalam. Seminggu sebelum dikirim ikan dipuasakan supaya racun dari hasil metabolisme tidak terbawa.

Pergantian air bersih juga dilakukan. “Awalnya air diganti dengan 50% air baru, lalu turun menjadi 20%. Pada saat kirim semua air harus baru dan bersih,” tutur Halim. Bagaimanapun, pencegahan lebih baik daripada mengobati. Setidaknya, kekhawatiran akan kematian ikan lantaran terbalik tidak perlu dirisaukan.

  1. Bian, Chao, et al. “The Asian Arowana ( Scleropages Formosus ) Genome Provides New Insights into the Evolution of an Early Lineage of Teleosts.” Scientific Reports, vol. 6, no. 1, Apr. 2016, p. 24501. www.nature.com, doi:10.1038/srep24501.

Pos terkait