Peranan Kuda Dalam Dunia Agribisnis Dan Kehidupan Sehari-hari

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Berapa ekor kuda hidup di antara 250 juta warga Indonesia? Berdasarkan angka agregat di setiap kabupaten, jumlahnya tak lebih dari 400.000 ekor. Artinya, seekor kuda untuk 550 orang. Jelaslah, kuda bukan hewan populer dalam dunia agribisnis peternakan di Indonesia.

Meski demikian, kata kuda cukup populer dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada tokoh politik menonjol, misalnya, langsung disebut kuda hitam partai X, atau kuda tunggang kelompok anu.

Dalam dunia ekonomi, kehadirannya menonjol berkat sosialisasi Mitsubishi Kuda. Dari segi kultural, ada istilah kuda lumping, kuda kepang, kacamata kuda, pasang kuda-kuda, tenaga kuda, tahun kuda, dan makna-makna simbolis lain.

Yang kurang berkembang adalah peternakan kuda dalam arti sebenarnya. Satu-satunya kota yang banyak berhutang budi pada kuda adalah Mataram, di Nusa Tenggara Barat. Tak kurang 1.200 cidomo kereta kuda berseliweran di sana.

Tak heran jika terdapat program pemberdayaan ekonomi melalui kotoran kuda. Harga pupuk kotoran kuda di Mataram berkisar Rp3.000 sampai Rp5.000 per kantung berbobot 10 kg dengan kapasitas produksi mencapai 3 ton per minggu.

Meski bersimbol kuda, kota-kota seperti Kuningan, Jawa Barat, ternyata belum seramai itu. Populasi kuda di kabupaten Sumba Timur pun ternyata tidak sampai 26.000 ekor pada 2001. Termasuk di antaranya yang masih liar, dan membuat penyair Taufiq Ismail bersajak, “Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda /yang turun bergemuruh di bukit-bukit yang jauh.”

Sahabat manusia

Ternyata kuda hewan yang terbanyak dilukiskan di gua-gua purbakala. Hubungan manusia dengan kuda berlangsung sejak 13 milinea (12 ribuan tahun) terakhir. Sebuah lempengan tulang bergambar kepala kuda ditemukan di Inggris, 10.500 SM. Lempeng itu dipamerkan di Museum Kuda Internasional, Lexington, Kentucky, AS, hingga 24 Agustus 2003 nanti.

Amerika negara dengan jumlah kuda terbanyak di dunia. Menurut sensus 1999 jumlahnya 6,9 juta ekor, 15% di antaranya di negara bagian Texas. Tak heran banyak iklan-iklan tembakau yang divisualisasikan dengan derap kuda, lemparan laso cowboy, atau senja dengan anak-anak kuda berlarian bersama induknya. Di negeri itulah berkembang jenis terbaik, yaitu kuda arab mumi arabian purebreed. Belum lama ini dunia industri kuda merayakan lahirnya bayi kuda arab murni ke 600.000.

Pemuliaan kuda arab sebagai elit industri kuda dimulai sejak 1908. Kini situs Arabian Horse mampu menarik iklan besar lantaran menyerap 250.000 pengunjung setiap bulan. Selain itu, para penggemar kuda bisa berlangganan Arabian Horse Magazine dwibulanan yang beroplah 42.000 eksemplar setahun.

Mengapa kuda arab demikian populer? Reputasinya memang luar biasa hebat. Alexander Zulkamain, Jenghis Khan, Napoleon Bonaparte, dan George Washington gemar menunggang kuda arab. Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Dengan bantuan kuda itulah agama Islam berkembang ke berbagai belahan bumi. Sampai ada hadis yang berbunyi, “Setan pun tidak berani menjamah tenda yang menaungi seekor kuda arab.”

Cantiknya memang luar biasa. Harganya di pasaran US$3.000 (Rp24,75-juta, red), sampai US$50.000 (Rp412,5-juta, red) tergantung prestasinya. Tak hanya sebagai kuda pacu, tapi juga kuda tunggang, seperti yang rutin dikendarai Ratu Elizabeth asal Inggris.

Kandang kuda terbaik serta kuda-kuda paling terawat memang di Inggris. Walikota London pun mudah dikenali ke mana perginya, kalau ada kereta diparkir di muka bank atau perkantoran negara. Parade pasukan berkuda terindah, termewah, dan paling meriah juga dapat disaksikan di sana, minimal setahun sekali.

Kini, ongkos mengawinkan kuda arab unggulan bisa mencapai US$2.000 (Rp16,5-juta, red). Di Amerika, US$300 sampai US$500 (Rp2,5-juta sampai Rp4,125-juta, red) untuk kuda biasa. Honor pejantan stud fee ini memberikan penghasilan tersendiri. Seratus tahun lalu, rekor legendaris dicapai oleh seekor kuda bernama Dan Patch (1897 sampai 1916). Dari menjantani saja, ia menghasilkan US$17.000 (Rp140-juta, red) per tahun. Sedangkan untuk ekshibisi, ia mendapat honor US$21.500 (Rp177-juta, red) sekali tampil.

Andai kita saksikan iklan-iklan seabad lalu, pasti kita kenal Dan Patch sebagai selebriti. Produk-produk yang dibintanginya termasuk permen karet dan tembakau. Saking penting dan kayanya, dibuatkan kandang khusus dengan nama Taj Mahal. Bahkan, ia memiliki gerbong kereta api dan rute relnya sendiri. Hingga kematiannya pada 1 Juli 1916, ia memperkaya, induk semangnya, US$3-juta (Rp24,75-miliar. red).

kuda membajak ladang

Tahun 1915 adalah puncak kejayaan kuda di Amerika Serikat, dan mungkin di seluruh dunia. Jumlah kuda di negeri Paman Sam waktu itu mencatat rekor yang tak pernah tertandingi: 21 juta ekor! Tentu hal ini mudah dimengerti, sebab mobil belum merajai jalanan. Kuda sangat diperlukan baik untuk transportasi, industri, maupun di lahan-lahan pertanian.

Konon perkembangan kuda mulai merosot sejak zaman es berakhir 10.000 tahun silam. Bermacam jenis kuda di benua Asia dan Eropa berangsur-angsur surut. Catatan di Kabupaten Jembrana, Bali pada 1999 tercatat 279 ekor dipelihara di sana. Dua tahun berikutnya (2001) tinggal 263 ekor saja. Artinya, secara alami jumlah kuda menurun sedikitnya 8 ekor per tahun.

Bagaimana di kalangan keluarga Betawi? Sejak dokar atau delman dipopulerkan sebagai kendaraan wisata, penghasilan kusir bisa mencapai Rp 10.000 sampai Rp30.000 sehari. Seorang kusir dan pemilik delman di Pancoranmas, Depok, dalam dua tahun belakangan jumlah kudanya meningkat menjadi tiga ekor.

Namun, secara keseluruhan jumlah kuda dan delman menurun. Sebab, meskipun kudanya menjadi 3 ekor, dokarnya tetap satu, yakni warisan dari kakeknya sejak dua generasi yang lalu. Tak ada lagi produksi dokar baru.

Sarana transportasi adalah fungsi paling populer bagi kuda. Departemen Perindustrian mengeluarkan ketentuan untuk perdagangan daging kuda, keledai, dan bagal. Yang terakhir ini merupakan hasil kawin silang antara keledai dan kuda, dan memang cukup banyak diternakkan dan dikaryakan sebagai penghela dan kuda beban.

Sayang, budidaya kuda kurang berkembang. Nusa Tenggara Timur yang dikenal sebagai eksportir kuda sandel sejak 1840, hingga kini tak pernah menjual ke luar provinsi lebih dari 300 ekor per tahun.

Padahal, menurut Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), Indonesia memiliki banyak jenis kuda lokal dari Batak, Padang, Minahasa,Kuningan, dan sebagainya. Hanya harus diakui, kalau toh ada peternakan, skalanya kecil-kecil.

Kuda Diluar Negri

Di mancanegara cukup lama bermunculan Horse Industry Council, atau Dewan Industri Kuda. Pada Desember, Malaysia juga mengadakan seminar Nasional Industri Kuda. Latar belakangnya sangat sederhana, yakni banyaknya permintaan kuda pacu untuk kepentingan olahraga. Kebanyakan kuda-kuda itu diimpor dari Timur Tengah dan Australia.

Kanada, Amerika Serikat, Inggris dan Australia, terkenal ketat memelihara kesehatan dan mengasuransikan setiap kuda yang dipelihara. Berjangkitnya wabah penyakit kuku dan mulut, bahkan infeksi saluran pemapasan akut (SARS), sangat diwaspadai oleh pemerintah dan berbagai organisasi penyayang kuda.

Kecintaan pada kuda ini memperluas sayap industri ke bidang-bidang kesenian, khususnya lukisan, pahat, ukiran, serta sinematografi. Sebagai contoh, pameran All the Queen ’s Horses dari ratu Inggris yang beredar ke berbagai kota besar dunia, menunjukkan 450 artefak dan 58 lukisan mahal tentang kuda. Untuk menikmati pameran keliling ini, setiap pengunjung dewasa dikenakan tiket US$20 (Rp165.000, red), dan anak sekolah US$13 (Rp 107.250, red).

Namun, sekali lagi, hal itu menunjukkan bahwa populasi kuda dunia juga sedang menurun. Semakin berkurang jumlah kuda, maka semakin tinggi penghargaan manusia kepadanya. Dalam pameran itu digelar juga replika fiber glas yang melukiskan kuburan kuda pada awal abad Masehi.

Jangan pernah lupa, kuda memiliki peran integral dalam sejarah peradaban di Inggris. Sejak penjajahan oleh Viking dan Romawi, para pejuang Celtic pada 55 SM telah belajar memberontak bersama kuda-kuda mereka.

Sayang, memasuki abad ke-20, zaman keemasan bagi kuda seolah berakhir, atau belum datang. Mekanisasi dunia pertanian mengurangi peran kuda sebagai penarik bajak pengolah tanah, pengangkut hasil panen, maupun pemroses makanan.

Demikian juga laju perkembangan teknologi transportasi. Kota-kota besar dunia kini hanya memasang kuda untuk kereta wisata dan tunggangan di taman untuk polisi. Padahal, pada abad ke-12, kota Stuttgart di Jerman pun berasal dari sebuah kandang kuda.

Kuda Di Tanah Air

kuda delman

Begitu juga berbagai tempat di Jawa seperti Kuburankuda di Cirebon dan Parungkuda di Sukabumi. Saya sendiri dibesarkan di dukuh Guyangan, sebelah barat kota Malang, Jawa Timur, tempat puluhan kuda dimandikan pada pagi dan sore hari. Pada awal 1960-an masih sering tercium bau kotoran kuda dibakar untuk mengusir nyamuk pada malam hari dan ringkik kuda di musim kawin. Namun kini, hanya tinggal satu dua orang pemilik dokar dengan beberapa kuda yang tak berdaya.

Dulu lapangan Brimob di Jl. Pahlawan Trip, Malang, adalah arena pacuan kuda yang cukup membanggakan. Di sana pula sewaktu kecil saya menjadi suporter kuda-balap Mbah Lurah, yaitu si Mendung, yang selama hidupnya mengumpulkan lebih dari 20 trofi.

Sekarang lapangan itu jadi real-estate, balap kuda menjadi olahraga yang super mahal dan tidak lagi diikuti oleh keluarga-keluarga petani. Jadi, masuk akal kalau ditumbuhkembangkan mimpi, zaman keemasan kuda masih ditunggu. Bagaimana pun, kejayaan kuda dalam bentuk peternakan, kegiatan agribisnis, olahraga, maupun sekadar aksesori transportasi, masih menunjukkan kuatnya agrikultur sebuah bangsa.

Kalau kita melihat parade kavaleri di istana ratu Inggris, atau berjalan-jalan di Central Park New York, tanda-tanda kebesaran kuda masih terasa. Begitu juga bila kita menyaksikan betapa anak-anak kecil di atas pelana, berpacu melawan debu dan angin di padang gurun Mongolia, bulan-bulan ini; kita masih yakin kuda adalah sahabat dekat manusia. Maju mundur, sakit atau kesehatannya tergantung pada kepandaian kita mengurusi kemakmuran alam semesta. *) * ***